LUKA YANG DISENGAJA

186 7 0
                                        

---

*Part: Luka yang Disengaja* 

*RUMAH  ANAYA  MALAM. HUJAN MASIH RINTIK.* 

Anaya duduk di sofa. Lututnya diperban. Siku juga. Lecet. Perih. 
Tapi dia senyum. Maksa. 

"Makasih ya, Bi," ucapnya ke Bi Inem, ART-nya . 

"Non sebaiknya bawa supir saja ke sekolah. Bahaya Non kalau gini terus," Bi Inem khawatir. Matanya liat luka Anaya. 

"Bi, ini cuma luka kecil doang. Nggak perlu bawa sopir," Anaya ketawa kecil. Nyepelein. "Jatoh dikit doang." 

*BRAK.* 
Pintu kebuka kenceng. 

"Den Bima," Bi Inem kaget. 

Bima masuk. Basah kuyup. Rambut acak-acakan. Matanya merah. Napas ngos-ngosan. 
Tanpa nengok Anaya, dia langsung perintah, "Bibi tolong kemasin beberapa baju Anaya." 

Anaya kaget. "Bim, aku gak papa. Mau istirahat di sini aja." 
Dia takut. Takut ngerepotin. Takut Laura marah. 

Bima nengok. Tatapannya nusuk. "Lo mau bikin gue jadi cowok nggak guna, Nay? Lo udah berhasil bikin gue nggak berguna banget. Sukses Nay." 
Suaranya pelan. Tapi dingin. Nyesek. 

Anaya kicep. _Dia marah. Marah banget._ 
"Bim, aku nggak maksud gitu. HP aku mati waktu kamu chat ngajak aku pulang bareng. Makanya aku nggak bales dan milih nunggu kamu di halte," jelasnya lirih. 

"Terus kenapa gue nggak liat lo di halte?" Bima jongkok depan Anaya. Matanya nyari jawaban. 

Anaya nunduk. Mainin ujung kaos Raka yang kegedean. "Aku ngumpet... karena kamu pulang bareng Jessica. Maaf," cicitnya. Suara hampir nggak kedengeran. 

Bima diem. Rahangnya keras. Tangannya ngepal. 
_Jadi dia liat. Dia liat gue sama Jessica. Terus milih ujan-ujanan._ 

"Sekarang kamu liat apa yang terjadi? Kamu luka-luka kaya gini dan gue nggak bisa ngapa-ngapain," Bima nunjuk lutut Anaya. Suaranya bergetar. Marah ke diri sendiri. "Mulai besok dan seterusnya lo berangkat dan pulang sekolah bareng gue. Titik." 

"Tapi Bim kamu pasti malu," Anaya masih nolak. 

Bima narik dagu Anaya. Maksa natap dia. "Gue nggak peduli Nay. Lo calon istri gue dan gue nggak mau sesuatu terjadi lagi sama lo. Paham!" 
Nadanya nggak bisa dibantah. 

Tanpa nunggu jawaban, Bima berdiri. Nyenderin badan. Terus ngangkat Anaya. Bridal style. 
Anaya kaget. "Bim!" 
Refleks melukin leher Bima. Takut jatoh. 

Bi Inem yang ngerti langsung lari ke kamar. Ngambilin tas. Isinya baju Anaya. Beberapa potong. 
"Nih, Den," disodorin ke Bima. 

Bima ngangguk. "Makasih, Bi." 
Terus jalan keluar. Nembus hujan rintik. Ke mobilnya. 

Di mobil, hening. 
Bima nyetir satu tangan. Tangan satunya genggam tangan Anaya erat. Kayak takut lepas. 
Matanya lirik lutut Anaya terus. Yang diperban. Yang ada darah keringnya. 
Rasa bersalahnya makin numpuk. 

---

*RUMAH BIMA. 30 MENIT KEMUDIAN.* 

Laura udah nunggu di depan pintu. Dari tadi nelponin Bima nggak diangkat. 

Pas liat Bima gendong Anaya yang pincang, Laura langsung panik. "Ya ampun Nay kenapa bisa luka-luka gini?" 
Nangis. Langsung mau ambil Anaya dari gendongan Bima. 

"Nay keserempet motor Tante," Bima jawab. Cepet. Bohong. 

"Bima... kamu nggak—" Laura mau marah. 

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang