Adik Kelas
"Baby Yumna! Kemaren lo tuh kemana sih?! Pergi kok nggak ngasih tau gue?!" Sera langsung menyemprot Yumna dengan berbagai pertanyaan. Padahal Yumna baru saja memasuki kelas dan langsung di sambut oleh pertanyaan yang mengalahkan wartawan.
"Ada urusan. Sory ya gue nggak kasi tau." Bohong Yumna. Sebenarnya setelah kejadian kemarin pagi di sekolah, Yumna bahkan tak kembali ke kelasnnya. Ia bersembunyi di rooftop agar tidak ada orang yang melihatnya.
"Kata kepala sekolah, lo di jemput tante Ranti ya? Emang kalian kemarin kemana sampe lo lupa bawa tas segala?" Sera bingung.
"Kepsek dateng ke kelas?" Sera mengangguk.
"Gue alpa nggak?"
"Ya kaga lah dodol! Kan tante Ranti udah izinin lo ke kepsek kalo lo mau pergi!"
Yumna mengangguk angguk mengerti. Berarti kemarin ia tidak mendapat alpa di absen. Dan bagusnya lagi tidak ada yang tau jika ia berada di rooftop sampe jam pulang sekolah, kecuali Alvano.
"Jawab gue. Lo kemarin kemana?" Sera tidak menyerah dengan pertanyaannya.
"Shopping. Abisin duit lah." Jawaban Yumna membuat Sera mencebikkan bibir tak percaya. Namun daripada terus berdebat seperti ini, Sera lebih memilih mengalah.
"Tapi gue denger juga kemaren lo bermasalah sama adek kelas ya?" Pertanyaan Sera membuat Yumna tak jadi membuka resleting tas nya.
Yumna menoleh dan menyerngit. "Siapa yang bilang gitu?"
"Acak aja si. Soalnya kemaren di kantin banyak yang ngebahas lo. Cerita kalo Mami lo ngeliat lo yang lagi rusuhin adek kelas. Bner kaga si?"
Dengan menghela napas kasar, Yumna lalu mengangguk mengiyakan.
"Sumpah woy demi apa? Trus gimana tuh? Lo di tindak lanjut sama sekolah?" Yumna menggeleng.
"Bukan pihak sekolah. Tapi Mami. Bahkan gegara itu sampe sekarang Mami masih cuekin gue. Padahal bukan gue yang salah." Jawab Yumna.
"Iihh anjir makanya ceritain dong kronologinya gimana?"
"Yah panjang deh pokoknya. Cuma ye anjir gue kesel sama tuh adek kelas. Dia dulu yang mancing mancing gue. Lo tau sendiri kan gue paling gabisa di pancing." Yumna bercerita dengan wajah kesal.
"Adek kelas yang mana si anjir?" Sera penasaran.
"Namanya Nara. Yang ngaku sahabatnya Albi. Yang pernah ngadang kita di kantin." Yumna terlihat tak berselera saat membahas soal Nara.
"Oh yang itu!!!" Sera menggebrak meja histeris membuat beberapa pasang mata tertuju padanya.
"Sante dong anjir." Peringat Yumna.
"Gue udah duga si tuh cewek gabaik. Dari tampang belagu begitu pengen gue batu bata in."
"Ya tapi sayangnya lo gabisa. Dia itu tetangga gue sekaligus anak dari temennya Mami gue." Yumna mendengus.
"What?! Kok bisa?!"
"Ya bisalah."
"Permisi." Beberapa pasang mata lalu terpokus ke arah pintu termasuk Yumna dan Sera. Di daun pintu Nara berdiri dengan senyum merekah sambil membawa sesuatu di dekapannya.
Terlihat ketua kelas menghampirinya dan berbicara singkat, setelah itu dia melangkah masuk dengan sedikit terpincang. Tatapan Yumna turun melihat lutut Nara yang disana terdapat dua perban di masing masing lutut. Ia tidak menyangka akan melukai gadis itu sebegitu parah, atau Nara hanya berpura pura saja? Siapa yang tau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Kelas
Novela Juvenil[Romance & Teen Fiction] Yumna Putri Kencana, gadis cantik yang memiliki segudang cara menggait laki laki agar tertarik padanya. Fuckgirl, itu adalah julukannya, karna tak jarang ia bergonta ganti pacar. Namun semuanya berubah saat seorang laki laki...
