---
*Setelah selesai makan, kini keduanya tengah berkumpul di ruang tamu.*
Jam udah nunjukin pukul 8 malam. Tapi suasana di rumah Bima nggak hangat sama sekali. Dingin. Kayak di kutub.
Bima duduk di sofa. Nempel sama Anaya. Tapi mukanya asem. Bibirnya manyun. Matanya nyalang ke arah pintu masuk.
Dia masih nahan kesel dengan kepulangan ayahnya yang tiba-tiba. Yang berakhir dengan menghabiskan seluruh masakan yang dibuat Anaya tanpa sisa.
Bhaskara nggak jauh beda dengan Bima.
Sama-sama doyan makan. Sama-sama gila kerja. Sama-sama keras kepala.
Bedanya? Bhaskara nggak pernah nanya Anaya capek atau nggak. Langsung habisin aja.
Yah Bima tidak mau berbagi dan tidak akan pernah mau berbagi apapun yang menyangkut Anaya.
Apalagi makanan buatan Anaya. Itu wilayah sakral.
"Bim kenapa cemberut gitu sih?" tanya Anaya pelan. Tangannya nyolek lengan Bima.
Bima noleh. Matanya masih nyala. "Aku kesel. Ngapain sih tua bangka itu buru-buru pulang?"
Suaranya ketus. Emosinya bocor.
Anaya kaget. "Ya ampun Bim itu papa kamu. Nggak boleh gitu!"
Dia shock. Baru kali ini denger Bima ngomong sekasar itu ke papanya sendiri.
"Aku benci sama dia," gumam Bima. Pelan. Tapi cukup jelas buat Anaya denger.
Matanya buang muka ke jendela. Rahangnya keras.
Anaya nggak terima. Dia muter badan Bima. Paksa natap dia.
"Hei," Anaya menangkup pipi Bima yang menggembung lucu karena nahan marah. Jempolnya ngusap pelan. "Nggak boleh gitu. Biar gimana pun itu papa kamu."
Suaranya lembut. Kayak ngomong ke anak kecil.
"Bodo amat," Bima buang muka. Tapi nggak ngelepas tangan Anaya di pipinya.
Malah... dia rebahan. Kepalanya jatuh ke paha Anaya. Wajah ditekuk. Ngambek.
Anaya ketawa kecil. _Ya Allah gemes._
Tangannya otomatis naik. Ngusap rambut Bima. Lembut. Sayang banget.
"Anak kecil," bisiknya.
Bima diem. Tapi napasnya mulai teratur.
Begitu Anaya ngusap lembut kepalanya dengan sayang, lelaki itu mulai terpejam.
Anaya itu candu. Suaranya. Sentuhannya. Wanginya. Semua bikin Bima tenang.
Tapi kenyamanan itu buyar.
_Klek._
Suara pintu dibuka.
Bhaskara bersama Laura datang dan duduk bersama mereka di sofa seberang.
Laura senyum liat anaknya manja. Bhaskara? Alisnya naik.
"Ekhmm," Bhaskara berdehem sekali. Keras. Sengaja.
Bima? Tuli. Pura-pura nggak denger. Malah makin benem muka di paha Anaya.
"Bima, papa mau bicara," ucap Bhaskara sekali lagi. Nada tegas. Nada bos besar.
Bima akhirnya bangun dari pangkuan Anaya. Duduk dengan tegak. Punggung lurus. Tapi matanya datar. Dingin.
"Ngomong aja!" sahut Bima tak acuh. Nggak ada hormat-hormatnya.
Laura nyikut lengan Bhaskara. _Pelan-pelan dong Pah._
"Mulai besok kamu mulai bekerja di kantor," ucap Bhaskara tanpa basa basi. Langsung nembak. Langsung perintah.
Laura kaget. "Tapi Pah, Bima masih ada Olimpiade bulan depan Pah," sahutnya. Bela anaknya.
"Mah yang penting itu perusahaan kita. Cepat atau lambat Bima yang akan mengurus semuanya," Bhaskara nggak mau debat.
"Tapi Bima masih SMA Pah," Laura masih ngotot.
"Papa yakin Bima bisa lakuin semuanya. Iya kan Bima?" Bhaskara natap Bima. Nantang. Maksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romansa*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
