### EPILOG FINAL (Extended Version): Segel Abadi dan Garis Dua Baskara
**RUANG RIAS PENGANTIN WANITA, KATEDRAL UTAMA JAKARTA. JAM 08.15.**
Keheningan di dalam ruangan bernuansa putih gading itu terasa begitu pekat, berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk dekorator yang sedang menyelesaikan karpet kelopak mawar di aula utama katedral. Bau harum dari bunga lili segar bercampur dengan aroma parfum mahal.
Anaya berdiri mematung di depan cermin besar setinggi langit-langit. Gaun pengantin satin sutra premium yang membungkus tubuhnya tampak luar biasa anggun. Potongan dada yang seminggu lalu sempat dipermasalahkan oleh Bima kini sudah dirombak total menjadi model *high-neck* tertutup berbahan brokat Prancis yang mewah. Namun, entah mengapa, pagi ini bahan brokat tipis itu terasa mencengkeram dadanya terlalu ketat. Napas Anaya terasa sedikit pendek, bukan hanya karena gaunnya, tetapi karena benda kecil persegi panjang yang sedang ia genggam erat di balik lipatan jarinya.
Dua garis merah. Sangat jelas, tegas, dan tebal.
"Tapi kok... aku nggak mual atau muntah-muntah sama sekali, ya?" gumam Anaya lirih pada pantulan dirinya sendiri di cermin. Mata bulatnya berkaca-kaca, memancarkan binar ketulusan yang bercampur aduk dengan rasa tidak percaya.
Ia menunduk, menatap dadanya sendiri di balik cermin. Beberapa hari terakhir, ia memang merasa pakaian dalamnya mendadak menyempit drastis.
Ukuran bra-nya naik dua nomor sekaligus, terasa penuh dan sensitif-sebuah perubahan fisik kilat yang sempat ia kira hanya efek samping dari "ritual subuh" Bima yang belakangan ini kian intens dan posesif.
Ternyata, ada kehidupan baru yang sedang tertidur lelap di dalam rahimnya.
*BZZZ-KLIK.*
Suara pintu digital yang dikunci dari dalam seketika memutus lamunan Anaya. Melalui pantulan cermin, sosok Bima melangkah masuk. Mantan ketua OSIS genius itu terlihat luar biasa tampan dan matang dalam balutan *tuxedo* pengantin hitam *custom-made* yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Aura dominannya langsung memenuhi ruangan, menyapu habis sisa udara yang ada.
Bima berjalan mendekat, sepasang netra obsidiannya yang tajam langsung menangkap gelagat cemas sang tunangan. Namun, begitu pandangannya turun ke arah jemari Anaya yang gemetar memegang alat tes putih itu, langkah kaki Bima mendadak terhenti seketika.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kalkulasi presisi dan otak genius seorang Bima Bhaskara lumpuh total. Lembaran rencana masa depan yang sudah ia susun rapi di kepalanya mendadak buyar, digantikan oleh rasa syok dan hantaman kebahagiaan yang begitu masif.
"Anaya... itu apa?" suara bas Bima terdengar sangat parau, bergetar rendah di tenggorokannya.
Anaya berbalik perlahan, menatap Bima dengan mata bulatnya yang kian basah oleh air mata kebahagiaan.
Tanpa berkata-kata, dengan segala kepasrahan manisnya, ia melangkah maju dan menyerahkan benda itu ke atas telapak tangan kekar Bima.
"Ya salah kamu, Yank..." cicit Anaya tulus dengan suara serak yang teramat manis. Pipi halusnya merona merah pekat. "Aku nggak ada mual atau muntah-muntah... tapi dada aku makin besar dan penuh sampai naik dua nomor. Ternyata... kita punya ini."
Bima menatap dua garis merah itu tanpa berkedip selama beberapa detik, sebelum akhirnya seulas seringai manis yang luar biasa memuja dan penuh kepuasan absolut terukir di wajah tampannya. Sisi *psycho-obsesif*-nya merasa menang mutlak atas takdir.
Tanpa membuang waktu lagi, lengan kokoh Bima langsung merangkup pinggul Anaya, menarik tubuh lembut itu ke dalam dekapan posesifnya yang teramat erat, mengabaikan fakta bahwa gaun pengantin mereka bisa sedikit kusut.
"Anak kita tahu betul cara menikmati stimulasi subuh ayahnya tanpa bikin bundanya sakit, Sayang," desis Bima rendah, suaranya sarat akan gairah pekat yang tertahan.
Ia menunduk dalam, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anaya, menghirup aroma candunya sembari membisikkan janji baru yang jauh lebih mengikat. "Mulai detik ini, sangkar kamu resmi aku perketat. Nggak akan ada satu jengkal pun dari ruang hidup kamu yang lepas dari pengawasan aku."
Anaya memejamkan matanya, meremas kerah *tuxedo* Bima dengan kepasrahan yang teramat dalam. Murni karena cinta mati, ia rela dikunci lebih rapat lagi di dalam perlindungan gila pria ini.
**ALTAR KATEDRAL UTAMA. JAM 09.00.**
Pintu gerbang kayu besar katedral terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menerangi karpet merah yang bertabur kelopak mawar.
Dentang lonceng gereja bergema megah ke seluruh penjuru kota, mengiringi langkah Anaya yang berjalan anggun didampingi oleh sang ayah, Valentino.
Di ujung altar, Bima berdiri tegak bagai seorang raja yang sedang menanti takhta tertingginya. Sorot mata obsidiannya menggelap pekat, mengunci presensi Anaya dengan intensitas yang membuat beberapa tamu undangan bergidik ngeri. Di dalam rahim gadis itu, kini ada darah dagingnya yang mengalir.
Alasan yang lebih dari cukup bagi Bima untuk meruntuhkan siapa pun yang berani mengusik keluarganya kelak.
Di barisan kursi terdepan, lingkaran internal *The Alexandria Boys* duduk dengan wibawa mereka yang legendaris. Virgo berdiri tegap dengan senyum formal malaikatnya-menyembunyikan dengan rapi sisi *alter ego* Agha-nya yang kejam dan berdarah dingin.
Di sebelahnya, Raka terkekeh selengean sembari sesekali melirik jam tangan pintarnya, menghitung waktu untuk memberi makan hewan-hewan ekstrimnya selepas acara formal ini.
Sementara di barisan belakang dekat operator sistem, Panji duduk santai dengan melipat kaki.
Monster retas itu diam-diam sudah menyadap seluruh jaringan komunikasi radius dua kilometer di sekitar katedral, memastikan tidak ada satu pun gangguan digital yang bisa merusak hari besar sepupunya.
Dan di sisi kiri altar, Tari-sahabat tulus Anaya-menangis haru sembari meremas sapu tangan, merasa lega karena Anaya akhirnya berada di tangan pelindung yang paling aman, meski dengan cara yang sedikit gila.
Saat tangan Anaya diserahkan oleh Valentino ke dalam genggaman kekar Bima, hawa dingin yang sarat akan kepemilikan mutlak langsung terasa. Pendeta mulai membacakan ayat-ayat suci pernikahan dengan khidmat.
Bima mengambil cincin berlian berukir lambang keluarga Bhaskara, menyematkannya ke jari manis Anaya tanpa ragu.
Ketika giliran Anaya menyematkan cincin di jari Bima, matanya kembali berkaca-kaca menatap ketampanan suaminya yang kini sudah sah secara hukum dan agama.
"Silakan mencium pasangan Anda sebagai tanda ikatan suci yang tak terpisahkan."
Begitu kalimat pendeta berakhir, kedua tangan kokoh Bima langsung bergerak taktis. Ia merangkup rahang lembut Anaya, menarik pinggul ramping gadis itu hingga menempel lekat tanpa celah di tubuh bidangnya.
Bima menunduk sedikit, menyatukan kening mereka sebelum berbisik dengan suara yang teramat parau dan dalam.
"Detik ini juga, lo resmi jadi milik gue seutuhnya, Anaya Bhaskara. Jiwa, raga, dan seluruh napas lo... sudah tersegel mutlak di dalam genggaman gue selamanya."
Anaya tidak membalas dengan kata-kata menantang. Ia tersenyum sangat lembut dengan air mata yang menetes pelan, lalu melingkarkan lengan lentiknya di leher tegap Bima dengan kepasrahan penuh.
Bima langsung membungkam bibir ranum Anaya dengan ciuman pernikahan yang luar biasa dalam, posesif, dan sarat akan dominasi absolut di hadapan ratusan pasang mata konglomerat yang langsung bersorak riuh.
Kilatan lampu *blitz* dari puluhan kamera media mengabadikan momen suci itu. Ciuman di atas altar katedral tersebut menjadi bukti sah dan abadi, bahwa sang kelinci manis yang tulus telah masuk dengan sukarela ke dalam sangkar emas milik sang Pangeran Serigala-terkunci rapat bersama kehidupan baru yang mulai tumbuh di rahimnya, untuk seumur hidup.
**- TAMAT -**
### NOTE DARI AUTHOR *ULTIMATE EXTENDED* 🤭🔥
PUAS BANGET GAK TUH GAIS VERSI PANJANGNYA! 😭 Katedralnya sampai bergetar gara-gara aura posesif Bima yang berlipat ganda pasca tahu kabar garis dua! 🤫🔥
Perubahan fisik Anaya akibat "stimulasi subuh" akhirnya dapat penjelasan medis ala Bima wkwkwk! Geng *The Garuda Boys* juga sukses mengawal gerbang katedral dengan super steril! 💍💚
Yuk gais, penuhi kolom komentar dengan emotikon 💚 dan 💍 sebagai tanda perpisahan resmi kita dengan pasangan *dark-sweet romance* paling bucin se-Wattpad ini! Terima kasih banyak sudah membaca sampai lembar paling terakhir! *Love you all!* 👇✨
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
