**GEDUNG BELAKANG SMA ALEXANDRIA. SEMINGGU SEBELUM KELULUSAN, JAM 15.15.**
Langit Jakarta mendadak mendung pekat, menumpahkan rintik hujan yang selaras dengan sepinya area koridor belakang sekolah. Jam pelajaran terakhir baru saja usai beberapa menit yang lalu, membuat sebagian besar murid bergegas pulang untuk menghindari badai.
Tari sedang berjalan terburu-buru menyusuri selasar dekat laboratorium biologi tua yang sudah jarang digunakan. Tangannya mendekap erat sebuah kamus bahasa asing. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika tiga bayangan menghadang jalan keluarnya.
Katarina berdiri di paling depan, didampingi dua orang suruhannya yang bertubuh bongsor. Senyum kemenangan terukir jelas di wajah riasan Katarina.
"Mau ke mana, Tari? Buru-buru banget," sapa Katarina manis, namun sarat akan ancaman.
Tari reflex melangkah mundur, matanya menatap waspada. "Gue mau balik ke kelas. Minggir, Kat."
"Bentar dong. Gue cuma mau nanya sesuatu tentang temen sebangku lo yang sok polos itu. Anaya," desis Katarina, memberi kode dengan lirikan matanya.
Sebelum Tari sempat berteriak, dua orang di belakang Katarina langsung merangsek maju. Mereka membekap mulut Tari dengan sapu tangan, merenggut kamus di tangannya hingga jatuh terhempas ke lantai marmer yang dingin, lalu menyeret paksa tubuh gadis itu masuk ke dalam gudang tua di ujung koridor.
*KLIK. BRAKK!*
Pintu gudang besi itu ditutup rapat dan dikunci dari dalam.
**JAM 15.30.**
Di dalam gudang yang pengap dan hanya diterangi oleh remang cahaya dari ventilasi atas, Tari sudah terikat erat di atas sebuah kursi kayu. Sudut bibirnya tampak sedikit berdarah akibat pemberontakan tadi. Namun, fokus Katarina kini bukan pada Tari, melainkan pada ponsel di genggamannya. Ia baru saja mengirimkan pesan singkat menggunakan nomor Tari ke ponsel Anaya.
> **Pesan dari Tari:** *Nay, tolongin gue... Gue dikurung di gudang tua belakang lab biologi sama Katarina. Jangan bilang siapa-siapa, mereka bawa foto-foto lo sama Kak Bima...*
>
Tidak butuh waktu lama, suara derap langkah kaki yang tergeser panik terdengar mendekat dari luar. Pintu gudang digedor pelan sebelum akhirnya slot kuncinya dibuka paksa dari luar menggunakan kunci cadangan yang berhasil Anaya pinjam dari ruang piket karena panik.
*CEKLEK.*
Sosok Anaya muncul di ambang pintu dengan napas memburu. Begitu melihat Tari yang terikat dan terluka, air mata langsung menggenang di pelupuk mata bulat Anaya. Gadis yang dasarnya sangat *soft* dan tulus itu melangkah masuk tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
"Tari! Astaga, lo nggak papa?" seru Anaya lirih, berlari hendak menghampiri sahabatnya.
*BRUK!*
Pintu di belakang Anaya langsung ditutup kasar oleh antek Katarina. Tubuh mungil Anaya didorong hingga terduduk lemas di atas lantai semen yang berdebu. Pakaian *turtleneck ice silk* hitam di balik seragamnya robek di bagian bahu akibat tarikan paksa saat ia mencoba merangkak mendekati Tari.
Robeknya kain tipis itu seketika mengekspos deretan stempel keunguan pekat buatan Bima subuh tadi di atas kulit porselennya.
Anaya yang lembut sama sekali tidak memiliki insting untuk melawan secara fisik. Ia hanya bisa menangis pelan sembari memeluk lututnya, menahan rasa takut yang luar biasa. Namun, di dalam hati kecilnya yang teramat tulus, ia bukan takut dirinya disakiti, melainkan cemas jika foto-foto tanda itu sampai tersebar dan menghancurkan reputasi Bima sebagai lulusan terbaik.
"Jadi ini rahasia menjijikkan lo sama mantan ketua OSIS kebanggaan sekolah?" cemooh Katarina dengan tawa renyah yang puas. Ia melangkah mendekat, mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah leher dan bahu Anaya yang terekspos. "Gadis penurut kayak lo ternyata cuma pemuas nafsu-
"
*BZZZ-KLIK.*
Suara aliran listrik yang diputus secara paksa seketika memutus kalimat Katarina. Lampu gudang mati total, menyisakan kegelapan pekat. Detik berikutnya, seluruh sinyal ponsel di area itu mendadak hilang, membuat layar ponsel Katarina yang semula menyala berubah menjadi hitam legam dengan logo tengkorak digital berwarna merah yang berkedip-kedip misterius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
