---
*RS GRANIA. KAMAR VVIP. SORE.*
Virgo sama Raka duduk di sofa. Mahal. Kulit. Empuk.
Di meja ada buah impor. Apel Fuji, anggur shine muscat, pir korea.
Tapi yang punya kamar malah ngakak.
"Gue salut sama lo, Nay. Mental lo kuat banget," Virgo geleng-geleng. "Bisa-bisanya putri seorang Sultan jualan kue di sekolah."
Raka nimbrung. "Demi ngejar Bima, ya? Gila sih. Kalo gue jadi lo, udah nyuruh papah beli SMA-nya sekalian."
Anaya nyengir. Pipinya masih pucet. Infus masih nancep. "Tapi kalian janji ya jangan kasih tau Bima tentang ini semua!"
Matanya melas. Kayak anak kucing minta ikan.
Virgo ketawa. "Oke, tapi ada imbalannya kan?"
Alisnya naik turun. Jahil.
Anaya pasrah. "Iya deh kalian mau apa?"
"Macaron buatan lo tiap hari," jawab Virgo sama Raka. Kompak. Kayak udah latihan.
Anaya ketawa kecil. "Iya kalo Papa udah bolehin masak ya."
Suaranya langsung drop. "Emang bokap lu kenapa, Nay?" Raka nanya. Serius.
Anaya narik napas. Nengok ke jendela. "Kayaknya Papa marah. Aku masuk sini gara-gara kecapean. Peralatan masak aku juga disita."
Matanya kosong. Ngebayangin mixer sama oven kesayangannya dikunci di gudang.
Dia harusnya hati-hati. Dia lupa. Valentino itu over protective level dewa.
Dari kecil, Anaya dijaga kayak berlian. Sekolah diantar bodyguard. Temennya disaring.
Makanya Anaya nutup rapat identitasnya di sekolah.
Dulu, pas SMP, Anaya pernah jujur. Bilang dia anak Valentino Group.
Hasilnya? Temen deketin dia cuma buat numpang tugas, numpang traktir, numpang tenar.
Pas Anaya butuh temen curhat, semua ngilang.
Sejak itu Anaya trauma.
Dia punya segalanya. Mobil, rumah, kartu hitam. Tapi dia pengen satu hal: sahabat yang tulus. Yang nerima dia apa adanya. Bukan karena "Putri Valentina".
"Kalian nggak ngasih tau Tari kan?" Anaya tiba-tiba nanya. Panik.
Raka sama Virgo geleng cepet. Kompak.
"Sesuai permintaan tuan putri," Raka godain. Nunduk ala pelayan.
Anaya merajuk. "Jangan ngomong gitu aku nggak suka."
Pipinya gembung. Lucu.
Virgo ngakak. "Iya Nay, kita nggak bocorin kok. Sumpah demi macaron."
"Makasih ya kalian udah dateng jenguk," Anaya senyum tulus.
"Iya sama-sama. Sorry kita cuma bawa buah," Raka garuk kepala. Nggak enak.
Virgo nimpalin. "Lagian gue bingung mau ngasih apaan. Pasti di rumah lo segalanya ada ya kan, Nay?"
Anaya geleng. "Cukup kalian dateng aja udah cukup kok."
Matanya berkaca. _Akhirnya... akhirnya ada yang dateng bukan karena duit Papah._
Virgo tiba-tiba serius. "Seminggu lo nggak sekolah, Bima uring-uringan, Nay."
Anaya kaget. "Bima? Kenapa dia?"
"Kita nggak tau Nay. Tapi yang kita perhatiin dia kayak kurang semangat," Raka ikut cerita. "Makan di kantin nggak habis. Basket bolos. Latihan olimpiade juga bengong."
Virgo nyengir. "Kangen sama lo kali."
Raka manggut-manggut. "Baru kali ini Bima kayak gitu. Gue juga heran."
Anaya gigit bibir. "Kok bisa gitu ya?"
Jantungnya dag-dig-dug.
Virgo nengok Raka. Kode. "Mungkin juga karena perjodohan itu nggak sih, Ka?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
