LV

59 16 2
                                    

Tuan Bexley berlari cepat setelah dia mendapatkan informasi mengenai penculikan yang sempat dialami oleh Rachel. Pria itu tiba di sebuah ruangan dan melihat Rachel sedang duduk di depan seorang anggota kepolisian.

"Tuan Bexley," sapanya.

"Terima kasih atas laporanmu," seru tuan Bexley. "Bagaimana keadaanmu Rachel?"

"Aku baik-baik saja."

"Rachel sudah memberikan kesaksian terkait dengan kejadian yang telah dia lalui. Aku harap, hal ini dapat mengungkap keseluruhan kasus yang terjadi mengenai korban berjatuhan di sekolah Wellington." Polisi itu menatap tuan Bexley. "Selanjutnya, Rachel akan menjadi saksi di persidangan yang akan digelar nanti. Kuharap dia tidak akan merasa tertekan atau terbebani ketika harus berhadapan dengan mereka."

"Apakah kehadiran Rachel akan memengaruhi jalannya sidang nanti?" tanya tuan Bexley memastikan.

Polisi itu mengangguk.

Tuan Bexley menoleh ke arah Rachel yang tampak sedang terdiam mendengarkan pembicaraan mereka.

🔱🔱🔱

"Apa motif utamamu dalam melakukan semua ini, anak muda?" tanya Emily.

Liam menatap Emily dengan penuh kekesalan.

"Kau tahu konsekuensi terhadap tindakan burukmu ini, bukan?"

"Aku tidak pedulikan hal itu selama aku bisa merasa puas."

"Dengan cara membunuh orang lain?"

"Jika harus kulakukan, maka akan kulakukan," jawab Liam tegas.

"Siapa yang mengajarimu berperilaku seperti ini?" tanya Emily heran. "Dengan cara membakar seorang perempuan, menganiayanya, dan membunuhnya."

Liam kembali mengatup bibirnya ke dalam.

"Apa kau tidak memiliki rasa empati dalam dirimu ketika berhadapan dengan mereka?"

"Tidak," Liam menatapnya.

"Bagaimana jika kau melihat seseorang melakukan hal yang sama pada ibumu? Apa kau akan membela dan melindungi ibumu?"

"Aku tidak perlu membela atau pun melindungi orang-orang yang memang bersalah. Keempat perempuan itu sudah melakukan kesalahan fatal dan mereka telah menanggung akibatnya."

"Apa yang telah mereka lakukan padamu?" tanya Emily intens.

"Lucyana dan Barbara tidak benar-benar menjadi teman Victoria. Mereka hanya ingin terlihat lebih bisa dikenal karena Victoria adalah adikku. Sementara Claire dan Leah sudah membongkar semua rahasiaku."

"Bisa kau ceritakan padaku?"

Liam mengatup bibirnya ke dalam seperti enggan menjawab pertanyaan itu.

"Baiklah. Aku mengerti bahwa kau belum bisa menceritakannya." Emily menulis sebuah catatan di dalam bukunya. "Lalu, bagaimana dengan ayahmu? Apakah dia terlibat dalam kasus pembunuhan berencana yang sudah kau lakukan terhadap keempat korban?"

"Tidak," jawab Liam tegas. "Semua kulakukan sendiri tanpa melibatkannya."

"Bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Apakah kalian cukup dekat ketika berada di rumah?"

"Biasa saja. Tidak sedekat namun tidak sejauh hubungan seorang anak dengan ayahnya."

"Bagaimana dengan ibumu?"

Liam menurunkan pandangan. "Aku tidak dekat dengannya."

"Kenapa?" Dahi Emily mengernyit.

"Ayah yang melarangku mendekati ibu."

[Completed] TSS [6]: The Secret of RachelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang