II

91 27 4
                                    

"Bukan aku pelakunya," seru Rachel untuk yang kesekian kalinya.

Nyonya Bexley tetap berusaha menenangkan putrinya sementara tuan Bexley tampak terlihat berdiri menghadap jendela ruangan dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.

"Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tidak ada kaitannya dengan kematian Tami," ujar Rachel. "Bu Cecil selalu saja menekanku untuk mengakui perbuatan yang padahal sama sekali tidak aku lakukan."

"Tidak apa, Rachel. Jangan takut, mama tau kau bukan anak yang seperti itu," ujar nyonya Bexley yang mencoba menenangkan putrinya.

"Lalu kenapa aku tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruang kelas?"

Belum sempat Cecil menjawab pertanyaan muridnya, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Pintu yang terbuka memperlihatkan Felix, Emily, dan dua orang personil polisi yang berada diambang pintu. Emily terdiam sejenak memandang kepala sekolah yang sudah berganti.

"Perkenalkan, aku Emily Dawson, ini asistenku Felix Bardolf, dan ini dua kepolisian dari Corolado," ujar Emily.

"Aku Cecil, kepala sekolah di sekolah ini."

Emily pun juga tidak luput memperkenalkan dirinya pada tuan dan nyonya Bexley. Pandangan wanita itu terhenti ketika melihat seorang anak perempuan manis dengan rambut berwarna coklat gelap. 

"Hi, siapa namamu?" sapa Emily tersenyum.

Rachel sendiri hanya menatap datar wajah Emily tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya.

"Dia Rachel, salah satu murid di sekolah ini," tutur Cecil.

"Jadi—"

Cecil mengangguk.

Emily yang mengetahui gerakan tubuh Cecil langsung memahami bahwa kejadian yang menimpa sekolah Steele berkaitan dengan murid tersebut. Kemudian, Emily meminta mereka untuk bisa meninggalkannya agar dia dan Rachel dapat berbicara secara empat mata. Hal tersebut tentu membuat nyonya Bexley merasa ragu untuk meninggalkan Rachel namun pada akhirnya, dia menuruti permintaan itu atas suruhan dari suaminya.

Suasana ruangan yang hening membuat mereka berdua saling menatap dalam diam. Sebelum Emily melontarkan ucapan padanya, ternyata Rachel lebih dulu melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Emily tersenyum kecil.

"Jadi, kau yang disuruh bu Cecil untuk bertemu denganku?" tanya Rachel.

Emily mengangguk, "Apa itu membuatmu takut?"

"Tentu tidak," jawabnya santai.

"Lalu? Mengapa kau bertanya seperti itu?" balas Emily.

"Aku hanya merasa tidak senang karena mereka menahanku di sini dan berpikir bahwa aku adalah pelakunya," tutur Rachel.

"Mereka siapa?" tanya Emily tenang.

"Mereka. Orang-orang yang tidak menyukai keberadaanku di sini," jawab Rachel secara spontan.

"Memang, apa yang mereka lakukan padamu hingga akhirnya mereka menuduhmu sebagai orang yang telah membunuh Tami?" tanya Emily kembali.

Rachel terdiam menatap Emily. Dia segera mengatup bibirnya ke dalam dan tampak enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Apa mereka melakukan tindakan kasar kepadamu?"

"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Rachel sembari memicingkan kedua matanya.

"Jangan khawatirkan hal itu," seru Emily.

"Kali terakhir kau mempercayai seseorang namun kau sendiri terkena imbasnya, bagaimana jika kini hal itu terjadi padaku dan aku terkena imbasnya?"

[Completed] TSS [6]: The Secret of RachelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang