## BAB: *The Midnight Return* (Siasat Sang Adek Sepupu dan Kepulangan Impulsif)
### Bagian 1: Kedipan Monitor dan Perangkap Proteksi Panji
**KAMAR PANJI. JAM 23.45.**
Di sudut ruangan yang temaram, hanya diterangi oleh pendar biru dari tiga monitor lengkung berspesifikasi tinggi, jemari Panji bergerak menari dengan lincah di atas papan ketik mekanisnya. Suara ketukan *keyboard* terdengar ritmis, cepat, dan konstan di tengah keheningan malam.
Panji sedang melakukan apa yang paling ia kuasai: menguji keamanan siber (*penetration testing*). Sebagai adek sepupu Bima, Panji tahu betul posisi abangnya saat ini sedang berada di puncak krusial. Sejak Bima mulai didelegasikan oleh Bhaskara untuk memegang beberapa anak perusahaan Baskara Group, ancaman dari rival bisnis nyata mulai berdatangan. Dan bagi Panji, melindungi Bima berarti harus memastikan sistem keamanan personal abangnya tidak memiliki celah.
Layar monitor utama menampilkan baris-baris kode *Python* yang mengeksekusi skrip enkripsi. Sasarannya malam ini adalah peladen awan (*cloud server*) pribadi milik Bima yang menyinkronkan data *surveillance* domestik kediaman utama Bhaskara, termasuk pelacak lokasi GPS yang tertanam di ponsel Anaya-kakak ipar sepupunya.
"Lo boleh punya otak jenius buat urusan bisnis, Bang," gumam Panji dengan senyum miring, menatap barisan kode yang mulai terurai. "Tapi kalau urusan keamanan siber personal, lo masih menyisakan celah fatal yang bahaya kalau musuh lo yang nemu duluan."
*Click.*
Satu ketukan terakhir pada tombol *Enter* membuat layar monitor sebelah kiri berkedip hijau. Akses berhasil ditembus. Panji berhasil masuk ke dalam jaringan sistem Bima. Namun, bukan untuk merusak atau memata-matai secara jahat, Panji justru bertindak sebagai *white hat hacker* yang memasang tameng pelindung tambahan.
Untuk menguji seberapa responsif proteksi yang ia buat, Panji menyuntikkan *malware* bertipe *trojan* jinak. Program ini sengaja didesain untuk mengaburkan dan membuat laporan GPS Anaya mengalami *glitch* buatan selama sepuluh menit. Panji ingin memberikan "alarm simulasi" agar Bima sadar sistem lamanya harus segera diperbarui.
Panji tahu betul seberapa parah tingkat paranoid dan posesif abang sepupunya itu jika menyangkut soal Anaya. Benar saja, baru menit kedelapan laporan GPS itu dikaburkan, radar pengawas Panji mendeteksi pergerakan darurat.
Jet pribadi Baskara Group yang seharusnya terjadwal di Surabaya hingga esok hari, mendadak mengajukan izin terbang darurat tengah malam itu juga menuju Jakarta.
Panji terkekeh renyah sambil menyandarkan punggungnya ke kursi ganti, menggelengkan kepala melihat grafik penerbangan Bima di layar. "Paranoid lo bener-bener udah di tahap akut, Bang. Baru digoyang dikit langsung terbang balik," bisiknya, puas karena umpan proteksinya berhasil memaksa sang predator pulang lebih cepat demi melindungi wilayahnya.
### Bagian 2: Kepulangan Instan yang Kacau
**BALKON KAMAR ANAYA. JAM 02.15.**
Alarm simulasi yang dibuat Panji nyatanya bekerja jauh lebih ekstrem pada psikologis Bima. Rasa aman yang biasanya terkendali langsung runtuh begitu sistem *monitoring* personalnya menunjukkan anomali. Tanpa memedulikan sisa rapat korporat di Surabaya yang bernilai miliaran, Bima memilih menerjang malam demi memastikan Anaya baik-baik saja.
Anaya yang sedang terlelap di balik selimut tebalnya mendadak terjaga sepenuhnya begitu mendengar suara gesekan halus dari arah pintu balkon kamarnya.
Matanya yang masih buram oleh sisa kantuk menangkap siluet tinggi besar yang melangkah masuk secara tergesa. Sosok itu mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya sudah lepas berantakan, rambutnya berantakan diterpa angin malam, dan dasinya sudah entah hilang ke mana. Aroma parfum maskulin yang khas, bercampur dengan dinginnya udara malam, langsung menyergap indra penciuman Anaya.
"B-Bima? Kok udah balik?" Anaya bangkit dari posisi tidurnya, memicingkan mata tak percaya memandangi sosok yang harusnya berada di pulau seberang.
Bima tidak memberikan jawaban verbal. Langkah kakinya yang panjang langsung menerjang sisi ranjang, mengunci tubuh mungil Anaya di bawah kungkungan tubuh tegapnya. Dekapannya begitu erat, dominan, dan nyaris menyakitkan-seolah-olah Bima sedang membuktikan pada dirinya sendiri bahwa Anaya benar-benar aman dan nyata di dalam dekapannya, bukan sekadar halusinasi akibat rasa cemasnya yang meledak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romantik*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
