masakan dan rahasia

260 6 0
                                        

---

*SEHARI SETELAH ANAYA KELUAR RS.* 

Sesuai janji. Bima jemput Anaya. 
Mobilnya bukan Lamborghini. Bukan Ferrari. Cuma Mercy hitam. Biar nggak heboh. 

Rumah Bima gede. Tapi hangat. Nggak kayak rumah Anaya yang luas tapi sepi. 

Baru masuk, Aura langsung nyamperin. Mamanya Bima. 
Rambut diikat. Apron. Senyumnya tulus. 

Aura natap Anaya. Dari atas sampe bawah. 
Gadis bertubuh kurus. Pucet. Tapi matanya bening. Sopan. 
Anaya nunduk. Takut. _Gimana kalo Tante Aura nggak suka aku? Gimana kalo aku diusir?_ 

Tapi... 

"Jadi ini calon tunangan kamu? Cantik sekali. Kalian sangat serasi," Aura narik Anaya. Dipeluk. Erat. Anget. 

Anaya kaget. _Hah? Dipeluk? Nggak dijudge?_ 
Matanya langsung berkaca-kaca. 

"Mah, Anaya kesini mau masak bareng Mamah," Bima nyelamatin. Dia tau Anaya gugup. 

Aura kaget. Matanya melebar. "Masak?" 
Sepanjang hidupnya, baru kali ini ada cewek umur 18 tahun minta ke dapur. Biasanya minta ke mall. 

"Iya Tante... apa boleh Anaya masak di sini?" Anaya tanya. Suara kecil. Takut nolak. 

Aura ketawa. Lepas. "Boleh dong Sayang. Tentu aja boleh. Ayo Tante tunjukin dapurnya." 
Dia rangkul pundak Anaya. Nuntun ke dapur. Kayak anak sendiri. 

Bima di belakang senyum. Lega. 
_Akhirnya. Dua perempuan penting di hidup gue akur._ 
Dia nggak khawatir. Aura itu beda dari ibu-ibu sosialita lain. Aura tulus. Selalu dukung Bima. Mau Bima jadi dokter kek, jadi koki kek, asal bahagia. 

---

*DAPUR RUMAH BIMA.* 

Besar. Bersih. Peralatannya lengkap. Oven ada 3. 

"Mau bikin apa?" Aura nanya. Excited. 

Anaya tolah-toleh. Gugup. "Maaf Tante... sebelumnya aku boleh cek kulkasnya?" 
Takut bahannya nggak ada. 

"Boleh dong Sayang. Kita sekalian masak buat makan siang. Tadi juga Bima minta dibikinin rendang sama pudding," Aura buka kulkas gede. 

Mata Anaya langsung nyala. _Ada daging sapi. Ada santan. Ada karamel. Lengkap._ 

"Ya udah aku aja yang bikin, Tante," Anaya cuci tangan. Singsingin lengan. 

Aura duduk di meja dapur. Nonton. 
Dia liat Anaya gerak. Cekatan. Nggak kagok. 
Pisau di tangan Anaya kayak extension tangannya. Bawang putih dicincang 10 detik. Daging dipotong rapi. 
Nggak kayak anak SMA. Kayak chef hotel bintang 5. 

Aroma masakan nyebar. Gurih. Pedas. Santan. Karamel. 
Bima yang lagi di atas langsung kecium. 

*TAK TAK TAK.* 
Dia turun. Lari kecil ke dapur. 

"Mah, laper!" Bima nyelonong. Nggak pake salam. 

Aura geleng-geleng. "Bima tidak pernah berubah. Dia selalu suka makan. Untung lah Bima suka berolahraga. Jadi tubuhnya tetap proposional." 

Bima udah di meja makan. Meja udah penuh. Rendang. Sayur nangka. Sambel ijo. Nasi anget. Puding karamel di kulkas. 

"Makan sekarang yuk Mah. Bima udah laper," Bima narik kursi. Nggak sabar. 

Dia nyendok rendang. Banyak. Nasi dikit. Terus hap. 

Matanya merem. "Hmmm..." 
Nguyah pelan. Nikmatin. 
_Ini dia. Rasa yang gue kangenin 3 hari terakhir._ 

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang