Empat jam sebelum keberangkatan Bima ke Surabaya, suasana di dalam *suite room* kediaman utama keluarga Bhaskara terasa begitu sunyi namun sarat akan ketegangan yang tertahan.
Koper hitam milik Bima sudah rapi berdiri di dekat pintu, siap untuk dibawa menuju bandara. Namun, sang pemilik kamar masih belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari dalam kamar mandi utama.
Anaya yang sejak tadi duduk di tepi ranjang berukuran *king size* mulai melirik jam dinding digital di kamarnya. Waktu terus berputar, dan penerbangan Bima tidak akan menunggu pria itu jika sampai terlambat.
"Yank, kok mandinya lama banget?" teriak Anaya dari luar, suaranya sedikit meninggi agar bisa menembus pintu kayu ek yang tebal. Tidak ada jawaban, hanya terdengar gemercik deras dari air *shower* yang menghantam lantai marmer di dalam sana.
Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya pintu kamar mandi sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang mengeluarkan kepulan uap hangat. Suara serak dan berat Bima terdengar dari balik celah tersebut.
"Ambilin anduk, Nay. Lupa bawa."
Anaya mendengus pelan, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis. Jiwa barbarnya sama sekali tidak menaruh curiga. Ia beranjak dari ranjang, berjalan menuju lemari besar untuk mengambil selembar handuk putih bersih yang tebal, lalu melangkah santai menuju kamar mandi.
"Ini, Yank," ucap Anaya sambil menyodorkan handuk tersebut melalui celah pintu yang terbuka.
*Greeep!*
Bukannya menerima handuk tersebut, sebuah tangan kekar dengan urat-urat yang menonjol kuat justru mencengkeram pergelangan tangan kiri Anaya dengan sangat cepat dan bertenaga. Sebelum Anaya sempat memproses apa yang terjadi, Bima menarik tubuh mungilnya dengan satu sentakan mutlak, menyeret Anaya masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menutup pintu di belakang mereka dengan tendangan kakinya hingga berdentum rapat.
Sensasi hangat dan basah langsung menyergap seluruh tubuh Anaya saat Bima membawanya tepat ke bawah guyuran *shower* yang menyala deras. Air hangat seketika membasahi pakaian kasual yang dikenakan Anaya, membuatnya melekat ketat di lekuk tubuh porselennya.
"Yank, nakal banget kamu!" seru Anaya sambil terbatuk kecil karena wajahnya sempat terkena cipratan air. Namun, matanya yang bulat langsung menatap lurus ke dalam manik mata obsidian Bima yang kini sudah sepenuhnya menggelap oleh gairah yang membakar.
Bima tidak memberikan kesempatan bagi Anaya untuk melayangkan protes lebih jauh. Pria itu langsung meraup bibir Anaya dengan kasar dan menuntut. Ciuman di bawah derasnya air *shower* itu terasa begitu panas, memutus pasokan oksigen di antara mereka. Sambil terus melumat bibir ranum sang tunangan, jemari kekar Bima bergerak dengan efisiensi yang luar biasa, membuka satu per satu pakaian luar milik keduanya hingga terlepas dan jatuh begitu saja di lantai marmer yang basah.
Ketika pautan bibir mereka terlepas sejenak untuk meraup udara, Anaya menatap Bima dengan pandangan sayu yang berkabut oleh gairah. Rambut hitam Bima yang basah menempel di dahinya, memberikan kesan predator yang sangat seksi di mata Anaya.
"Masih kurang yang semalam?" tanya Anaya dengan nada setengah berbisik, napasnya memburu patah-patah saat merasakan kulit polos mereka saling bergesekan tanpa pembatas.
"Gak akan pernah puas, Yank," desis Bima dengan suara bas yang amat serak dan rendah di depan wajah Anaya. Sisi *psycho* dan obsesifnya benar-benar menolak kenyataan bahwa ia harus meninggalkan gadis ini ke Surabaya selama tiga hari penuh.
Tiga hari adalah waktu yang teramat lama bagi seorang Bima untuk membiarkan miliknya berada di luar jangkauan dekapannya.
Tanpa membuang waktu lagi, Bima membalikkan tubuh Anaya secara paksa namun tetap penuh perhitungan. Dengan cengkeraman yang kuat pada pinggul ramping sang tunangan, Bima merundukkan tubuh mungil Anaya, memposisikannya dalam posisi menungging-*doggy style*-tepat di bawah hantaman derasnya air *shower* yang hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
