ADIK KELAS | PART 23

859 55 7
                                        

ADIK KELAS


"Periksa barang bawaan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam bus." Pak Zainul memberikan arahan kepada semua murid sebelum berangkat camping.

Total siswa dan siswi yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini berjumlah 60 orang. Terdiri dari 20 kelas sepuluh, 20 kelas sebelas, 20 kelas 12. Banyak sekali siswa dan siswi yang tidak ikut. Mereka lebih memilih menghabiskan malam minggu mereka di rumah atau keluar dengan kenalan, daripada harus pergi ke hutan.

Yumna selesai memeriksa barang bawaannya. Tidak banyak, ia hanya membawa 1 baju ganti dan selimut. Tenda dan juga tikar tentunya.

"Udah Yum? Yuk berangkat." Yumna dan Sera kemudian masuk ke dalam bus yang sudah di siapkan untuk kelas 12. Mereka duduk bersebelahan, dengan Vano yang ada di bangku belakang.

"Ser. Tuker tempat yuk." Ajak Vano yang di tolak mentah mentah oleh Sera.

"Enak aja. Buta mata lo? Liat kursi masih banyak yg kosong!"

"Bukan masalah banyak atau kaga nya Ser. Kan gua minta tuker!"

"Lo duduk aja apa susahnya sih?! Seneng banget recokin ketenangan orang!"

"Gua mah biasa! Mulut lo tuh gabisa di saring! Mau gua saringin?!"

"Apa lo bilang?! Mulut lo ya! Mau gua telenin nih tenda ke mulut lo?!!" Nyolot Sera.

"Kalian!!! Jangan mengganggu ketenangan!!!" Pak Zainul tiba tiba datang, membuat Sera dan Vano langsung terdiam.

"Kamu Vano! Debat kok sama perempuan!"

"Kamu juga Sera! Laki laki kok di lawan!"

"Maaf pak." Ucap Vano dan Sera bersamaan.

Yumna menggeleng gelengkan kepala tak habis pikir. Ia kemudian menyandarkan kepala di jendela bus, menatap ke arah bus lain. Pandangan Yumna menangkap Albi dan Nara di bus kelas 10. Ternyata mereka juga ikut? Tentu saja, mereka kan sahabat.

Tak lama setelah itu, bus pun membelah jalanan menuju hutan.

.

.

.

"Gila gila gila! Rindang banget. Kalo malem udah pasti serem!"

"Merinding disko anjir."

"Eh gausah ngomong kasar. Ini hutan!"

"Awas kualat lo."

Seperti itulah kira kira protesan para siswa siswi yang sejak tadi tidak berhenti mengoceh.

Rombongan mereka berhenti, lalu meletakan barang bawaan dan bersiap siap membangun tenda.

"Hai kak Yumna!"

Nara tersenyum secerah matahari dengan Albi yang berada di sampingnya. Laki laki itu menatap ke arah lain, seolah tak tertarik untuk menatap Yumna.

"Kenapa lo?!" Jawab Sera kesal.

"Aku pikir kak Yumna nggak ikut. Tapi ternyata ikut ya." Ucap gadis itu seolah tak peduli dengan kekesalan Sera.

"Ya ikut lah! Buta mata lo?!" Balas Sera.

"Albi gak papa ikut? Udah izin ke bunda belum?" Yumna berniat mengajak laki laki itu untuk bicara, namun nihil, laki laki hanya diam tanpa mau menatapnya.

"Gapapa kok kak. Bunda Dahlia udah titip Albi ke aku." Jawab Nara.

"Lo mulu yang jawab kunti!" Ucap Sera.

"Kak Sera jangan marah marah mulu dong. Nanti kesurupan."

"Apa lo bilang?!!"

"Kak Yumna. Kalo gitu kita pergi dulu ya. Dahh." Nara menarik pergi Albi dari hadapannya. Ada apa dengan Albi? Kenapa ia begitu berbeda?

Yumna menghela napas panjang. Biarkanlah, ia akan mencoba untuk tidak peduli.

.

.

.

Albi diam diam mencuri pandang kearah Yumna. Berkali kali ia menghela napas kasar, ia ingin sekali bertegur sapa dengan Yumna. Namun ego nya terlalu besar, sehingga mungkin untuk saat ini ia harus memendam keinginannya.

"Baik anak anak. Untuk acara api unggun nanti malam. Kita tentu nya membutuhkan yang namanya kayu bakar. Berhubung kita gapunya persediaannya, maka dari itu kalian yang harus mengumpulkannya sendiri." Ucap buk Fatin berdiri di depan.

"Kok kita si buk? Ah males banget."

"Gaberani ke dalem hutan buk."

"Saya maunya rebahan aja buk."

"Tenang tenang! Hutan ini adalah hutan yang aman. Saya jamin kalian tidak akan menemukan binatang buas." Ucap bu Fatin.

"Ya bukan binatang buas buk. Tapi kalo ketemu penunggu nya gimana?" Ucap seorang siswa yang membuat semua orang menjadi gaduh.

Buk Fatin memijat pelipisnya. "Karna itu kalian pergi berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Bebas memilih siapa saja, silahkan."

Seketika semua orang kembali ricuh karna mencari teman sekelompok. Albi bingung, ia harus sekelompok bersama siapa selain Nara.

"Albi aku udah ada kelompok nih. Masuk yuk." Ajak Nara dan di setujui oleh Albi.

Baru saja Albi dan Nara akan menuju ke kelompok mereka, tiba tiba kakak kelas menghadangnya. Albi terdiam. Ia kenal salah satu dari mereka, Vano.

"Albi sama kita. Lo sama temen cewek lo aja sono." Ucap Vano.

"Gabisa. Albi udah-"

"Alah bacot. Trobos aja lah." Ucap Feri.

Vano lalu merangkul Albi layaknya teman. Albi tentu saja menolak, namun acaman Feri membuat nya kembali diam. Mereka kemudian masuk ke dalam
hutan.

"Nah pokoknya harus adil. Semua harus bawa kayu masing masing. Kita mencar dulu buat cari kayu. Nanti kalo udah dapet banyak, kita kumpul di sini oke." Ucap Vano.

"Siyap pak boss. Yuk mencar."

Satu persatu dari mereka berpencar mencari kayu bakar. Karna tak enak hati hanya berdiam diri, Albi kemudian berjalan mencari ranting ranting kering dan memungutnya.

Setelah ia merasa cukup, ia kemudian kembali ke tempat mereka berjanji untuk berkumpul. Albi menatap sekeliling, sepi. Apakah kakak kelasnya belum ada yang kembali? Padahal Albi sudah cukup lama mencari ranting.

Albi duduk di akar pohon yang mencuat. Ia mencoba berpikir positif dan menunggu kakak kelasnya hingga kembali. Hatinya sudah resah, namun ia tetap mencoba berpikir baik.

Satu jam

Dua jam

Tiga jam

Albi tetap menunggu. Langit sudah berubah jingga, menandakan sore telah tiba. Sudah tiga jam ia menunggu, namun tidak ada satupun dari kelompoknya yang hadir. Apa mereka meninggalkannya?

Albi kemudian berdiri. Nafasnya tak beraturan karna panik. Ia berlari ke area tenda mereka di dirikan dengan mengikuti tanda panah yang sengaja di pasang.

Albi berlari sekencang mungkin, berharap agar cepat sampai. Saking paniknya, ranting ranting yang ia kumpulkan berjam berjam ia tinggalkan begitu saja.

Albi berhenti sejenak, mengatur nafasnya agar kembali normal. Apakah perasaannya saja, saat ia datang bersama kelompoknya, ia merasa jarak yang ditempuh tidak begitu jauh. Lalu kenapa sekarang terasa sejauh ini.

Albi mengedarkan pandangan ke segala arah. Di sekelilingnya hanya ada pohon pohon besar. Albi ingat jika ia tidak melewati jalan ini saat datang. Nafas Albi kembali tak beraturan.

"Kak Vano!"

"Kak Yumna!"

"Rara!"

"Bima!"

"Siapa aja tolong!!!"

Albi kembali berlari sambil berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang yang mendengarnya. Albi takut, ini sudah sore dan ia bahkan belum keluar dari hutan yang begitu sepi ini.

Albi tersandung akar pohon hingga membuatnya terjatuh tengkurap. Pipi nya sedikit tergores oleh kayu, membuatnya terluka.

"Kak Yumna. Tolong."

To be Continue

Adik KelasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang