❄End

85 15 3
                                        

Samuel menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Angelia. Begitu mesin mati, Angelia segera membuka pintu dan turun, langkahnya pelan seolah seluruh tenaganya telah terkuras.

“Terima kasih banyak,” ucap Angelia sambil menoleh. “Berkat kamu… hati saya bisa sedikit lebih tenang.”

Samuel tidak menjawab panjang. Ia hanya mengangguk singkat, ekspresinya tetap sulit ditebak.

“Saya pulang,” ujar Samuel pelan. “Saya harap ucapan kamu barusan bukanlah kebohongan.”

Angelia tersenyum tipis.  “Tidak kok,” jawabnya. “Sampai jumpa besok.”

“Hm.”

Samuel kembali menginjak pedal gas. Mobil itu melaju kencang, meninggalkan Angelia sendirian di depan rumahnya, bersama sisa-sisa perasaan yang belum sempat ia rapikan.

Angelia menghela napas panjang, lalu berbalik. Langkahnya lunglai saat memasuki rumah yang sunyi, rumah yang selalu terasa terlalu besar untuk satu hati yang retak.

Brak---

Pintu ditutupnya dengan keras, seakan suara itu bisa meluapkan sedikit beban di dadanya. Tanpa menyalakan lampu, Angelia langsung menaiki tangga menuju kamarnya.

“Huh… capek,” gumamnya lirih.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan punggungnya bersandar pada seprai dingin. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar, kosong, sama kosongnya dengan perasaannya saat ini.

“Kemana lagi aku harus mencarimu?” bisiknya. “Tidakkah kamu lelah terus bersembunyi dari istrimu sendiri?”

Dadanya terasa sesak. Angelia menghembuskan napas kasar, lalu bangkit duduk. Tangannya meraih kotak obat di atas meja, jemarinya sedikit gemetar saat membukanya.

Satu butir obat diambil dan langsung ditelannya, seolah itu satu-satunya cara untuk membuat kepalanya berhenti berpikir terlalu banyak. Segelas air diteguknya menyusul.

“Fyuh… lagi-lagi minum obat,” keluhnya pelan, nyaris tanpa suara.

Ia menunduk, menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak kunjung stabil.

“Aku ingin bertemu denganmu,” bisiknya penuh harap. “Tidak apa-apa jika kau tidak mengingatku… tidak apa-apa jika kau bahkan membenciku.”

Angelia menutup matanya, air mata menggenang di pelupuk. “Asalkan aku bisa memeluk tubuhmu sekali saja,” suaranya bergetar. “Asalkan aku bisa memastikan bahwa kau benar-benar ada.”

Ia menggenggam erat ujung selimut. “Tuhan,” lirihnya, hampir seperti doa yang putus asa, “bolehkah Engkau mengabulkan permintaan itu… walau hanya sekali?”

Setelah itu, Angelia kembali membaringkan tubuhnya. Ia meraih guling dan mendekapnya erat, seakan benda itu bisa menggantikan hangat yang ia rindukan.

Perlahan, ia memejamkan mata membiarkan kelelahan dan harapan yang rapuh membawanya masuk ke alam mimpi, dengan satu nama yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.

***
“Pangeran!”

Teriakan itu menggema keras di sepanjang lorong Kerajaan, memecah pagi yang masih tenang. Gaun seorang gadis berkibar saat ia berlari sekencang yang ia bisa, langkahnya terburu-buru, napasnya tersengal, wajahnya dipenuhi kepanikan.

“Tuan Putri, mohon jangan berlari!” seru seorang pengawal yang berusaha mengejar. “Nanti Anda terjatuh!”

Namun gadis itu sama sekali tidak menoleh. Ia justru mempercepat langkahnya, seolah takut jika ia berhenti sedetik saja, kabar itu akan lenyap.

Bound by Fire and Fate(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang