kado

42 0 0
                                        

---

*PARIS. APARTEMEN BIMA. AVENUE MONTAIGNE. JAM 20.05.*

Satu minggu sudah Bima berada di luar negeri.
Bima gak habis pikir pada sosok yang harusnya patut dia banggakan.

Bhaskara. Papanya sendiri.
Benar-benar menipunya habis-habisan.

_"Bim, Papa ada project gede di Paris. Lo handle. 2 minggu. Nggak bisa diwakilin. Tender 2 T, Bim. Demi masa depan company. Tiket udah Papa booking."_

Jika Bima tau kalau keberangkatannya ke Paris cuma akal-akalan, dia pasti akan menolaknya mentah-mentah.
Meninggalin Anaya 2 minggu? Gila.
Nggak tidur 14 hari. Nggak makan 14 hari. Nggak napas 14 hari.
Kerja nggak fokus. Rapat ngelamun. Otaknya di Jakarta terus.

Dia ambil ponselnya. Jari cepet. Cari kontak _Sayang_ ❤️.
Video call. Kangen. Pengen liat muka. Pengen denger suara.
Meskipun itu tetap membuat Bima ingin segera pulang untuk memeluk kekasihnya dengan erat.
Nyium. Gigit. Nggak lepasin. Nggak kasih ke siapa-siapa.

Namun tumben Anaya tidak aktif. _Calling... Calling..._ Nggak diangkat.
_User busy?_

Bima kesal. Coba lagi. _Calling..._
Masih nggak aktif. _Centang satu._
_Sejak kapan HP-nya mati? Anaya nggak pernah matiin HP._

Dia segera mencari kontak Panji. Nihil. No Panji pun sama, tidak aktif. _Centang satu._
_Apaan nih bocah. Ikutan bohong?_

Dia segera menghubungi Laura, sang Mama. No nya aktif.
Tapi Laura tidak kunjung mengangkatnya. _Dering... dering..._
Sampe masuk voicemail. _"Halo, ini Laura. Sedang tidak bisa-"_

Bima kesal bukan main.
Di saat seperti ini, jika di Jakarta dia akan menemui kedua sahabatnya. Raka. Virgo.
Nge-game sampe pagi. Mabuk sampe lupa nama. Ngeluh sampe puas.
Namun sayang mereka kini jauh. Beda benua. Beda waktu. Paris-Jakarta 6 jam.

_Grappp_
Bima lempar ponsel ke sofa. Kasar.
Bantingannya bikin vas bunga di meja geter.

"Kenapa lampu mati lagi," gerutu Bima. Apartemen gelap.
_Listrik mati? Di Paris? Di Avenue Montaigne? Mustahil._
Bima curiga.

Di saat Bima ingin keluar dari kamar, mau cek sikring...

_JEGLEK._
Lampu nyala. Semua. Terang benderang. Kayak lampu stadion.
Saking terangnya Bima sampe merem. _Silau._

"SURPRISE!!!"

Bima kaget. Refleks mundur. Siaga. Tangan udah ngepal.
_Insting: bahaya._
Di depan pintu, Anaya. Panji. Laura. Bhaskara.
Pegang kue tart gede. Tingkat 3. Warna biru navy. Ada lilin angka 20. Nyala.
Di belakang, Raka sama Virgo nongol. Bawa terompet. _Pret pret pret._
Raka pake topi kerucut. Virgo pake kacamata hitam. _Kayak mafia._

"Happy birthday bro!" Bhaskara meluk putra semata wayangnya. Tepuk pundak. Kenceng. Bangga. "Panjang umur, sehat selalu. Makin sayang sama Anaya."

Bima bengong. Otak loading. _Buffering._
_Ini apaan?_
_Bohong?_
_Project?_
_Tender 2 T?_
_Oh..._

"Thanks," ucap Bima singkat. Masih nggak paham. Mukanya datar. _Mode prosesor lemot + hang._
Matanya pindah-pindah. Dari Papa. Mama. Anaya. Raka. Virgo. Panji.
_Semua di sini?_

"Jadi kita gak dibolehin masuk?" tanya Laura sambil tersenyum. Godain. Tangannya udah gatel pengen cubit pipi Bima.

"Masuk Mah, ayo masuk semua," Bima baru ngeh. Buka pintu lebar-lebar. _Goblok. Ngelamun._
"Maaf, kaget."

Laura dan yang lainnya memasuki apartemen yang dibeli Bima begitu menginjakkan kakinya di Paris.
Alasannya dia males ribet dengan pengurus hotel. _Hotel banyak orang. Nggak privat. Nggak bisa peluk Anaya sepuasnya._

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang