ADIK KELAS
Yumna berjalan di koridor sendirian, sebelum tiba tiba Sera datang mengejutkannya.
"Heyyo sister!" Teriak Sera begitu semangat pagi ini. Padahal hari ini hari senin.
"Sera suara lo. Toa sekolah mah kalah!" Ucap Yumna sambil geleng geleng kepala.
"Bisa aja lo muji gue. Kan jadi malu gue kalo di puji gitu." Sera tersenyum sok malu malu, membuat Yumna merinding.
"Sehat lo Ser? Tumben banget hari senin gini senyuman lo ngalahin matahari pagi. Biasanya kalo ada jadwal apel kaya gini nih, lo udah misuh misuh dari pagi." Ucap Yumna.
"Aduh Yumna sayang lo tuh gak pengertian banget sih! Harusnya lo tanya 'Sera kenapa lo kliatan seneng banget hari ini?' Gitu! Bukan malah nanya gue sehat atau nggak! Kalo gue sekolah ya artinya gue sehat wal Afiat lah!" Pekik Sera berapi- api.
"Ya siapa tau kan lo sakit jiwa." Ucap Yumna yang membuat Sera melotot tajam.
"Tapi lo kenapa dah Ser? Kek seneng banget. Kenapa?" Akhirnya Yumna bertanya serius. Mendengar pertanyaan Yumna itu membuat Sera mengembangkan senyum cerah yang membuat semua orang silau.
"Rangga nembak gue Yum!" Pekik Sera heboh membuat Yumna melirik kiri kanan, beberapa pasang mata menatap mereka aneh.
"Serius lo? Rangga temennya Vano kan?" Tanya Yumna membuat Sera mengangguk cepat.
"Cieeee yang udah lepas ke-jonesan!" Ucap Yumna tak kalah heboh. Ia tentu ikut senang karna akhirnya sahabatnya ini sudah memiliki pacar. Pacar pertama lagi.
"Uuu Yumna Chayang! Makaciii!" Sera hendak memeluk Yumna, namun dengan cepat Yumna menahannya.
"Bahasa lo alay banget." Cerca Yumna namun Sera tak peduli.
"Tapi baik- baik ya lo pacaran. Jangan kemakan gombalan." Nasehat Yumna.
"Siyap!!!"
.
.
.
"Sumpah kenapa panas banget sih!" Sera tidak bisa berbaris dengan tenang di depannya. Sahabatnya itu sedari tadi hanya misuh misuh tidak jelas. Hal yang sudah biasa Yumna lihat jika sedang upacara.
"Kalo mau dingin, sana ke Antartika." Balas Yumna.
"Kalo lo yang bayarin tiket ke sana sama jaminin rumah kenapa nggak?" Balas Sera.
Beberapa menit kemudian, akhirnya upacara selesai. Para siswa siswi berjalan berpencar, ada yang langsung ke kelas, ada yang ke kantin dan entah kemana. Karna murid di berikan waktu istirahat setelah upacara walau tidak begitu lama.
"Hai." Langkah Sera dan Yumna terhenti karna seseorang tiba tiba menghadang mereka di depan. Yumna mengenal laki laki ini, laki laki yang sudah official dengan sahabatnya.
"Hai." Balas Sera tak kalah manis pada Rangga.
"Mau ke kantin bentar?" Tanya Rangga yang membuat Sera tanpa berpikir panjang mengangguk.
"Yum. Gue pinjem Sera bentar kaga pa- pa kan?" Tanya Rangga yang membuat Yumna mengangguk.
"Yaudah sono. Asal jangan macem macem aja." Peringat Yumna.
Setelah itu Sera dan Rangga pergi menuju kantin beriringan.
'Dasar pengantin baru'
Yumna kemudian melanjutkan langkahnya. Namun lagi lagi terhenti karna seseorang menghadangnya.
"Yum." Vano tersenyum padanya. Yumna menatap laki laki di depannya dengan datar. Masih sangat jelas di pikirannya apa yang sudah Vano lakukan pada Albi. Jika mengingat itu entah kenapa Yumna jadi kesal sendiri.
"Kenapa?" Tanya Yumna datar.
"Gue mau ngomong. Boleh?"
Ingin rasanya Yumna menolak. Namun Vano sangat baik padanya. Laki laki itu yang menghiburnya saat ia bermasalah dengan Mami nya dulu. Akhirnya Yumna mengangguk.
"Gue minta maaf. Gue bener bener nyesel udah bikin Albi kesasar waktu itu. Gue gak bermaksud." Ucap Vano.
"Lo jangan minta maaf ke gue. Bukan gue yang jadi korban disini, tapi Albi." Balas Yumna.
"Gue tau. Tapi lo juga keliatan marah banget waktu itu. Lo mau kan maafin gue?" Vano terlihat bersungguh sungguh.
Yumna mengangguk meski ragu. "Tapi lo juga mesti minta maaf ke Albi. Dan jangan ulangin lagi."
Vano mengangguk dan tersenyum, seolah beban di pundaknya terangkat.
"Mudah banget ya kak Yumna maafin orang yang hampir bikin Albi celaka." Nara entah datang dari mana dengan ekspresi kesal.
Yumna menoleh dan menatap Nara bingung. "Maksud lo?"
"Kak Yumna gak inget kalo kak Vano ini yang hampir bikin Albi hilang! Kenapa kak Yumna mau mau nya aja maafin dia?! Kak Vano bukan orang baik!"
"Mulut lo!" Vano membentak Nara, membuat gadis itu langsung terdiam.
"Udah Van. Mending lo balik ke kelas deh." Yumna mencoba menenangkan Vano agar tak tersulut emosi.
"Oh apa jangan jangan. Kak Yumna juga terlibat dalam masalah ini? Apa kak Yumna sekongkol sama kak Vano buat bikin Albi kesasar di hutan, iya?"
Vano dan Yumna yang hendak pergi berbalik badan. Vano terlihat sangat kesal namun dia mati mati an menahan emosinya.
"Lo ngomong apa sih?" Yumna berjalan mendekat ke arah Nara. Seolah tak takut, Nara malah mengangkat dagunya- menantang.
"Kak Yumna itu emang gak pantes sama Albi. Harusnya kak Yumna itu gausah tunangan sama Albi!!!" Teriak Nara.
"Yumna tunangan sama adek kelas itu?"
"Wah anjir gak nyangka ternyata mereka tunangan."
"Albi? Yang pernah Yumna usilin bukan sih?"
"Kok bisa?"
"Anjir tunangan?"
Bisik bisik dari murid murid yang menonton mulai terdengar. Banyak yang tak menyangka jika Yumna dan Albi ternyata bertunangan. Karna setahu mereka, Albi pernah menjadi korban buly dimana Yumna sendiri menjadi dalangnya.
"Nara, lo dateng datang trus marah gak jelas. Pake ungkit ungkit hubungan gue sama Albi. Mau lo apa sih?" Yumna mengapalkan tangannya. Rahasia yang ia jaga sekarang terbongkar begitu saja. Dan pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Nara, cewek tengil yang selalu memancing emosi jiwa dan raga.
"Aku bakal kasi tau bunda kalo kak Yumna yang punya rencana jahat itu! Biar bunda tau kak Yumna itu kayak apa!" Pekik Nara.
"Gausah fitnah deh lo!" Yumna hilang kesabaran.
"Woi! Kurang ajar banget lo jadi adek kelas! Baru aja kelas 10 udah kurang ajar gini!" Bentar Vano.
"Kalian berdua itu emang cocok banget ya. Kalian tuh paket komplit. Kenapa kak Yumna gak tunangan sama kak Vano aja sih?! Kalian berdua sama sama kasar!"
Yumna menampar Nara dengan kencang, sampai sampai wajah gadis itu tertoleh ke samping. Setitik demi setitik air mata gadis itu jatuh. Nara menatap Yumna tak menyangka. Sambil mengusap air matanya, Nara kemudian berlari pergi.
"Mampus gue." Gumam Yumna. Yumna hendak berlari mengejar Nara, namun Vano menahannya dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Van lepas!" Yumna mencoba melepaskan diri.
"Lo mau kemana?! Mau kejer tuh adek kelas kurang ajar?!"
Yumna kemudian diam, berhenti berontak. Ia menatap Vano yang sedang menatapnya dengan lekat.
"Lo berhak marah, Yum. Jangan selalu mengalah." Ucap Vano.
To be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Kelas
Teen Fiction[Romance & Teen Fiction] Yumna Putri Kencana, gadis cantik yang memiliki segudang cara menggait laki laki agar tertarik padanya. Fuckgirl, itu adalah julukannya, karna tak jarang ia bergonta ganti pacar. Namun semuanya berubah saat seorang laki laki...
