Cincin dan PMS

156 5 0
                                        

Cincin Solitaire dan Susu Jahe Penenang Badai

### GRAND MAJESTIC HOTEL - JAM 19.00. BALLROOM LT. 3
Kilau kemewahan langsung menyambut siapa saja yang melangkah melewati pintu ganda *ballroom*.

Lampu kristal gantung raksasa berpendar terang, memantulkan cahaya ke atas karpet merah yang tergelar rapi hingga ke undakan panggung. Aroma segar dari ratusan karangan bunga lili putih menyeruak, berpadu sempurna dengan wewangian mahal dari para tamu kelas atas.

Bima sudah berdiri tegak di sudut ruangan sejak pukul 18.30. Balutan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu sewarna membuat tubuh tegapnya kelihatan semakin gagah.

Rambutnya disisir rapi ke belakang, menampilkan dahi dan garis rahang yang tegas. Namun, alih-alih bersikap ramah layaknya tuan rumah, auranya justru menyerupai seorang *bodyguard* yang sedang bersiaga penuh. Sepasang netra elangnya terus bergerak tajam, menyapu setiap jengkal area pintu masuk.

*Mana Anaya?*
Di sudut lain, barisan keluarga besar Bhaskara dan Valentino sudah berkumpul. Suasana dipenuhi obrolan bisnis dan tawa formal dari rekan kerja serta kolega kantor. Benar-benar steril dari anak-anak sekolah.

Sementara di belahan area lain hotel...

### KAMAR HOTEL LT. 12 - ROOM 1208

Anaya duduk terpaku di depan meja rias yang dikelilingi oleh tiga orang penata rias sibuk. Malam ini, dia mengenakan gaun bernuansa *dusty pink* berpotongan bahu terbuka yang anggun. Bahan tile lembut bertabur payet Swarovski berkilau halus setiap kali Anaya bergerak. Rambut hitamnya digelung setengah ke atas, membiarkan sisanya jatuh menjuntai membingkai wajahnya yang telah dipoles riasan *soft natural*.

Di atas sofa beludru tak jauh dari sana, Tari duduk dengan mulut setengah terbuka sejak sepuluh menit yang lalu.
"Nay, lo nggak dandan aja udah bikin orang menoleh, apalagi kalau dimodel begini," cetus Tari, jujur terpesona. "Pangling banget gue, sumpah. Lo cantik banget malam ini, Nay."

Anaya meloloskan kekehan kecil, walau jemarinya yang mendadak sedingin es terus meremas lipatan rok gaunnya untuk meredakan gugup. "Bisa aja lo, Tar."

"Teman-teman kelas yang lain beneran nggak ada yang diundang, nih? Serius?" Tari memastikan lagi, masih tidak percaya dengan konsep acara yang super privat ini.

Anaya mengangguk pelan. "Iya, Tar. Cuma kalian bertiga yang kita undang." Matanya melirik ke arah pintu saat Raka dan Virgo melangkah masuk sambil merapikan kerah jas mereka.

"Tapi kenapa, Nay? Secara Bima itu *most wanted* nomor satu di sekolah. Dan lo beruntung banget bisa dapetin dia, setelah perjuangan lo ngejar dia dari kelas sepuluh. Tiga tahun loh, Nay, bentar lagi kita udah mau kelulusan," ucap Tari menggebu-gebu dengan mata berbinar, merasa seperti sedang menonton drama Korea secara langsung.


Anaya mengulas senyum kecut, kilatan rasa tidak percaya diri sempat melintas di matanya. "Fans Bima apa nggak bakal bikin petisi buat demo kalau tahu dia tunangan sama cewek kayak gue?" Suaranya mencicit kecil, mendadak *insecure*.

"Iya juga, sih," sahut Tari, mengetuk dagunya seraya berpikir. "Tapi akhir-akhir ini Bima udah terang-terangan banget nunjukin kalau kalian ada hubungan khusus. Lo nggak ingat waktu insiden lapangan basket? Belum lagi pas insiden Ardi, terus pas lo ujan-ujanan kemarin?"
Anaya terdiam. Memori-memori itu berputar otomatis di kepalanya. Pundaknya sedikit merosot turun. "Gue juga kadang bingung harus bersikap gimana.

Kalau nggak dituruti, Bima bisa pasang muka ketus dan manyun seharian," aku Anaya, lalu tertawa kecil menertawakan nasibnya yang selalu kalah dominan.
"Bima beneran di luar prediksi, sih. Kalau sama lo, dia kayak nggak mau lepas sama sekali. *Good job*, Nay, lo berhasil bikin es batu itu mencair," ucap Tari sambil menepuk bangga bahu sahabatnya.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang