IX

59 25 5
                                    

Di kediaman rumah keluarga Bexley, keluarga kecil itu tampak sedang menikmati makan malamnya bersama. Nyonya Bexley terlihat sedang memperhatikan anaknya secara diam-diam namun tanpa disadari olehnya, Rachel sudah tahu lebih dulu bahwa ibunya sedang merasa penasaran akan perbincangannya dengan Emily sore tadi.

"Aku dan detektif itu hanya membicarakan mengenai kasus kematian temanku," seru Rachel tanpa melihat ke arah ibunya. "Jadi, berhentilah memperhatikanku secara diam-diam seperti itu, bu."

Pernyataan Rachel membuat tuan Bexley berhenti mengunyah dan menatap istrinya dengan heran begitupula dengan nyonya Bexley yang tampak tersedak oleh makanannya sendiri.

"Ibu sedang tidak berpikir seperti itu," ungkapnya berbohong.

"Lalu?" tanya Rachel sembari meletakkan sendoknya di samping piring dengan tatapan mengarah ke sang ibu.

"Sebentar lagi kau akan masuk ke sekolah menengah pertama. Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat," jawabnya tersenyum.

"Terhitung sejak kali pertama ibu mengandungku ketika salju pertama turun menyentuh tanah," balas Rachel tersenyum lebar. 

Perkataan itu membuat nyonya Bexley berekspresi datar dengan pupil mata membesar. Tubuhnya mendadak terasa kaku untuk digerakkan dengan detak jantung yang berdegup kencang. Setelah itu, mereka melihat Rachel mendorong kursinya ke belakang.

"Aku sudah selesai." Rachel menatap ibunya kembali.

Tuan Bexley menoleh ke arah istrinya yang tampak sedang membalas tatapan Rachel.

"Seingatku, kau mengandung Rachel saat musim semi berlangsung, bukan?" tanya tuan Bexley heran.

"Perkataanku barusan hanya karena aku tidak sabar untuk melihat salju di musim dingin nanti, ayah," saut Rachel. "Mungkin ekspresi ibu terlalu berlebihan." Rachel menatap ibunya kembali, "Bukan begitu, bu?"

Nyonya Bexley yang tersadar dari lamunannya hanya bisa menyengir dengan diakhiri tertawa canggung untuk memecahkan keheningan.

"Aku akan masuk ke dalam kamarku sekarang. Terima kasih atas makan malamnya," ujar Rachel. 

🔱🔱🔱

Pemeriksaan berlangsung selama 3 jam di kantor kepolisian. Sementara Emily dan Felix tetap menjelaskan bukti-bukti yang sudah mereka kumpulkan agar tuan Brown bisa mengetahui bahwa bukti tersebut bisa menghukum berat tindakan yang dilakukan oleh nyonya Brown.

Tuan Brown sendiri merasa tidak bisa berbicara banyak terkait dengan penemuan itu. Dia bisa saja menyangkal bahwa bukan istrinya lah penyebab meninggalnya Tami. Namun di sisi lain dia percaya kumpulan bukti-bukti disertai dengan bagaimana sikap istrinya yang berperilaku keras terhadap putri mereka, membuat tuan Brown tidak habis pikir ketika nyonya Brown dengan tega menyiksa anak mereka tanpa sepengetahuan dirinya.

Tuan Brown hanya bisa mengusap wajahnya dengan penuh kekecewaan. Pasalnya, kematian anak itu disebabkan oleh istrinya sendiri.

"Kalian benar-benar memeriksa bukti ini dengan teliti, bukan?" tanya tuan Brown memastikan.

Emily mengangguk. "Jika tuan Brown merasa ragu, tuan bisa menghubungi direktur tempat tuan menaruh asuransi untuk Tami. Di sana, direktur itu mengatakan bahwa nyonya Brown langsung memproses semua asuransi yang mengatasnamakan Tami."

"Dia sama sekali tidak membicarakan mengenai hal itu kepadaku," jawabnya heran.

Suara ketukan pintu memecahkan keheningan di dalam ruangan itu. Polisi yang berada di ambang pintu mengatakan bahwa dia telah usai memeriksa nyonya Brown dan keputusannya adalah nyonya Brown untuk sementara waktu ditahan karena beberapa faktor yang memberatkannya untuk bisa berada di dalam sel tahanan.

[Completed] TSS [6]: The Secret of RachelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang