PERTEMUAN PERTAMA

413 17 2
                                        


## KILAS BALIK: DUA TAHUN LALU (BAGIAN A)
SMA Garuda School.
Sebuah monumen kemewahan berkedok institusi pendidikan menengah atas.

Nominal sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) di sekolah ini setara dengan uang muka sebuah hunian mewah di kawasan urban. Maka tak heran, jika seluruh penghuninya merupakan representasi dari trah para konglomerat, pewaris takhta bisnis, dan anak-anak pesohor negeri.

Di tempat yang sarat akan prestise inilah, garis takdir mempertemukan Anaya Putri Valentina dengan Bima Arya Putra Bagaskara. Namun sayang, realitas segera membentangkan jurang pemisah di antara keduanya.

Bima, dengan kecerdasan di atas rata-rata, langsung ditempatkan di kelas unggulan—sebuah ruang eksklusif yang dihuni oleh para genius ber-IQ superior. Sementara Anaya, terdampar di kelas reguler. Sebuah distrik yang kerap diidentikkan sebagai tempat berkumpulnya anak-anak borjuis berotak semenjana, namun memiliki pasokan finansial yang tidak akan habis hingga tujuh turunan.

### HARI PERTAMA MASA ORIENTASI SISWA (MOS)
Jarum jam menunjukkan pukul 06.30 WIB. Guratan sang surya baru saja menyembul malu-malu di balik cakrawala pagi, menyapa hamparan lapangan rumput SMA Alexandria yang masih basah oleh embun.
Anaya melangkah anggun membelah lapangan. Ransel beludru sewarna arang bersandar di punggungnya, sementara jemari kanannya menenteng sebuah tas bekal bermaterial premium. Di dalamnya terdapat kotak bekal berbahan baja tahan karat empat susun. Bobotnya cukup berat untuk ukuran lengannya yang ringkih, namun Anaya menolak dengan tegas saat Pak Ujang menawarkan bantuan untuk membawakannya.

Alasannya sederhana: Anaya adalah seorang kurator kuliner yang teramat pemilih untuk urusan perutnya sendiri.
Kantin SMA Alexandria sejatinya mengadopsi konsep *food court* bintang lima; menyajikan barisan menu mulai dari *sushi* otentik, *wagyu steak*, hingga aneka pasta adiboga. Namun, indra pengecap Anaya terlalu superior untuk semua itu.

Di matanya, *"Sushi-nya kehilangan kesegaran, steak-nya terlalu mendominasi rasa asin, dan pastanya melewati batas al dente."*
Padahal, koki yang dipekerjakan sekolah adalah mantan kepala juru masak hotel ternama. Memang dasar Anaya saja yang memiliki standar setinggi langit jika menyangkut urusan lambung.

"Hai, boleh kita berkenalan?"
Sebuah suara memecah lamunan Anaya. Gadis itu menoleh, mendapati sesosok cewek berambut bob rapi dengan senyuman yang merekah hangat. Tanda pengenal di dadanya tertulis sebuah nama: TARI.
"Oh, tentu saja," sahut Anaya lembut. Ia meletakkan tas bekalnya di atas bangku taman bermaterial kayu jati sebelum mengulurkan tangan.

"Kenalkan, gue Tari. Kita terdaftar di kelas yang sama loh," ujar Tari dengan intonasi ramah yang menenangkan.
Anaya menyambut jabat tangan itu. "Iya, gue Anaya."

Tari langsung melanjutkan dengan antusiasme yang meluap. "Mulai detik ini, kita resmi berteman, ya? Kalau bisa, kita harus duduk sebangku supaya ritme obrolan kita makin selaras!"
Anaya terkekeh kecil, merasa hangat. "Ide yang luar biasa."
Di dalam hatinya, ia membatin lega: *Setidaknya, aku tidak akan menjadi jiwa yang terasing di hari pertama ini.

Tari memanfaatkan momentum itu untuk mengamati visual Anaya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Gadis di hadapannya ini memiliki kecantikan yang teramat absolut. Kulitnya seputih porselen, dengan hidung pemotong kuadrat yang sempurna, dan rambut hitam legam bergelombang yang dibiarkan setengah terikat anggun.

Di saat siswi-siswi lain sibuk mengubah warna rambut mereka menyerupai palet permen, Anaya tampil dengan aura natural tanpa sentuhan kosmetik berlebih. Benar-benar seperti manifestasi bidadari yang jatuh di tempat yang tepat.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang