paris

44 0 0
                                        

---

*⚠️ WARNING KERAS ⚠️*
*FIKSI 100%. HALU. WATTPAD. BUKAN KEJADIAN NYATA*
*ADA CEMBURU, ANCAMAN, BAHASA KASAR, ADEGAN POSESIF*
*BUAT HIBURAN. JANGAN DITIRU. INI SALAH KALO DI REAL LIFE*
*TOKOH DEWASA 20+

*JUDUL: "YANG BOLEH SENTUH NAY CUMA GUE"*
*CAST: BIMA x ANAYA*
*BONUS: PANJI, RAKA, VIRGO*
*Setting: Paris, Malam. Restoran → Jalan pulang → Hotel*
*Word count: ±2500*

---

*RESTORAN MEWAH. PARIS. JAM 8 MALAM.*

Meja pojok. Lampu temaram. Musik piano pelan. Tapi meja Bima kayak medan perang.

Kenapa? Karena 10 menit lalu, waiter Prancis dengan senyum maut bilang ke Anaya:

_"You look très belle tonight, Mademoiselle."_

Sejak itu, Bima nggak sentuh steaknya. Garpu di tangan. Mata nggak lepas dari pintu dapur tempat waiter tadi ilang.

Panji duduk sebelah Bima. Udah tepuk jidat dari 5 menit lalu. Tangannya belum turun.

Panji: "Kaka... Kaka. Itu waiter. Kerjaannya emang muji customer. Udah SOP."
Bima: _diem. Rahang keras_ *"SOP pala lu, Ji. Bini gue bukan customer."*

Raka di depan. Sendok supnya geter.

Raka: _bisik ke Virgo_ "Go... Go. Jantung gue. Kalo Bim ngamuk, kita ikut dideportasi nggak sih?"
Virgo: _mata tetap ke Bima. Tangan udah di bawah meja. Siaga_ "Fokus. Kalo Bima berdiri, lu langsung halangin pintu. Gue handle Bima."
Raka: "GUE? YANG BADAN KAYU GINI? MATI GUE GO."

Anaya duduk di sebelah Bima. Dress malem warna maroon. Bahu kebuka dikit. Dari tadi tangannya ngelus punggung tangan Bima di bawah meja.

Anaya: _pelan. Cuma Bima yang denger_ "Yang... udah dong. Aku nggak dengerin dia kok."
Bima: _akhirnya nengok. Mata gelap_ *"Tapi gue denger, Nay."*
Bima: *"Dan gue nggak suka."*

Panji: _nyerah. Tangan turun dari jidat_ "Kaka, terus mau gimana? Mau samperin? Mau ngajak ribut? Ini Prancis Kaka. Bukan tanah abang."
Bima: _senyum. Tapi nggak lucu_ *"Makanya gue diem, Ji. Kalo di tanah abang, udah gue seret orangnya."*

Raka: _ngokop air putih. Keselak_ "UHUK! Bim! Demi Allah Bim. Jangan."

Waiter itu keluar lagi. Bawa makanan penutup. Jalan ke arah meja lain. LEWAT MEJA BIMA.

*DEG.*

Bima langsung tegak. Kursi geser. *KREK.*

Virgo: _berdiri 1/2 badan_ "Mas Bima."
Panji: _nahan lengan Bima_ "KAK. KAK. ASTAGFIRULLAH."
Raka: _udah berdiri. Mau nangis_ "BIM! GUE BELUM KAWIN BIM!"

Anaya: _reflek. Dua tangan langsung nyekel pipi Bima. Dipaksa nengok ke dia_
Anaya: *"Yang. Liat aku. Liat Nay."*

Bima: _napas berat. Tapi matanya nurun ke Anaya_ *"Apa, Sayang?"*
Anaya: _jempol ngelus pipi Bima yang kasar_ "Tadi kamu janji kan? Katanya kalo aku bilang kamu ganteng, kamu tenang."
Bima: _diem_
Anaya: _senyum. Pelan_ "Kamu ganteng, Yang. Paling ganteng se-Paris. Se-dunia. Menurut aku."
Anaya: *"Terus kamu mau ngamuk? Terus nanti aku makan malem sama siapa? Sama Raka?"*

Raka: _kaget ditunjuk_ "EH JANGAN KAK NAY. GUE MAU IDUP."
Bima: _ngerem. Denger nama Raka. Terus ngeliat Anaya_ *"...engga."*
Bima: *"Lu makannya sama gue. Selamanya."*

Panji: _hela napas. Lega_ "Nah gitu dong Kaka. Balik. Duduk."

Bima: _duduk lagi. Tapi narik kursi Anaya. Mepet. Banget._
Bima: _bisik. Cuma Anaya yang denger_ *"Makasih, Nay. Kalo nggak ada lu, beneran udah gue bikin rusuh."*
Anaya: _nyender ke bahu Bima_ "Makanya jangan pergi-pergi, Yang. Aku takut kalo kamu marah nggak ada yang ngademin."

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang