Sambutan Hangat & Rantai yang tak terlihat

29 0 0
                                        


Penerbangan sebelas jam dari Paris akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Begitu keluar dari pintu kedatangan VIP, rombongan anak muda itu langsung disambut oleh dua sosok paruh baya yang penampilannya sangat berkelas. Baskara, papa Bima, berdiri dengan setelan jas rapi di samping Laura, ibu Bima yang tetap terlihat anggun.

Hubungan Bima dan Baskara sejak dulu memang persis seperti Tom and Jerry. Selalu ada saja hal yang membuat mereka saling sindir, meskipun dalam urusan bisnis mereka sama-sama cerdas. Pertunangan Bima dan Anaya pun sebenarnya adalah hasil kerja sama 'licik' antara Baskara dan Valentino-papa Anaya yang juga seorang konglomerat yang kini telah menjadi orang tua tunggal karena ibu Anaya sudah tiada.

Baskara yang awalnya mengira Anaya hanyalah gadis biasa, sempat terkejut. Saat awal masuk SMA, Anaya sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai putri tunggal keluarga Valentino. Di saat anak konglomerat lain sibuk memamerkan gaya hidup borjuis, Anaya justru memilih berjualan kue makaron dan bermacam-macam *dessert* di sekolah. Selama tiga tahun mengejar Bima, Anaya jarang bicara langsung. Ia menaklukkan es batu cerdas itu dengan cara unik: membuatkan bekal masakan enak setiap hari karena ia memang sangat pintar memasak. Anaya lalu menitipkan surat pernyataan cintanya melalui Raka dan Virgo.

Berkat kerja kerasnya sendiri tanpa sepeser pun bantuan modal dari papanya, Anaya bahkan berhasil membangun toko kue sekaligus kafe yang kini menjadi tempat nongkrong favorit mereka bersama Tari, sahabat dekat Anaya. Namun, sejak pesta pertunangan megah kemarin menjelang kelulusan mereka, barulah seluruh satu sekolah tahu bahwa Anaya adalah putri dari sang konglomerat Valentino.

"Selamat datang kembali, calon menantu Mama yang paling cantik!" Laura langsung menghambur memeluk Anaya dengan hangat, mengabaikan Bima yang berdiri di sampingnya dengan wajah datar.

Baskara melirik putranya, lalu beralih ke Anaya sambil tersenyum lebar. "Gimana Paris, Nay? Seru, kan? Papa sengaja suruh kalian foto *prewedding* di sana biar Bima nggak kaku kayak kanebo kering."

Bima yang mendengar itu hanya mendengus dingin. Lengan kekarnya langsung merangkul pinggang Anaya dari samping, menarik tubuh mungil tunangannya agar menempel erat padanya.

Cengkeraman tangannya di pinggang Anaya begitu posesif, sengaja menyembunyikan leher Anaya yang ditutupi *syal* tebal di balik kerah jaketnya.

Di balik *syal* itu, Bima tahu betul ada mahakarya jejak merah keunguan yang ia tinggalkan di dada dan leher Anaya akibat pergulatan panas sebelum mereka pulang.

Baskara memperhatikan gerak-gerik posesif putranya dan seketika membatin. Ia mendadak merutuki keputusannya tempo hari.

Baskara lupa, Bima selalu punya seribu cara untuk mengurung dan mengklaim putri sahabatnya tersebut. Mengizinkan mereka berdua pergi ke Paris untuk foto *prewedding* kemarin, di tengah gejolak cemburu Bima yang gila, benar-benar sebuah kesalahan besar.

Singa di dalam diri Bima jelas sudah bangun dan mengklaim Anaya seutuhnya tanpa sisa.

Di belakang mereka, Raka menyenggol lengan Panji sambil berbisik ketakutan melihat gelagat Bima. "Ji... aura si Bima kenapa malah makin pekat dan posesif banget ya setelah semaleman di kamar? Gue merinding liat cara dia meluk Anaya kayak takut ilang."

Panji menyahut santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, "Ya iyalah, bego. Lu nggak liat itu jalan Kak Anaya agak beda dari biasanya? Ditambah jaket sama *syal* sekencang itu padahal Jakarta lagi panas-panasnya. Nggak usah nonton *live*-nya juga keliatan jelas efek keganasan bos lu."

Raka langsung melotot, menepuk jidatnya sendiri karena baru menyadari detail fisik tersebut.

Sementara Virgo yang berdiri di sudut hanya menatap mereka dengan senyuman tipisnya yang misterius.

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang