Anemia dan bubur Ayam

127 2 0
                                        

---

*RUMAH BIMA. JAM 06.30 PAGI.*

Seperti apa yang Bima katakan kemarin, hari ini Bima akan dinas keluar kota.
Bima terlihat rapih dengan setelan jas navy yang di kenakannya. Kemeja putih. Dasi abu. Arloji Patek Philippe yang seharga nilai rumah type 45.
Wangi. Ganteng. Tapi muka? Kusut.

Kenapa? Karena semalaman nggak tidur.
Anaya demam. Bolak-balik kompres. Bolak-balik cek suhu.
Jam 3 pagi baru tidur. Itu juga meluk Anaya.

Tapi pandangannya nampak tak tenang.
Dia ambil handphone miliknya. Jari gerak cepet. Dial nomor tanpa nama.
Ditempel ke kuping.

"Cari dan singkirkan dia!" suaranya pelan. Dingin. Tanpa emosi.
"Jessi. Sekarang. Gue nggak peduli caranya. Bikin dia nyesel pernah nafas."
_Tut._ Dimatiin. Dilempar ke kasur.

Bima tarik napas. _Satu masalah kelar._
Tinggal ngurus Anaya.

---

*DAPUR. JAM 07.10.*

Sementara di dapur Anaya nampak sibuk dengan peralatan masaknya.
Celemek pink. Rambut dikuncir asal. Muka pucet tapi maksa senyum.

Puluhan cake telah siap di kirim ke toko kue milik Anaya.
Red velvet. Tiramisu. Cheesecake. Brownies. Lapis legit.
Semua dia bikin sendiri.

Setelah perdebatan panjang akhirnya Bima mengijinkan Anaya membuat cake.
Tapi dengan syarat: harus di rumah dan Anaya tidak boleh kecapean.

Alhasil beberapa maid juga ikut serta dalam pekerjaan Anaya.
Mba Wati bagian ngaduk. Bi Inah bagian cuci-cuci.
Bahkan mereka takjub dengan rasa cake yang di buat oleh Anaya.

"Non, ini enak banget. Teksturnya lembut. Manisnya pas," Mba Wati nyomot dikit. "Beda sama toko sebelah."

Anaya ketawa kecil. "Makasih Mba."

Laura yang memperhatikan calon menantunya sedari tadi menghampiri Anaya.
Elus pundak. "Cake-nya banyak banget. Kamu bikin dari jam berapa Nay?"

Anaya meringis sebelum menjawab. Ketauan.
"Dari jam 12 malem Mah," jawabnya pelan. Nunduk. Takut dimarahin.

"Nay, kalau Bima tau kamu pasti diomelin," Laura panik. Megang pipi Anaya. "Kamu nggak tidur?"

"Iya makanya jangan dikasih tau ya Mah ya," ucap Anaya merajuk. Mata berkaca-kaca. Pegang tangan Laura. "Please Mah."

"Iya dasar kamu Nay. Tapi muka kamu kok pucet gitu sih Nay? Kamu baik-baik aja kan?" Laura curiga. Nempelin punggung tangan ke jidat Anaya.

Anaya mau jawab _iya_.
Tapi tiba-tiba...
"Nay..."
Anaya memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Kayak ditusuk-tusuk.
Dunia muter.
Rasa pusing di kepalanya membuatnya kehilangan kesadaran.
_Bruk._
Badannya lemes. Jatuh.

"NAY!!!" Laura teriak.

---

*KAMAR BIMA. JAM 07.25.*

Sementara Bima masih berkutat dengan laptopnya.
Zoom meeting sama direksi cabang Bali.
Tapi pergerakannya terhenti begitu Bhaskara memasuki kamarnya.

Bima natap malas laki-laki yang sialnya adalah ayah kandungnya.
Pake batik. Senyum-senyum jail.

"Kamu sudah siap Bong?" tanyanya dengan nada jail. _Bong_ itu panggilan Bhaskara ke Bima dari kecil.

Bima malas menanggapi. Matanya balik ke laptop. "Papa ganggu aja."

Namun bukan Bhaskara namanya jika tidak membuat Bima kesal.
Bhaskara menghampiri putra semata wayangnya itu.
Dia melihat raut wajah yang nyaris mirip dengan dirinya.
Hidung. Rahang. Alis. Copy paste.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang