XVI

51 23 3
                                    

Rachel sudah kembali ke rumah kedua orangtuanya yang megah setelah dijemput oleh ayah dan ibu Rachel. Dia juga mendapatkan sambutan ramah oleh asisten rumah tangga serta adik kandungnya. Sambutan itu sendiri didekorasi dengan ucapan selamat datang, ornamen-ornamen balon berwarna merah muda serta beberapa boneka beruang, dan mainan khas anak perempuan lainnya.

Mereka yang berekspektasi bahwa Rachel akan merasa senang ketika mendapatkan kejutan tersebut, nampaknya hanya tersimpan di dalam harapan mereka karena pada kenyataannya, Rachel sama sekali tidak tertarik dengan hal itu dan lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua seolah sedang tidak terjadi apa-apa. 

Megan selaku asisten rumah tangga di keluarga itu merasa heran dan memberanikan diri untuk bertanya kepada nyonya Bexley. Sementara nyonya Bexley sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi pada anaknya.

"Lalu, bagaimana dengan hasil pemeriksaan itu, nyonya?" tanya Megan.

"Hasilnya normal." Nyonya Bexley mengambil Bennet Junior dari tangan Megan. "Tidak ada hal yang buruk di dalam tubuh Rachel."

"Aku khawatir akan dirinya," seru Megan.

"Bisakah kau membuatkan minuman untuk tuan Bexley?" Nyonya Bexley mengalihkan pembicaraan. "Aku akan menjaga Bennet di kamarnya."

"Baik nyonya," balas Megan.

🔱🔱🔱

Mia yang sudah lebih dulu tiba di kediamannya daripada Emily, mendapati rumahnya dalam situasi yang sama. Sepi layaknya tak berpenghuni. Bagaimana tidak, selepas keduanya bekerja dan makan malam bersama, mereka akan masuk kembali ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.

Bisa dikatakan, Mia dan Emily hanya berkomunikasi di meja makan saja. Itu pun tidak selamanya mereka bisa. Terkadang, baik Mia maupun Emily masih harus membawa pekerjaan mereka ke rumah untuk segera bisa diselesaikan.

Mia jadi teringat akan kehadiran mendiang Daniel dan Dalton ketika keduanya sempat tinggal di rumah Mia setelah kejadian buruk menimpa keduanya. Memang, keadaan rumah pada saat itu langsung tampak ramai seolah terdapat sepasang suami-istri dengan kedua anak yang sedang hidup bahagia. Meski sempat mendapat larangan dari adik kandung Mia, tetapi Mia sendiri tetap menerima mereka sampai pada akhirnya Dalton dibawa oleh keluarga mendiang istri kedua Daniel untuk dirawat. Semenjak saat itu, Mia tidak pernah lagi mendengar kabar dan keberadaan Dalton hingga di waktu sekarang.

"Ah, kenapa aku harus berpikir mengenai anak itu?" ungkapnya.

Suara deru mesin mobil yang datang mendekat terdengar hingga sampai ke telinga Mia. Dengan segera wanita itu membuka pintu rumah dan mendapati Emily berjalan menghampiri Mia sembari membawa makan malam mereka yang lagi-lagi itu adalah makanan cepat saji.

"Ada apa, ma?" tanya Emily heran ketika melihat Mia membuka pintu untuknya.

"Tidak ada. Hanya ingin menyambutmu saja," jawab Mia.

Emily tertawa kecil sembari masuk ke dalam rumah, "Tidak biasanya."

Keduanya berjalan menuju ruang makan untuk menghabiskan sebagian waktu mereka sebelum akhirnya beristirahat di kamar masing-masing. Suasana rumah yang sunyi membuat Mia memecahkan keheningan dengan bertanya seputar Dalton pada Emily.

"Apa kau bertemu dengan Dalton?" tanya Emily.

"Tidak. Justru itu aku bertanya padamu. Apa kau tidak merasa merindukannya?" balas Mia.

"Untuk apa? Dia bukan adik kandungku," ungkapnya.

"Akan tetapi, dia adalah anak papamu juga."

"Dan itu tidak ada hubungannya denganku, ma." Emily menarik kursi ruang makannya. "Mengingat kejadian itu, aku merasa seperti orang bodoh karena pernah mempercayai Catherine." Emily menatap ibunya. "Lagi pula, Dalton sudah pasti merasa bahagia hidup bersama keluarga Cathrine." 

[Completed] TSS [6]: The Secret of RachelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang