LII

36 14 6
                                    

Emily keluar dari salah satu ruang kerja kepolisian Marshall setelah selesai menginterogasi keluarga Bexley. Dia sudah mendapatkan informasi berbeda dari keluarga itu sendiri. Anehnya, para anggota itu memiliki argumennya masing-masing. Terlebih mengenai nyonya Bexley yang tampak begitu sangat amat yakin bahwa kematian yang menimpa Megan sudah pasti disebabkan oleh ulah Rachel. Berkali-kali Emily menanyakan pernyataan itu namun jawaban nyonya Bexley tetaplah sama. Bahkan, dari pandangan Emily sendiri nyonya Bexley terlihat kacau seakan benar-benar telah kehilangan salah satu anggota keluarga sedarahnya. Sebaliknya, tuan Bexley tidak bisa memihak antara keduanya. Dia memang melihat bukti rekaman jika Rachel muncul di belakang rumahnya namun hal tersebut bisa saja terjadi ketika Rachel mengalami kondisi tidur sambil berjalan sama seperti saat anak itu masih kecil. 

Emily terus memikirkan hubungan antara semua itu hingga menjadi satu jawaban yang mengarah pada seseorang.

Marvis membukakan pintu mobilnya ketika dia mengetahui keberadaan Emily. Setelahnya, mobil tersebut bergerak meninggalkan kantor kepolisian Marshall. Di sepanjang perjalanan, Emily hanya terdiam memperhatikan lintasan kendaraan yang sedang mereka lewati.

"Ah ya, Emily." Marvis memanggil. "Aku lupa mengatakan satu hal padamu."

Emily menoleh.

"Kemarin saat aku mendatangi sekolah Wellington, aku tidak sengaja melihat Donna dihampiri oleh seorang anak laki-laki. Mereka tampak terlihat akrab namun sayangnya aku belum bisa memastikan siapa anak laki-laki itu," ujar Marvis.

Wanita tersebut mengernyitkan dahi.

"Apakah Felix pernah mengatakan padamu mengenai saudara atau kerabatnya yang bersekolah di tempat itu?" tanya Marvis.

"Tidak," geleng Emily. "Felix tidak mengatakan apa pun padaku mengenai Donna."

"Sebaiknya, ketika Felix sudah bisa tersadar dari koma dan menunjukkan keadaannya membaik, kau bisa menanyakan seputar itu kepada Felix. Siapa tahu, jika memang ada salah satu kerabat dari Donna yang bersekolah di sana, kita bisa meminta kesaksian baru darinya," jelas Marvis.

Emily mengangguk tanda setuju.

🔱🔱🔱

Pihak sekolah kembali meliburkan seluruh muridnya tanpa terkecuali sampai musim dingin usai, terlebih para polisi menginginkan tempat kejadian perkara di belakang sekolah tetap menjadi tempat steril.

Rachel berdiri di depan halte bis seorang diri dengan kedua tangan yang berada di saku mantelnya setelah dia dan keluarganya usai menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian. Ayah dan ibu Rachel sendiri saat ini sedang berada di kediaman rumah mereka sementara Rachel sudah meminta izin untuk pergi sejenak karena dia ingin membeli alat tulis di toko buku. 

Cuaca hari ini mulai terasa hangat namun dia masih bisa melihat hembusan napasnya yang mengapung di udara. Rachel menghela napas sembari menunggu kedatangan bis tersebut. Dia sengaja menolak bantuan ayahnya untuk mengantarkan Rachel karena Rachel ingin berusaha hidup mandiri tanpa menyusahkan orang lain. Saat sedang menikmat waktu kesendiriannya, Rachel terdiam sejenak sesaat ujung ekor matanya memperlihatkan adanya seorang laki-laki yang berdiri di samping perempuan itu.

"Tidak kusangka kita bisa bertemu di tempat ini," tutur Liam menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana.

"Apakah ini merupakan waktu yang tepat untukmu menganiayaku?" balas Rachel tanpa menoleh.

"Aku tidak ingin mengotori tanganku untuk menganiayamu."

Rachel berdecak tidak percaya.

"Ayahku mengundangmu untuk datang ke rumah kami sebagai bentuk permintaan maaf atas sikap buruk mendiang Victoria kepadamu."

[Completed] TSS [6]: The Secret of RachelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang