VIII

74 25 2
                                    

Setelah mendengar penjelasan Emily, Felix langsung berusaha menghubungi nyonya Bexley agar mereka bisa dipertemukan dengan Rachel sore ini di kafe. Nyonya Bexley sendiri setuju. Dia akan mengantarkan anaknya untuk bertemu dengan mereka setelah nyonya Bexley menjemput Rachel nantinya. 

"Baik, nyonya, sampai nanti," ucap Felix yang tidak lama kemudian segera mematikan teleponnya.

"Nyonya Bexley setuju," kata Felix pada Emily.

"Baiklah, kita tunggu sore ini di kafe itu," tutur Emily.

"Jika memang Rachel terbukti tidak memiliki kaitannya dengan kematian Tami, apa kau bisa langsung menetapkan nyonya Brown sebagai tersangka?" tanya Felix.

Emily menatap lawan bicaranya, "Kau sudah tau jawabannya."

Felix terdiam mendengar perkataan tersebut. Dia merasa heran akan jawaban Emily. Terkadang, pemikiran semua wanita sangat rumit baginya. Padahal, jawaban dari kasus itu sudah berada di depan mata mereka, namun Emily memilih untuk dipertemukan dengan Rachel hanya karena dia ingin memastikan lebih jauh bahwa Rachel bukanlah pelakunya.

🔱🔱🔱

Waktu yang ditunggu telah tiba. Felix dan Emily sudah lebih dulu menunggu di kafe yang telah dijanjikan oleh nyonya Bexley. Sementara nyonya Bexley sendiri sedang dalam perjalanan menjemput Rachel. Setelah tiba di sekolah tempat Rachel berada, Rachel pun segera masuk ke dalam mobil ibu kandungnya. 

"Kenapa kita tidak langsung pulang ke rumah saja?" tanya Rachel secara tiba-tiba.

Nyonya Bexley sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Kemudian, dia menjawab bahwa ada seorang temannya yang ingin bertemu dengan mereka.

"Detektif itu?" sangkal Rachel.

Nyonya Bexley menoleh dengan mata yang membulat.

"Aku hanya menebak saja," lanjut Rachel.

Beberapa puluh menit dalam perjalanan, mereka segera masuk ke dalam kafe tersebut dan melihat sudah ada dua orang detektif yang sedang menunggu kedatangan mereka.

"Maaf karena kami baru saja tiba," ujar nyonya Bexley tersenyum. "Terima kasih karena sudah menunggu."

Felix segera bangkit dari kursinya dan meminta nyonya Bexley untuk bisa meninggalkan Emily berbicara empat mata dengan Rachel. Nyonya Bexley mengangguk tanda setuju kemudian dia segera pergi meninggalkan mereka berdua bersama Felix.

Kini, hanya tersisa Emily dan Rachel yang berada di sebuah ruangan VVIP karena Emily tidak ingin mendengar kebisingan di luar kafe itu.

"Jadi, apa yang kau inginkan dariku, Emily?" tutur Rachel.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Emily.

"Aku rasa tidak," jawabnya santai.

"Akan tetapi, aku merasakan sebaliknya—"

"Bahwa kau dan aku pernah bertemu?" potong Rachel.

Emily mengangguk.

"Jika memang kita pernah bertemu, apa tujuanmu meminta ibuku untuk membawaku menemuimu?" tanyanya lagi.

"Aku hanya merasa penasaran dengan dirimu," jawab Emily.

"Dalam hal?"

"Dirimu," katanya lagi.

Rachel terdiam menatap wajah Emily. Tatapan itu membuat jiwa Rachel merasa takut namun Rachel berusaha keras agar tidak menunjukkan rasa ketakutannya terhadap Emily.

"Bukan aku pelakunya," jawab Rachel.

"Aku tau," ucap Emily cepat.

"Lalu, untuk apa kau menahanku di sini?" tanyanya.

[Completed] TSS [6]: The Secret of RachelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang