## BAB: BIMA MODE SUAMI SIAGA
### Bagian 1: Keheningan VVIP dan Pengakuan yang Terlambat
Satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan atmosfer saat ini adalah: hening.
Bahkan Virgo dan Raka yang sejak beberapa menit lalu tak henti-hentinya berceloteh, mendadak membungkam mulut mereka begitu langkah tegap Bima memasuki ruang rawat VVIP. Tempat di mana Anaya kini terbaring.
Gadis itu terus mengeluhkan rasa pening yang menderanya akibat benturan keras di anak tangga tadi. Kedua kelopak matanya terpejam rapat. Namun, Bima tahu betul jika Anaya hanya sedang berpura-pura tidur. Napasnya yang tidak teratur serta jemarinya yang meremas ujung selimut rumah sakit menjadi bukti yang tak bisa dibantah oleh analisis tajam Bima.
Sebenarnya, hasil pemeriksaan dokter menyatakan tidak ada cedera yang fatal selain pergelangan kaki kanan Anaya yang terkilir cukup parah hingga membengkak, serta sebuah plester kecil yang kini bertengger di dahinya. Namun, Bima tetap bersikeras agar Anaya mendapatkan perawatan intensif di kamar terbaik. Baginya, kenyamanan calon istrinya adalah mutlak. Di dalam kepalanya bahkan sempat terlintas pikiran ekstrem: *Jika sampai ada satu goresan luka lagi di tubuh gadis ini, rumah sakit ini akan gue beli detik ini juga.*
Tari yang sejak tadi duduk di sudut ruangan hanya bisa bergidik ngeri melihat ekspresi datar Bima.
*Buset. Wajahnya boleh saja sedingin es, tapi auranya... benar-benar seperti predator yang siap menghancurkan satu sekolah.*
"Dalam keadaan diam saja sudah menyeramkan begitu, bagaimana kalau dia benar-benar mengamuk," bisik Tari teramat pelan di samping Raka. Raka hanya bisa menyeringai kecut, menyetujui kalimat itu dalam diam.
Bima mengembuskan napas panjang, melonggarkan ketegangan di pundaknya. Ia melepas jas formalnya dan menarik dasi yang sejak tadi terasa mencekik lehernya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas sofa. *Buk.* Langkah kakinya bergerak menjauh menuju jendela besar begitu ponsel di sakunya bergetar, menampilkan nama sang ayah.
"Halo, Pah," sapa Bima dengan suara rendah yang sopan, namun tetap terasa dingin.
"Bagaimana kondisi Naya, Bim?" suara Valen terdengar dari seberang sana
"Naya baik-baik saja, Pah. Hanya pergelangan kakinya yang terkilir," jawab Bima sembari melirik ke arah ranjang.
"Memangnya Naya terluka karena apa?"
"Dia jatuh dari tangga sekolah," sahut Bima singkat. Ia memilih untuk menyimpan kebenaran tentang Jessica untuk dirinya sendiri. Belum saatnya.
"Syukurlah kalau tidak ada luka dalam yang fatal. Papa kira sampai patah tulang. Anaknya pasti kurang hati-hati dan terpeleset," Valentino mengembuskan napas lega.
Suara Bima mendadak turun satu oktav, sarat akan penyesalan yang mendalam. "Bima minta maaf, Pah. Karena Bima tidak becus menjaga Naya hari ini."
"Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Bim. Kecelakaan bisa menimpa siapa saja, karena yang namanya apes tidak pernah tertulis di kalender,"
Valentino justru menenangkan, sebuah respons yang terhitung tumben bagi sosoknya yang biasanya menuntut.
"Bima izin untuk membawa Naya pulang dan merawatnya di rumah Mama malam ini," ujar Bima *to the point*.
"Ya sudah, lakukan saja. Kasihan juga kalau Naya harus ditinggal sendirian di rumah," Valentino menyetujui tanpa banyak protes.
"Terima kasih, Pah," Bima mengakhiri panggilan tersebut dengan helaan napas panjang. *Satu urusan selesai.*
### Bagian 2: Meledaknya Rahasia Masa Lalu
**LIMA MENIT KEMUDIAN.**
"Kalian berdua boleh pulang sekarang. Terima kasih karena sudah mengantarkan Anaya ke sini," ujar Bima kepada Virgo dan Raka. Nadanya terdengar datar, namun sorot matanya mengisyaratkan rasa terima kasih yang tulus.
"Anaya itu sahabat kami juga, Bim. Gue pribadi minta maaf karena tidak bisa mengawasinya setiap waktu. Jadwal kegiatan OSIS akhir-akhir ini benar-benar menyita waktu," ucap Virgo jujur, ada gurat bersalah di wajahnya.
Raka melangkah maju dan menepuk pundak Bima pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
