**LORONG SEKOLAH. JAM 10.30 WIB.**
Atmosfer di koridor lantai dua gedung kelas XII mendadak mencekam. Bima melangkah keluar dari kelas Anaya dengan rahang yang terkatup begitu rapat hingga urat-urat di sekitar lehernya menegang. Kepalanya berdenyut hebat, mengulang satu informasi yang baru saja ia korek.
*Motor RX King. Stiker tengkorak di spakbor depan. Ardi, anak kelas XII IPA 2.*
Nama itu jelas tidak asing di telinga Bima. Ardi adalah potret nyata berandalan sekolah—langganan ruang BK, anggota geng motor, dan desas-desusnya telah menaruh hati pada Anaya sejak menduduki bangku kelas sebelas.
Di depan kelasnya sendiri, Virgo dan Raka sudah berdiri menunggu.
Penampilan Raka tampak kacau; matanya merah dengan kantung mata menghitam, menyiratkan bahwa cowok itu tidak tidur semalaman.
"Dari mana kalian?" tanya Bima.
Suaranya terdengar datar dan tenang, namun sepasang matanya menyala jalar amarah yang siap membakar siapa saja.
"Kami dari kelas Anaya," jawab Virgo tenang tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Sementara itu, Raka hanya diam. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, mengunci rapat bibirnya dengan pandangan lurus ke depan. Sikapnya dingin, memancarkan sisa kekesalan yang mendalam pada Bima akibat kejadian kemarin sore.
"Lo kenapa, Ka?" Bima mengalihkan tatapannya pada Raka. Sebagai sahabat yang tumbuh bersama sejak masa taman kanak-kanak, Bima tahu persis setiap jengkal perubahan perangai Raka. "Lo aneh sejak kemarin. Ada yang lo sembunyiin dari gue, kan?"
Tepat sasaran. Intuisinya tidak pernah meleset.
Raka masih bersikeras bungkam, namun kepalan tangannya di balik lipatan lengan baju tampak semakin mengeras, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bim, tenangin diri lo dulu," sela Virgo, mencoba menengahi sebelum situasi berubah menjadi baku hantam di koridor sekolah. Ia tahu betul jika Bima dalam mode seperti ini, ia bisa meledak kapan saja.
"Apa yang nggak gue tahu?! Jawab, bangsat!" Bima kehilangan kendali atas kesabarannya.
Dalam satu gerakan kilat, ia merangsek maju dan mencengkeram kerah seragam Raka, lalu menyentaknya kasar hingga punggung Raka menghantam dinding pembatas koridor. *BUK!*
"Jawab gue, Raka!" bentak Bima tepat di depan wajah sahabatnya.
Sama sekali tidak ada kilat ketakutan di mata Raka. Sebaliknya, ia menyentak tangan Bima dengan kekuatan penuh hingga cengkeraman itu terlepas kasar.
"Cewek lo nyaris diperkosa kemarin sore, anjing!" teriak Raka, meluapkan seluruh emosi yang dipendamnya sejak semalam.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Bima seolah berhenti berputar.
"Apa...?"
Suara Bima pecah. Nada bicaranya mendadak merendah, namun justru getaran suara itu membuat udara di sepanjang koridor terasa membeku. Telinganya berdenging hebat.
Kata 'diperkosa' dan 'Anaya' berputar-putar di dalam kepalanya, menghantarkan rasa sakit sekaligus ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
"Siapa pelakunya? SIAPA?!" Bima berteriak histeris. Murka, kalut, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, membuat urat-urat di leher dan pelipisnya mencuat kasar.
Virgo menatap Raka, lalu memberikan anggukan kecil yang sarat akan isyarat. *Kasih tahu sekarang. Dia berhak tahu.*
"Ardi. Anak kelas XII IPA 2," cetus Raka dengan nada penuh kebencian. "Dia udah lama terobsesi sama Anaya, tapi Anaya nggak pernah sekalipun gubris dia." Raka menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Dan asal lo tahu, Bim... semua ini salah lo. Kalau aja kemarin lo nggak mentingin ego lo buat nganterin cewek lain, hal sekeji ini nggak bakal menimpa Anaya!"
Raka menunjuk dada Bima dengan telunjuknya, menatapnya dengan pandangan sarat akan kekecewaan. "Gue bener-bener nggak habis pikir sama jalan pikiran lo, Bima. Bisa-bisanya lo ninggalin cewek lo di halte sendirian demi Jessica, padahal lo sendiri yang minta dia nunggu? Brengsek lo, Bim."
Bima terhuyung mundur satu langkah, seolah baru saja dihantam oleh godam tak kasat mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romansa*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
