SARAPAN DUA BOX

341 14 4
                                        


## BAB 2: Titik Balik di Balik Rak Buku
Sejak insiden penolakan kotak bekal pertama pada hari orientasi siswa dua tahun lalu, ritme hidup Anaya Putri Valentina mengalami metamorfosis total. Dari seorang gadis borjuis biasa, ia sukarela mengonversi perannya menjadi juru masak pribadi terselubung bagi Bima Arya Putra Baskara.

Setiap hari, tanpa pernah sekalipun alpa.
Mulanya berawal dari nasi goreng aromatik, lalu meningkat menjadi ayam katsu dengan tingkat kerenyahan yang presisi, *spaghetti carbonara* dengan saus krim yang melimpah, dimsum kukus yang lembut, hingga hidangan penutup sederhana seperti bubur kacang hijau dengan santan murni. Semua hidangan itu berpindah tangan berkat spionase rapi dari Virgo dan Tara yang bertindak sebagai kurir gelap.
Hasil akhir dari konspirasi kuliner ini?
Ludes. Selalu bersih tanpa menyisakan satu bulir nasi pun.


Kadang kala Bima menikmatinya di sudut kelas yang sunyi, di bawah naungan atap *rooftop* sekolah saat angin berembus pelan, atau sengaja bersembunyi di bilik Unit Kesehatan Sekolah (UKS) demi menghindari atensi siswa lain.
Namun, di balik semua kepuasan lambung itu, ada satu konstanta yang tetap kokoh: *Bima sama sekali tidak pernah memberikan umpan balik secara verbal kepada Anaya.*
Dedikasi Anaya bukan main-main. Ia telah melayangkan pernyataan cinta melalui ratusan pucuk surat beraroma parfum, ribuan pesan singkat yang berakhir di ruang arsip gawai, hingga nekat memasang spanduk berukuran masif di tengah lapangan saat pentas seni sekolah berlangsung.

Jika dikalkulasi, total penolakannya telah menyentuh angka 1.327 kali.
Respons Bima? Pemuda itu hanya akan membaca surat-surat itu sepintas, melipatnya dengan gerakan mekanis, menyembunyikannya di dalam laci meja, lalu melangkah keluar kelas demi mencari pasokan udara segar. Di mata Bima, eksistensi Anaya tak ubahnya seperti kabut asap—sedikit mengganggu sistem pernapasannya.

Akan tetapi, kata 'menyerah' tampaknya telah dihapus dari kamus hidup Anaya.
"Selama dia masih bersedia mengonsumsi makanan yang gue olah, itu artinya benteng pertahanannya belum sepenuhnya absolut," kilah Anaya logis dengan binar penuh harap.


### PUKUL 06.45 WIB — KELAS 12 IPS UNGGULAN

Atmosfer kelas masih diselimuti keheningan pagi. Satu-satunya presensi di ruangan itu hanyalah Bima.
Pemuda itu duduk bersandar di kursi pojok belakang. Di dalam kolong mejanya, dua buah kotak makanan berbahan *styrofoam* putih sudah bertengger manis, masih menghantarkan uap kehangatan. Di atas penutupnya, melekat secarik *sticky note* kuning cerah yang menampilkan guratan tulisan tangan Anaya.

Sebutir senyuman tipis—yang teramat langka—terukir di bibir Bima, memastikan tidak ada sepasang mata pun yang menangkap ekspresi tersebut. Ia membuka penutup kotak pertama.

Aroma gurih nan memikat langsung menyeruak. Nasi hainan yang sarat bumbu rempah, bersanding dengan potongan ayam rebus berpendar kaldu, kuah jahe yang hangat, pakcoy segar yang direbus pas, serta sejumput sambal sebagai aksen. Sebuah menu kuratif yang dikomposisikan khusus untuk seseorang yang sedang tidak prima.

Kotak kedua mengusung kesegaran: potongan semangka, melon, dan pepaya madu yang tertata rapi di samping puding susu bertekstur lembut.

Di sebelahnya, terselip sebuah catatan kecil sekunder:
> *Selamat menikmati sarapannya.*
> *Jangan lupa buah-buahannya dihabiskan, ya.*
> *Aku dengar dari Virgo kalau kamu sedang menderita sariawan. Makanya, menu hari ini sengaja kuolah tanpa setetes minyak pun.*
> *Ini semua adalah asupan nutrisi terbaik untuk memulihkan kondisimu. Tolong kurangi kebiasaan jajan sembarangan, terutama mengonsumsi cireng goreng dalam jumlah berlebih, itu sama sekali tidak sehat bagi tubuhmu.*
> *Untuk menu besok, ada permintaan khusus? Aku akan membuatkannya untukmu.*
>

Bima membaca untaian kalimat itu hingga dua kali. Tanpa sadar, sudut-sudut bibirnya kembali tertarik ke atas.
*Dua tahun berlalu, dan gadis itu masih memiliki ketelitian luar biasa untuk merekam detail kesehatanku. Dia bahkan masih mengingat dengan baik batas toleransi pedasku.*
Bima menjepit potongan ayam menggunakan sumpit, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Netranya seketika terpejam demi meresapi kelembutan daging yang berpadu dengan gurihnya kaldu jahe tanpa aroma amis sedikit pun. *Sial, ini terlalu sempurna.*
Ia mengunyah makanannya sembari sesekali melirik ke arah pintu dan jendela kelas dengan waspada.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang