Pagi itu, kediaman Bima terasa sedikit lebih hangat—atau lebih tepatnya, sedikit lebih bising dari biasanya. Setelah drama bujuk rayu yang menguras energi dan air mata di malam sebelumnya, Anaya akhirnya diizinkan kembali menginjakkan kaki di sekolah. Namun, tinggal satu atap dengan Bima bukan berarti segalanya menjadi mudah. Untuk urusan berangkat sekolah saja, mereka harus melewati perdebatan panjang. Anaya bersikeras naik ojek langganannya, sementara Bima menuntutnya masuk ke dalam mobil. Bagi Anaya, semobil dengan Bima yang auranya selalu sedingin es di Kutub Utara adalah bentuk siksaan psikologis pagi hari.
"Aku sudah siapkan bekal untuk makan siangmu. Nasi goreng sosis kesukaanmu, dan buahnya juga harus dihabiskan, ya? Aku perhatikan bibirmu mulai kering karena kurang serat. Jangan jajan sembarangan di kantin!" cerocos Anaya panjang lebar. Tangannya bergerak lincah merapikan letak dasi Bima, menariknya sedikit agar pas di kerah kemeja cowok itu.
Anaya baru tersadar saat ia mendongak. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium wangi *cologne* maskulin Bima yang segar. Cowok itu hanya diam membisu, namun sepasang mata elangnya menatap Anaya tanpa berkedip. Dan di sana, di sudut bibir yang biasanya lurus kaku, tertarik sebuah lengkungan tipis—sangat tipis, hampir tak terlihat jika Anaya tidak sedang menatapnya sedekat ini.
*Bima sedang menahan senyum.*
Sial. Anaya merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis, dan semburat merah merayap cepat di pipinya. Ia langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk menepuk-nepuk pundak seragam Bima yang sebenarnya sudah bersih.
Laura, yang sejak tadi memperhatikan interaksi manis itu dari meja makan sambil menyesap teh hangatnya, tak kuasa menahan senyum lega. Calon menantunya ini benar-benar definisi perhatian yang tulus, mampu mencairkan gunung es di dalam diri putranya.
"Kamu bangun jam berapa, Nay? Rajin sekali sampai sempat menyiapkan semuanya," tanya Laura lembut, memecah kecanggangan di antara kedua remaja itu.
"Jam lima pagi, Tante," jawab Anaya sopan, melangkah mundur satu langkah untuk memberi jarak dari Bima.
Laura langsung pura-pura cemberut, meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting halus. "Ya ampun, Nay. Sudah dibilang berkali-kali, jangan panggil Tante. Panggil Mama saja, ya? Kamu kan sebentar lagi jadi bagian dari keluarga ini."
Anaya sempat ragu. Ia menggigit rongga mulut bagian dalamnya, merasa tidak enak sekaligus ada rasa hangat yang membuncah di dadanya. "I... iya, Mah."
Tepat saat itu, suara klakson motor yang nyaring terdengar dari depan gerbang rumah mewah mereka. *Tin... tin!*
"Ojek aku sudah datang, Mah. Nay berangkat dulu, ya?" pamit Anaya terburu-buru, merasa terselamatkan dari rasa saltingnya.
"Hati-hati, Sayang. Eh, kamu tidak pamit dulu pada Bima?" goda Laura sambil melirik putranya yang kini kembali memasang wajah datar, meski matanya terus mengikuti pergerakan Anaya.
Anaya yang sudah hampir berlari ke arah pintu luar kembali berbalik.
Dengan gerakan cepat yang sedikit canggung, ia meraih tangan kanan Bima, lalu mencium punggung tangan cowok itu dengan takzim. "Aku... duluan."
Setelah siluet Anaya menghilang di balik pintu jati yang besar, Bima masih terpaku di tempatnya. Tangan kanan yang tadi dicium Anaya perlahan ia angkat, menatap punggung tangannya sendiri yang masih menyisakan kehangatan bibir gadis itu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, mengetuk dadanya dengan liar. Bima mendengus pelan, memalingkan wajah ke arah jendela untuk menutupi telinganya yang mulai memerah.
Suasana SMA Garuda pagi itu cukup ramai. Di sudut koridor dekat loker, Virgo tampak berdiri bersandar pada dinding. Di kedua tangannya, terdapat kantong plastik besar transparan yang memperlihatkan ratusan kotak macaron beraneka warna yang tersusun rapi.
"Pagi, Kak Virgo!" sapa Anaya yang berjalan sedikit terengah-engah setelah berjalan dari gerbang depan.
Virgo menoleh dan langsung menyunggingkan senyum ramah—tipe senyum hangat yang selalu sukses membuat siswi-siswi lain meleleh seketika. Namun bagi Anaya, Virgo tak lebih dari seorang kakak kelas yang sangat baik. "Pagi, Nay. Oh ya, ini pesananmu. Semuanya sudah siap tanpa kurang satu pun."
"Ya ampun, makasih banyak ya, Kak. Repot-repot mampir ke toko kue subuh-subuh," ujar Anaya merasa tidak enak, menerima kantong plastik yang cukup berat itu.
"Kebetulan lewat, Nay. Lagipula, nyokap gue suka banget sama kue lapis legit yang lo titip minggu lalu. Katanya teksturnya pas dan nggak bikin enek," puji Virgo tulus.
Mata Anaya seketika berbinar cerah. "Serius, Kak? Wah, aku senang banget dengarnya!"
"Serius. Bahkan nyokap pengen banget ketemu sama lo kalau ada waktu kosong. Beliau penasaran siapa gadis cantik yang jago bikin kue tradisional ini."
Di tengah percakapan hangat yang diselingi tawa renyah itu, sebuah mobil sedan mewah hitam masuk ke area parkir VIP sekolah. Raka turun lebih dulu dari kursi penumpang, disusul oleh Bima. Begitu kaki jenjang Bima menapak di aspal, mata tajamnya langsung memindai sekitar dan terkunci pada satu titik di koridor: Anaya dan Virgo yang sedang tertawa bersama.
Aura di sekitar Bima mendadak turun drastis. Langkah kakinya yang tegap berubah menjadi hentakan penuh penekanan saat berjalan menuju koridor.
"Woy, Vir! Pagi-pagi sudah tebar pesona aja lo!" teriak Raka yang berjalan mendahului Bima.
"Kak Raka, pagi!" sapa Anaya dengan senyum lebar yang jujur.
Namun, alih-alih membalas senyuman itu, Raka langsung mengangkat kedua tangannya di depan dada, berpose seolah sedang berlindung dari serangan tak kasat mata. "Nay, tolong ya. Gue masih sayang nyawa dan muka ganteng gue. Jangan senyum ke gue manis-manis deh, ngeri gue liat muka cowok lo di belakang. Udah kaya malaikat maut!"
Anaya terkejut, segera menoleh ke belakang dan mendapati Bima sudah berdiri kurang dari dua meter di belakangnya. Rahang cowok itu mengeras, dan tatapannya begitu dingin seolah siap membekukan siapa saja yang berani mendekati Anaya. Anaya segera menaruh jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat pada Raka. "Kak Raka... ssst!"
"Salah melulu gue di mata orang pacaran," celetuk Raka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu memilih mundur perlahan.
Bima mendekat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia berdiri tepat di samping Anaya, matanya menatap tajam ke arah kantong plastik di tangan Anaya, lalu beralih menatap Virgo, seolah menuntut penjelasan atas kedekatan mereka.
Virgo, yang sudah hafal luar kepala watak posesif sahabatnya itu, segera angkat bicara sebelum terjadi salah paham yang berujung adu jotos. "Gue cuma bantu Anaya bawa ini dari parkiran luar, Bim. Nggak mungkin dia bawa kresek sebesar dan seberat ini sendirian sampai ke kelas."
Bima hanya mengangguk singkat, satu cengkeraman samar di tali tasnya menunjukkan bahwa ia masih tidak suka. Anaya yang peka dengan perubahan atmosfer itu segera memutar otak untuk mencairkan suasana. Ia merogoh kantong plastik, mengambil satu kotak macaron berwarna biru pastel, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Bima.
"Ini buat kamu. Rasa *vanilla mint*, sengaja aku pesenin yang nggak terlalu manis karena tahu kamu nggak suka yang legit," ucap Anaya lembut, menatap tepat ke manik mata Bima.
Bima menatap kotak kue itu, lalu menatap wajah Anaya yang memandangnya penuh harap. Perlahan, ketegangan di bahunya mengendur. Ia menerima kotak itu, dan sedetik kemudian, sebuah senyum tipis—hampir tak kentara namun ada—terbit di bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romansa*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
