BEKAL YANG HILANG

300 11 4
                                        


### LIMA MENIT SEBELUMNYA — SUDUT BACA UTARA
Langkah kaki Anaya yang terburu-buru perlahan memudar dari keheningan perpustakaan, meninggalkan Bima yang kembali terdampar dalam kesendirian.

Pemuda itu mengembuskan napas panjang, mencoba mengurai himpunan emosi yang mendadak berjejal di rongga dadanya—keberhasilan lambung, kegugupan yang langka, serta pening yang berputar menjadi satu.

Ini adalah sekuens pertama dalam sejarah dua tahun terakhir di mana ia benar-benar berada dalam ruang kedekatan absolut bersama Anaya.

Tanpa intervensi Virgo, tanpa polusi suara dari Raka, dan tanpa tatapan menghakimi dari seisi sekolah. Hanya ada mereka berdua, sebuah buku tugas matematika yang menjadi alibi, serta semerbak aroma vanila manis yang tertinggal dari helai rambut gadis itu.

"Lo cantik, Nay," bisik Bima lirih, melayangkan pujian mati itu pada deretan rak buku tua di hadapannya.
Sebaris senyuman pahit yang sarat akan ironi terukir di bibirnya.

"Tapi gue nggak punya kemewahan waktu hanya untuk sekadar membiarkan seorang cewek masuk ke hidup gue." Jemarinya mengepal kuat di atas permukaan meja kayu yang dingin. "Pasti si brengsek Baskara sudah menyusun cetak biru segalanya dengan rapi. Pertunangan bisnis, pernikahan korporasi, hingga suksesi perusahaan.

Hidup gue sudah di-booking bahkan sebelum gue sempat memilih tangisan pertama."
Bima mengacak rambut legamnya dengan kasar, didera frustrasi.

*Kenapa pula lidah gue harus tergelincir dan melontarkan kalimat manipulatif seperti 'kalau mau jadi pacar gue' tadi?*
*Bodoh. Tindakan itu hanya akan menumbuhkan ekspektasi di hatinya. Dan jika mata-mata Baskara sampai mengendus eksistensi Anaya, gadis itu bisa hancur dalam sekejap.*
Bima mendapati dirinya dirayapi ketakutan. Bukan takut pada otoritas absolut Baskara, melainkan takut jika ia harus menjadi arsitek di balik runtuhnya air mata Anaya.

### KELAS 12 IPS 2 — JAM YANG SAMA


Anaya duduk termenung di bangkunya. Presensi Tari yang absen karena kondisi fisik yang menurun membuat sudut kelas itu terasa semakin lengang. Di hadapannya, buku tugas matematika bersampul tebal masih terbentang lebar. Namun, alih-alih menelaah substansi materi, sepasang netra bening Anaya justru terkunci pada guratan tinta hitam milik Bima.
..


Deretan angka logaritma dan kalkulus integral yang rumit itu bertransformasi layaknya untaian bait puisi cinta di mata Anaya. Karakter tulisannya begitu tegas, rapi, tanpa ada satu pun coretan koreksi.
Anaya tersenyum tanpa henti, mengetuk-ngetukkan ujung pulpen merah mudanya ke dagu dengan ritme konstan. "Ternyata, seindah ini rasanya bertukar kata dengan Bima," gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar.


Sepersekian detik kemudian, ia menepuk dahinya sendiri dengan gemas. "Jangan bertindak bodoh, Naya. Lo sama sekali tidak sedang mengobrol dengannya. Lo hanya menatap punggungnya saat dia mengoreksi tugasmu." Namun, meski logikanya mencoba menginterupsi, kurva kebahagiaan di bibirnya enggan surut, persis seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre bernilai fantastis.

"Lihat cewek itu, mengapa dia tersenyum-senyum tanpa orientasi yang jelas?" bisik Siska dari barisan bangku belakang, menyenggol lengan temannya.
"Entahlah, mungkin dia sedang kehilangan kewarasan sesaat," sahut Riska acuh tak acuh, atensinya tetap terpaku pada layar gawai yang tengah menampilkan linimasa media sosial.

"Dari mana dia tadi? Mengapa setelah kembali transformasinya menjadi seaneh itu?" Siska masih didera rasa penasaran yang membuncah, matanya tak lepas memindai siluet Anaya.

"Kepo banget sih lo. Biarkan saja dia dengan dunianya sendiri, kenapa lo yang harus repot?" tukas Riska mulai jengah.

Anaya menangkap setiap artikulasi kalimat itu dengan sangat jelas. Namun, ia memilih untuk membangun benteng ketidakpedulian. Hal seperti ini telah menjadi santapan hariannya sejak kelas sepuluh.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang