Labirin kendali

11 0 0
                                        

### Bagian 4: Labirin Kendali dan Intrik di Meja Belajar
**JAM 18.15.**
Kepulan uap tipis dari dua cangkir teh hangat yang diantarkan oleh salah satu pelayan beberapa waktu lalu kini telah mendingin sempurna di sudut meja belajar, bersanding kontras dengan lembar-lembar kertas cakar yang terserak tak berdaya. Ruangan itu kembali hening, menyisakan deru napas keduanya yang perlahan mulai teratur kembali.
Bima masih mempertahankan posisinya di atas kursi belajar kayu yang kokoh. Tubuh tegapnya bersandar pada sandaran kursi, sementara Anaya duduk di atas pangkuannya, bersandar pasrah pada dada bidang sang tunangan. Piyama rumahan Anaya yang sedikit berantakan telah dirapikan kembali oleh jemari Bima dengan ketelatenan yang luar biasa-sebuah kontradiksi mutlak dari keliaran yang baru saja ia tunjukkan beberapa menit lalu.
"Badan gue rasanya mau patah, Bima," bisik Anaya lirih. Nada suaranya serak, dan jemari lentiknya yang biasa bergerak lincah kini hanya mampu meremas pelan ujung kemeja Bima yang sudah kusut masai. Jiwa barbarnya yang biasa meledak-ledak seolah tersedot habis oleh intensitas dominasi pria di bawahnya.
Bima tidak langsung menyahut. Menggunakan tangan kanannya, ia mengambil sebatang pensil yang tergeletak di dekat tumpukan buku Kalkulus, memainkannya di antara jemari kekarnya yang berurat kuat dengan ketangkasan seorang mantan ketua OSIS yang terbiasa berpikir taktis.
"Itu konsekuensi karena kamu berani menantang hitungan waktu aku, Sayang," balas Bima. Suaranya terdengar begitu halus, manis, namun sarat akan otoritas yang dingin. "Sepuluh menit kuota belajar teori sudah habis, dan kamu sendiri yang memancing aku untuk memperpanjang sesi praktik."
Anaya mendongakkan kepalanya sedikit, menatap garis rahang tegas Bima dari bawah. Sepasang mata bulatnya yang semula sayu kini memancarkan kembali kilatan provokasi yang menjadi ciri khasnya. "Praktik katanya? Bilang aja otak *psycho* kamu itu emang nyari celah biar bisa ngebobol pertahanan aku sebelum kelulusan tiba."
Mendengar tuduhan verbal yang begitu berani dari bibir ranum sang tunangan, Bima menghentikan gerakan pensil di tangannya. Netra obsidiannya menggelap seketika, mengunci pandangan Anaya dengan intensitas yang sanggup mengintimidasi siapa saja di SMA Alexandria. Bukannya marah, sudut bibir Bima justru terangkat, membentuk senyuman miring yang teramat menawan namun berbahaya.
"Kalau aku mau ngebobol pertahanan kamu sepenuhnya, Anaya, aku nggak akan repot-repot menyembunyikan tandanya di bawah dada," desis Bima rendah. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan, menyalurkan embusan napas hangat yang intim. "Aku tahu regulasi sekolah, aku tahu batasan moral luar, dan aku tahu persis cara menjaga milikku agar tetap terlihat 'bersih' di depan umum. Otak cerdas yang kamu puji itu berfungsi penuh untuk memastikan rahasia kita tetap aman, bahkan di bawah hidung Papa kamu sekalipun."
### Bagian 5: Langkah Kaki di Luar Pintu
*TOK! TOK! TOK!*
Ketukan tiga kali di pintu kayu kamar yang tebal seketika memutus atmosfer pekat yang mengurung mereka. Jantung Anaya melonjak drastis, refleks bergerak hendak turun dari pangkuan Bima karena panik. Namun, cengkeraman tangan kekar Bima di pinggulnya justru mengencang, menahan tubuh mungil itu dengan kekuatan mutlak agar tidak bergeser satu sentimeter pun.
"Bim! Ada Papa di luar!" bisik Anaya panik dengan suara tertahan, matanya membelalak menatap pintu yang terkunci rapat dari dalam.
Bima tetap tenang. Ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun, mencerminkan kontrol diri yang luar biasa dari seorang penerus Baskara Group. Ia menempelkan telunjuknya di bibir Anaya, mengisyaratkan kepatuhan total, sebelum menyahut dengan intonasi suara yang mendadak berubah menjadi sangat santun, formal, dan berwibawa-karakteristik sempurna yang biasa ia tampilkan di depan para guru dan orang tua.
"Iya, Om? Sebentar, Anaya sedang menyelesaikan soal latihan integralnya," jawab Bima lantang namun tetap terdengar penuh hormat.
Dari balik pintu, terdengar suara berat Valentino, ayah Anaya, yang terdengar maklum. "Oh, masih belajar ya? Ya sudah, Bima. Nanti kalau sudah selesai, langsung turun ke ruang makan ya. Om sudah minta bagian dapur menyiapkan makan malam untuk kalian berdua. Jangan terlalu diforsir belajarnya, kasihan Anaya."
"Baik, Om. Terima kasih. Lima menit lagi kami segera turun," balas Bima dengan intonasi yang luar biasa stabil.
Begitu derap langkah kaki Valentino terdengar menjauh dari lorong kamar, Anaya langsung mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di tenggorokannya. Ia memukul dada Bima dengan kepalan tangannya lebih keras dari sebelumnya. "Gila ya lo! Gimana kalau Papa tiba-tiba punya kunci cadangan dan buka pintu ini? Bisa habis kita, Bima!"
Bima terkekeh rendah, suara basnya menggetarkan dada bidangnya tempat Anaya bersandar. Ia melepaskan cengkeramannya di pinggul Anaya, membiarkan gadis itu akhirnya turun dari pangkuannya dengan langkah yang sedikit goyah.
Bima bangkit berdiri, merapikan kemeja hitamnya yang kusut, lalu berjalan mendekati cermin besar untuk memasang kembali dasi sekolahnya dengan presisi yang menakjubkan. Melalui pantulan cermin, ia menatap Anaya yang sedang merapikan kaos rumahannya dengan wajah cemberut namun sarat akan binar kecintaan.
"Papa kamu menghormati privasi anaknya, Nay. Dan dia sangat mempercayai reputasi mantan ketua OSIS nomor satu di sekolah," ujar Bima santai sembari menarik simpul dasinya dengan pas. Ia berbalik, menatap lekat tunangannya dengan pandangan posesif yang kembali menyala.
"Sekarang, ganti baju kamu dengan kaus yang berkerah tinggi sebelum kita turun ke ruang makan. Aku nggak mau sisa kemerahan di dekat selangka kamu mengintip saat kamu mengambil lauk di depan Papa. Otoritas di kamar ini memang punya aku, tapi di bawah sana... kita masih harus bermain dengan kedok yang sempurna."
Anaya mendengus barbar, namun jemarinya tetap bergerak menuju lemari pakaian untuk mengambil kaus sesuai perintah sang tunangan. Pertarungan kendali di antara mereka malam itu mungkin telah usai, namun ikatan mutlak yang mengunci jiwa dan raga mereka semakin menancap dalam, siap dibawa kembali ke balik dinding SMA GARUDA esok pagi.
*Bersambung...*

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang