Jaket pink Darah dan salah Tabrak

112 1 0
                                        


**Rumah Sakit Harapan Bunda, Ruang Jenazah - 15.40 WIB**
Hening yang tercipta di dalam ruangan itu terasa mencekam, dingin, dan menusuk tulang.
Raka, yang biasanya paling bising di antara mereka, kini hanya bisa terdiam membisu dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya gemetar hebat saat berusaha menumpu berat tubuhnya pada tembok keramik yang dingin. Di sampingnya, Virgo berdiri terpaku. Wajah cowok itu pucat pasi, tatapannya kosong menatap lurus ke arah brankar besi di tengah ruangan.
Sementara Tari, lututnya sudah tak sanggup lagi menopang tubuh. Cewek itu terduduk di lantai keramik yang dingin, menangis tanpa suara. Air mata dan napasnya menyatu dalam sesak yang tak tertahankan.
Di depan brankar, Bima berlutut.
Tidak ada teriakan histeris. Tidak ada amukan. Cowok itu hanya bergeming dalam keheningan yang mematikan, menggenggam erat jemari kaku jasad di hadapannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajah jasad gadis di atas brankar itu rusak parah. Tulang hidungnya patah, bibirnya pecah, dan dahinya robek menyisakan sisa darah kering yang mengerak. Terlalu hancur untuk mengenali garis wajahnya secara langsung.
Namun, jaket yang membungkus tubuh kaku itu... adalah jaket parasit merah muda dengan *patch* bunga sakura di dada kiri. Jaket persis yang dikenakan Anaya pagi tadi saat berpamitan dengannya.
"Jangan tinggalin aku, Nay..." Suara Bima terdengar pecah, sangat pelan, namun sarat akan kehancuran. "Aku nggak bisa tanpa kamu..."
Airmata menetes dari pelupuk matanya, jatuh membasahi kain putih penutup jasad. Satu. Dua. Tiga tetes. Bima-cowok yang bahkan tak meneteskan air mata sedikit pun saat ibunya terbaring koma berbulan-bulan-kini tergugu dengan bahu berguncang hebat.
Raka bergerak maju hendak merangkul dan menenangkan sahabatnya, namun Virgo menahan lengannya cepat. Virgo menggeleng pelan dengan raut serius. *Jangan. Biarkan dulu.*
Mereka tahu betul tabiat Bima. Jika cowok itu sudah berada pada ambang batas kegelapan seperti ini, dia sanggup menghabisi nyawa seseorang hanya dengan tangan kosong.

**30 Menit Sebelumnya - Depan Toko Anaya Cake, 15.05 WIB**
Jesi mencengkeram erat kemudi mobil Agya merah-mobil pinjaman dari kekasih barunya yang seorang mahasiswa. Matanya merah menyala diwarnai amarah yang meluap, sementara gemeretuk giginya terdengar jelas di dalam kabin mobil yang tertutup.
"Lo harus mati, Anaya... Lo harus mati!" umpatnya penuh dendam. Sumpah serapah tak berhenti mengalir dari mulutnya sejak ia melihat unggahan foto Anaya bersama Bima di akun Instagram OSIS siang tadi.
Sejak pukul dua siang, Jesi sudah mengitari area sekitar toko kue milik keluarga Anaya. Menunggu. Mengincar. Seperti seekor ular yang siap menyuntikkan racunnya.
Hingga kemudian, sudut matanya menangkap sesosok presensi di seberang jalan. Seorang gadis mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya-XII IPA 1-sedang berjalan menunduk sambil menatap layar ponsel. Gadis itu mengenakan jaket merah muda. Rambutnya dikuncir kuda, dengan tinggi dan postur tubuh yang sangat serupa.
*Itu dia.*
Sudut bibir Jesi terangkat, membentuk senyuman miring yang penuh kebencian. "Ketemu juga lo."

Ia menarik *seatbelt* dan menguncinya rapat-memastikan dirinya tetap aman. Setelah melirik spion dan memastikan jalanan relatif lengang, Jesi menekan pedal gas dalam-dalam.
Jarum spedometer melesat cepat: 60 km/jam, 80 km/jam, hingga menyentuh 100 km/jam.

"Mati lo, Anaya! Mati!"
*BRAAKK!*
Benturan keras tak terhindarkan. Tubuh gadis itu terpental sejauh tiga meter, terguling berulang kali di atas aspal kotor sebelum kepalanya menghantam sudut trotoar dengan keras. Darah segar seketika mengucur deras, menggenang di bawah kepalanya.

Jesi tak menghentikan laju mobilnya sedikit pun. Tanpa menoleh ke belakang, ia membanting setir dan melesat pergi meninggalkan lokasi kecelakaan. Tangannya gemetar hebat di atas kemudi, namun ada rasa puas yang membakar dadanya. "Rasakan. Akhirnya lo mampus."
Jesi tidak pernah menyadari bahwa korban yang baru saja dihantamnya bukanlah Anaya.

Gadis yang terkapar di atas aspal itu adalah Siska, siswi kelas XII IPS 3. Beberapa menit sebelumnya, Siska dibantu oleh Anaya dan dipinjami jaket merah muda tersebut karena seragam sekolahnya basah kuyup akibat tersiram air hujan.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang