**AULA UTAMA SMA GARUDA. HARI KELULUSAN, JAM 10.00.**
Gemuruh tepuk tangan dan kilatan lampu kamera memenuhi seluruh penjuru aula besar yang disulap megah hari itu. Di atas panggung, barisan plakat penghargaan berkilau di bawah lampu sorot. Kepala sekolah baru saja menyelesaikan pidatonya dan bersiap membacakan penghargaan tertinggi angkatan.
"Dan penghargaan *Valedictorian*, lulusan terbaik dengan nilai kelulusan mutlak serta pencapaian akademik sempurna selama tiga tahun berturut-turut, diberikan kepada... Bima Bhaskara."
Tepuk tangan bergemuruh semakin kencang. Bima bangkit dari barisan kursi depan kelas XII IPA. Dalam balutan jubah wisuda hitam dan setelan jas formal yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, ia melangkah naik ke atas panggung dengan ritme yang tenang, berwibawa, dan memancarkan karisma yang mutlak. Wajah tampannya menampilkan senyum formal yang tenang, menyembunyikan rapat-rapat sisi *psycho-obsesif* yang seminggu lalu baru saja meruntuhkan masa depan keluarga Katarina tanpa sisa.
Di barisan kursi tengah, Anaya duduk dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuannya. Di balik kebaya wisuda brokat putih berkerah tinggi yang membungkus tubuh lembutnya, jantungnya berdegup luar biasa kencang. Netra bulatnya menatap lurus ke arah panggung dengan binar ketulusan yang teramat dalam. Anaya bangga, sangat bangga pada pria yang selama tiga tahun ini ia kejar dengan segenap hatinya.
Bima menerima plakat penghargaan, menjabat tangan kepala sekolah, lalu melangkah menuju podium utama untuk memberikan pidato kelulusan. Ia menyesuaikan letak mikrofon. Manik mata obsidiannya yang tajam menyapu ratusan hadirin, sebelum akhirnya terkunci lurus, pekat, dan mendalam pada satu titik: Anaya.
"Selamat pagi untuk para guru, orang tua, dan rekan-rekan angkatan," suara bas Bima bergema rendah namun sangat lantang melalui pengeras suara, seketika membuat seluruh aula hening total.
Bima menjeda kalimatnya sejenak. Ia tidak membuka lembaran teks pidato yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.
Alih-alih membacakan pencapaian akademis, Bima justru melepaskan senyuman miringnya yang paling menawan, namun sarat akan ketegasan yang tidak bisa dibantah.
"Hari ini adalah hari kelulusan kita. Hari di mana semua ikatan formal dengan sekolah ini resmi berakhir," ujar Bima, intonasi suaranya mendadak naik satu tingkat, terdengar begitu dominan. "Dan di depan seluruh warga SMA Garuda yang hadir hari ini... saya, Bima Arya Putra Bhaskara, ingin membuat satu pengumuman mutlak."
Hadirin mulai saling berbisik heran, termasuk para guru di jajaran depan. Di sudut barisan wisudawan, Raka terkekeh selengean sambil menyenggol bahu Virgo-atau Agha-yang hanya menanggapi dengan senyuman tipis misterius. Di barisan belakang, Panji yang memakai topi toga miring hanya melipat tangan, tahu betul sepupunya akan melakukan hal gila.
Bima mengarahkan tangan kanannya lurus ke arah barisan kelas XII IPA. "Dua minggu dari hari ini, pernikahan saya dengan Anaya putri Valentina akan resmi digelar. Dia adalah masa depan saya, dan setelah detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuh atau mengusik miliku."
*GASPP!*
Suara pekikan kaget dan bisikan histeris seketika meledak di seluruh penjuru aula. Para siswi terbelalak tidak percaya, beberapa guru bahkan berdiri dari kursinya karena syok mendengarkan deklarasi berani dari sang mantan ketua OSIS nomor satu.
Hubungan *backstreet* yang selama ini tersimpan super rapi, diledakkan begitu saja oleh Bima di hari terakhir mereka mengenakan seragam.
Anaya membeku di kursinya. Pipi halusnya langsung merona merah pekat, dan matanya yang berkaca-kaca menatap Bima dengan kombinasi rasa terkejut sekaligus rasa cinta yang membuncah hebat. Jiwa lembutnya bergetar mendengarkan bagaimana Bima mengklaim dirinya secara legal di depan dunia.
Tari yang duduk di sebelah Anaya langsung memeluk bahu sahabatnya itu dengan heboh. "Nay! Astaga, Bima benar-benar gila! Dia beneran ngumumin di depan satu sekolah!" tangis Tari haru.
Sebelum kegemparan aula mereda, Bima meletakkan mikrofonnya begitu saja. Ia melangkah turun dari panggung tinggi itu dengan langkah lebar yang dominan. Kerumunan wisudawan dan orang tua murid reflex terbelah, memberi jalan bagi sang Pangeran Serigala yang sedang menjemput permatanya.
Bima berhenti tepat di depan meja Anaya. Tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang menonton, termasuk jajaran kamera fotografer sekolah yang terus menjepret, Bima mengulurkan tangan kekarnya.
Anaya mendongak, air mata kebahagiaannya luruh satu tetes. Dengan segala kepasrahan yang manis dan ketulusan cintanya, ia menyambut uluran tangan Bima dan bangkit berdiri.
*SET.*
Dengan satu gerakan taktis yang protektif, Bima menarik pinggul ramping Anaya, merapatkan tubuh mungil gadis itu hingga melekat sempurna di dada bidangnya. Jas wisudanya bergesekkan mesra dengan kebaya putih Anaya.
"B-Bim... kamu nekat banget..." cicit Anaya lirih dengan suara serak yang teramat manis di dada Bima.
"Aku udah bilang, Sayang. Begitu sekolah ini selesai, nggak akan ada lagi persembunyian," bisik Bima rendah dengan suara basnya yang serak penuh obsesi.
Bima merangkup rahang lembut Anaya dengan satu tangan kekarnya, mendongakkan wajah tulus gadis itu, lalu menundukkan kepalanya secara mutlak. Di tengah aula yang riuh, di hadapan seluruh guru, orang tua, dan murid SMA Alexandria, Bima membungkam bibir ranum Anaya dengan ciuman yang luar biasa dalam, posesif, dan sarat akan dominasi yang manis.
Ciuman itu begitu intens, mengabaikan seluruh dunia di sekitar mereka. Anaya memejamkan matanya rapat-rapat, melingkarkan lengan lentiknya di leher tegap Bima, berserah seutuhnya di bawah kuasa pria yang terobsesi padanya.
Kilatan lampu *blitz* kamera mengabadikan momen gila itu sebagai skandal sekaligus romansa paling legendaris dalam sejarah SMA Garuda.
Bima melepaskan pagutannya perlahan, namun tetap mengunci dahinya di dahi Anaya, menyalurkan napas mereka yang memburu. Ibu jarinya mengusap sisa air mata di sudut mata Anaya dengan kelembutan yang teramat memuja.
"Dua minggu lagi, kamu resmi ganti nama belakang jadi Bhaskara, Anaya," desis Bima manis dengan kilat obsidiannya yang berbahaya namun penuh cinta.
Anaya tersenyum sangat lembut dengan mata berkaca-kaca, menyandarkan kepalanya pasrah di dada tegap Bima di bawah sorakan riuh satu sekolah yang merayakan kemenangan mutlak sang predator atas kelinci manisnya.
*Bersambung
### NOTE DARI AUTHOR 🤭🔥
WKWKWK BIMA BENER-BENER GAK ADA REMNYA GAIS! 😭 Di depan kepala sekolah, guru-guru, sampai orang tua murid langsung dideklarasikan secara lantang tanpa babibu! 🤫🔥 Aksi ciuman di depan podium kelulusan bener-bener definisi *flexing* kepemilikan paling mahal se-Wattpad Utara!
Anaya yang *soft* langsung dibikin meleleh dan berserah total ya gais di pelukan Bima wkwk! 💍 green flag luarnya, posesif gila dalemnya!
Yuk gais, ramaikan kolom komentar terakhir sebelum kita pindah ke lembar Altar Pernikahan mereka dua minggu lagi! 👇✨ Jangan lupa klik **VOTE dan KOMEN** untuk *final chapter*!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
