### Bagian 1: Kehangatan Pagi dan Ancaman Keberangkatan
**KAMAR ANAYA. JAM 06.15 PAGI.**
Anaya mengerjapkan matanya perlahan, menghalau silau sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden. Hal pertama yang tertangkap oleh indra perabanya adalah sebuah kehangatan kokoh di area perut—lengan kekar Bima melingkar erat di sana, mengunci tubuhnya layaknya gembok tak kasat mata.
Semalaman penuh, cowok itu tidak melepaskan dekapannya. Bima menemaninya melewati malam pertama PMS yang menyiksa, mengelus rambutnya dengan ketelatenan yang tak terduga, dan membisikkan untaian kata penenang hingga ia terlelap.
Anaya benar-benar tidak menyangka. Lelaki yang selama tiga tahun ini ia kejar setengah mati, yang ia kira sedingin es dan tidak pernah meliriknya, ternyata menyimpan perasaan yang sama dalamnya. Bima hanya terlalu pandai menyembunyikannya di balik topeng apatis dan kesibukannya yang padat.
Padahal, begitu topeng itu terbuka, yang tersisa hanyalah sosok pelindung yang bucin akut.
Anaya menatap wajah tidur Bima sesaat. Bahkan dalam keadaan terlelap pun, kedua alis tebal cowok itu tampak sedikit bertaut, menyiratkan beban pikiran yang tak pernah lepas. Anaya tersenyum tipis. Dengan sangat hati-hati—seperti sedang menjinakkan bom waktu—ia menggeser lengan Bima dari perutnya. Begitu berhasil lepas tanpa mengusik tidur sang empunya, Anaya segera turun dari kasur dan melesat ke kamar mandi. Ia tidak mau Bima melihat wajah bantalnya yang berantakan.
Ten menit kemudian, Anaya sudah berada di dapur dengan penampilan yang segar. Mengenakan *cardigan* merah muda hangat dipadu celana kain santai, jemarinya sibuk mengorak-arik telur di atas wajan, menyiapkan sarapan sekaligus bekal sekolah.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan melingkupi tubuhnya dari belakang. Sepasang lengan kekar mendekap pinggangnya erat, menempelkan dada bidang yang familier itu pada punggung Anaya. Dagunya bertumpu nyaman di bahu gadis itu.
"Pagi, Sayang," bisik Bima dengan suara basah khas orang baru bangun tidur yang terdengar seksi di telinga Anaya.
*Cup.* Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Anaya, sukses membuat gerakan tangannya membeku seketika.
"Pa-pagi, Bim," sahut Anaya terbata-bata. Jantungnya mendadak berdegup kencang bagaikan genderang perang. Pagi-pagi sekali ia sudah mendapat serangan jantung.
"Mama sudah mengirimkan baju kerjamu. Sudah aku taruh di meja kamar," sambungnya berusaha menetralkan suara, meski tangannya bergetar saat mengaduk telur.
Bima tidak langsung melepaskan dekapannya. Ia justru membenamkan wajahnya sejenak di ceruk leher Anaya, menghirup aroma vanila yang menenangkan.
"Makasih, Sayang," bisiknya dalam, sebelum akhirnya melonggarkan pelukan dan melangkah menuju meja makan dengan santai, seolah tidak baru saja membuat dunia Anaya jungkir balik.
Anaya terpaku di depan kompor dengan pipi yang merona hebat. "Tadi dia panggil apa? Sayang? Enteng banget ya bicaranya, bikin jantungan saja," gerutunya pelan pada diri sendiri, namun sebuah senyuman manis tak mampu ia sembunyikan.
"Morning, Nay."
Suara bariton lain mengejutkan Anaya. Ia menoleh cepat. Valentino, papanya, sudah berdiri di dekat meja makan dengan pakaian kerja yang rapi, lengkap dengan jas yang tersampir di lengannya.
"Papa? Sejak... sejak kapan Papa di situ?" tanya Anaya kelabakan, hingga sendok di tangannya terlepas dan menimbulkan bunyi dentangan nyaring di atas lantai keramik.
"Sejak Bima memelukmu dari belakang. Papa sudah melihat semuanya, Nay," sahut Valentino dengan kekehan iseng yang menggoda putrinya.
Anaya rasanya ingin menenggelamkan diri ke dalam lantai saat itu juga karena malu. Sementara itu, Bima yang baru saja kembali dari kamar mandi dengan rambut basah tampak bersikap tenang. Ia mendudukkan diri di sebelah Valentino tanpa canggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
