## SMA GARUDA. PAGI. KELAS 12 IPS 2.
Anaya baru saja mendaratkan dirinya di kursi kelas. Tas ranselnya bahkan belum sempat ia turunkan dari pundak ketika Tari tiba-tiba datang menyergap. Matanya menyala penuh tekad, persis seperti pengawas yang siap membagikan lembar soal ujian nasional.
"Gue nggak mau tahu. Pokoknya pulang sekolah nanti, gue harus tahu alamat rumah lo!" cerocos Tari berapi-api. Jari telunjuknya teracung di depan wajah Anaya tanpa memberi jeda sedetik pun untuk temannya bernapas. "Denger nggak? Awas aja kalau lo mendadak hilang lagi kayak minggu kemarin!"
Anaya hanya bisa mengangguk pasrah dengan senyum kecut. Telinganya mendadak terasa pengang. *Tari kalau sudah mulai menceramahi orang, bakatnya benar-benar bisa menyaingi ustazah di TV.*
Beruntung bagi Anaya, dewi penolongnya datang tepat waktu.
*TEEEEEET!*
Bel masuk berbunyi nyaring. Bu Yuni melangkah masuk ke dalam kelas sembari mendekap buku paket tebal.
Anaya mengembuskan napas lega. *Selamat, telinga gue.*
Tari kembali ke bangkunya sembari menggerutu pelan dengan bibir mengerucut, "Awas aja lo kalau berani kabur."
## KELAS 12 IPA UNGGULAN. JAM YANG SAMA.
Bima duduk tenang di kursinya. Di dalam kolong mejanya, terdapat sebuah wadah styrofoam putih yang masih terasa hangat. Aroma masakan yang menguar tipis dari sana langsung terasa familier—bekal buatan Anaya.
Satu sudut bibir Bima terangkat, membentuk senyuman tipis yang nyaris tak kentara. Padahal, di dalam lubang hatinya yang terdalam, ia masih menyimpan dongkol. Kemarin, Anaya mendadak meminta agar hubungan mereka dirahasiakan di sekolah.
*Kenapa sih? Segitu malunya ya pacaran sama gue?*
"Cie... yang sudah dapat pasokan energi lagi," goda Raka dari belakang, menyenggol bahu Bima dengan sikutnya jahil. Virgo yang duduk di sebelah Raka ikut menimpali sembari menyengir lebar, "Gak galau lagi dong sekarang?"
Bima segera menutup wadah styrofoam tersebut, memasang kembali ekspresi datarnya yang sedingin es. "Gue harus fokus. Sebentar lagi olimpiade matematika dimulai."
Virgo menaikkan satu alisnya heran. "Anaya tahu soal ini?"
Bima menggeleng lemah. Ada rasa bersalah yang mendadak menyelinap di dadanya. *Gue lupa bilang. Kemarin telanjur kesal dan egois.*
"Harusnya lo kasih tahu dia, Bim. Biar nggak ada salah paham. Apalagi lo bakal sering intens bareng Jessica akhir-akhir ini buat bimbingan," saran Raka dengan nada yang mendadak serius.
Bima terdiam sejenak. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. "Nanti malam gue telepon dia."
Namun sayang, janji itu menguap begitu saja ditiup kesibukan.
## SEHARI. DUA HARI. TUJUH HARI.
Bima tidak menelepon. Tidak ada pesan masuk, bahkan pesan-pesan khawatir dari Anaya pun tidak ia sentuh sama sekali. Kolom obrolan WhatsApp Anaya dipenuhi tumpukan pesan yang hanya menyisakan tanda centang satu abu-abu.
Sementara Anaya? Gadis itu tetap sama. Setiap pagi ia diam-diam menaruh kotak bekal di laci meja Bima, dan setiap sore ia melangitkan doa yang sama.
*Mungkin Bima memang sedang sibuk berjuang. Mungkin dia lelah. Atau... mungkin dia masih marah.*
Anaya menolak untuk menyerah pada keadaan. *Selama dia masih mau memakan bekal buatanku, artinya aku masih punya ruang di hidupnya.*
## HARI KE-8. JAM ISTIRAHAT.
Anaya berjalan menyusuri koridor menuju laboratorium untuk mengembalikan alat-alat praktikum minggu lalu. Langkah kakinya mendadak terhenti tepat beberapa meter di depan pintu lab yang setengah terbuka.
Di dalam sana, ada Bima. Dan Jessica.
Mereka duduk sangat dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan, dengan kepala yang condong mendekat demi memperhatikan deretan angka di layar laptop yang sama.
Anaya terpaku di tempatnya berdiri. Dadanya mendadak terasa dihantam godam tak kasat mata. Sakit, hingga rasanya jantungnya jatuh berserakan di atas lantai koridor.
Tiba-tiba, dari arah belakang, tiga siswi kelas 10 berjalan mendekat. Mereka sengaja memperlambat langkah sembari berbisik dengan volume yang sengaja dikeraskan agar sampai ke telinga Anaya.
"Mereka berdua serasi banget ya," ujar siswi pertama dengan nada memuja.
"Iya, Kak Bima ganteng dan genius, terus Kak Jessica juga cantik dan jago matematika. Klop banget," sahut siswi kedua, melirik sinis ke arah Anaya. "Beda jauh sama cewek agresif yang hobi ngejar-ngejar Kak Bima."
Anaya menoleh, menatap mereka dengan tatapan terluka.
Siswi ketiga justru menyunggingkan senyum mengejek, melangkah maju mendekati Anaya. "Udah gitu, cuma tukang jualan kue pula. Lo nggak malu apa jualan di sekolah? Ini tuh sekolah elite, tahu!"
*BUG!*
Dengan sengaja, siswi itu mendorong bahu Anaya dengan cukup keras hingga tubuh mungil gadis itu limbung dan hampir terjatuh.
"Heh! Apa-apaan lo semua?!"
Sebuah suara bariton yang tegas menggelegar di koridor. Virgo dan Raka berjalan cepat dari arah ujung lorong. Wajah Virgo tampak merah padam menahan amarah, sementara kepalan tangan Raka sudah mengeras di sisi tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
