LAPER

199 6 0
                                        


Konspirasi Malam dan Rahasia Turtleneck

### TAMAN BELAKANG RUMAH ANAYA — MALAM
Suasana malam di taman belakang rumah Anaya terhitung sepi, cuma ada suara jangkrik dan embusan angin lembut yang bikin suasananya jadi makin magis. Di atas bangku taman panjang, Anaya duduk diam sambil menatap cowok yang kepalanya lagi rebahan santai di paha dia.
Bima tidur. Napasnya teratur banget, embusan napas hangatnya sesekali kerasa di kulit tangan Anaya. Dengan deretan bulu mata yang panjang dan garis wajah yang tegas, Anaya harus mengakui kalau level kegantengan cowok ini emang udah di luar nalar.
Jemari Anaya bergerak pelan, mengusap rambut legam Bima dengan gerakan yang super hati-hati, seolah-olah lagi menyentuh barang pecah belah yang mahal banget. Di dalam hatinya, Anaya beneran bingung.
*Di sekolah jutek dan cueknya minta ampun, tapi kenapa pas berdua malah nempel kayak perangko gini sih?*
"Kamu kelihatan capek banget, Bim. Kenapa nggak langsung istirahat di rumah aja?" bisik Anaya pelan banget, takut suara dia bakal merusak tidur nyenyak cowok itu.
Bukannya lanjut tidur, sepasang netra elang milik Bima malah terbuka setengah. "Soalnya lo nggak mampir ke rumah gue. Makanya gue yang ke sini," sahut Bima dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Anaya refleks terkesiap. "Loh, bukannya kamu lagi marah sama aku?" Kedua alis Anaya langsung menyatu, pasang tampang bingung.
Bima mengernyit, raut wajahnya kelihatan heran. "Siapa juga yang marah?" Dia malah balik bertanya sambil mendudukkan dirinya dengan tegak.
"Tapi pas di sekolah kemarin kamu nyuekin aku terus, Bima," cicit Anaya sambil menunduk, jemarinya sibuk memainkan ujung *dress* yang dia pakai.
Bima malah meloloskan kekehan kecil. "Siapa yang nyuekin, hm? Kan kamu sendiri yang dari awal minta supaya hubungan kita ini dirahasiakan dulu di area sekolah." Tangan Bima terangkat, mencolek gemas ujung hidung Anaya yang mancung.
Anaya langsung mendongak dengan mata bulatnya yang berbinar polos. "Jadi... kamu beneran nggak marah?"
Bima nggak menjawab lewat kata-kata. Dia malah menggeser posisi duduknya, mengikis jarak di antara mereka sampai nggak ada ruang yang tersisa.
"Enggak," bisik Bima pelan.
Kedua tangan cowok itu tiba-tiba naik, menangkup kedua pipi Anaya dengan lembut. Anaya langsung membeku di tempat. *Ya Tuhan, jaraknya dekat banget!*
"Bim... nanti kalau ada yang lihat gimana?" Anaya mulai panik, matanya bergerak liar melirik ke kanan dan ke kiri, takut kalau tiba-tiba Bi Imah muncul bawa sapu.
Tapi, bukan Bima namanya kalau gampang diatur. Bukannya menjauh, cowok itu malah makin memajukan wajahnya sampai embusan napas hangat mereka saling beradu di udara.
"Gue laper," bisik Bima tepat di depan rungu Anaya. Nada suaranya yang berat dan dalam sukses bikin Anaya merinding dari ujung kaki sampai ubun-ubun.
Anaya tertawa gugup, mencoba menetralkan detak jantungnya yang udah mirip kereta ekonomi. "Ya... ya udah, kita masuk ke dalam sekarang." Anaya langsung berdiri dengan cepat sebelum dia makin salah tingkah.
"Gue mau nasi goreng buatan lo," ujar Bima ikut bangkit berdiri, berjalan mengekor di belakang Anaya tanpa ada rasa canggung sama sekali.
Anaya tersenyum lega sambil menoleh. "Iya, aku masakin." Hatinya bersorak senang, akhirnya cowok ini mau minta makan buatannya lagi.
### DAPUR UTAMA RUMAH ANAYA — 10 MENIT KEMUDIAN
Dapur rumah Anaya itu luas banget, bersih, dan punya fasilitas lengkap ala dapur restoran bintang lima. Begitu Anaya dan Bima melangkah masuk ke sana, barisan asisten rumah tangga yang tadinya ada di dapur langsung bubar jalan dengan kompak. Mereka semua pura-pura sibuk di tempat lain, padahal aslinya lagi pada pasang mata dari balik celah pintu.
*"Den Bima gantengnya kebangetan ya, Sus."*
*"Pantesan Non Anaya bela-belain masak tiap hari."*
Biarpun pada heboh berbisik, nggak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat. Semua orang di rumah itu udah paham betul kalau Bima adalah calon tuan muda mereka.
Sementara itu, Anaya mulai sibuk membuka kulkas. Dia mengeluarkan telur, nasi putih, bawang merah, dan beberapa buah cabai. Baru saja Anaya hendak mengambil cobek untuk mengulek bumbu, tiba-tiba...
*PLEK.*
Sepasang lengan kokoh melingkar sempurna di perut Anaya dari arah belakang. Bima memeluknya erat, lalu menumpukan dagunya dengan santai di bahu kecil Anaya.
"Bim..." Anaya terkejut setengah mati, pisau di tangan kanannya hampir saja merosot jatuh ke lantai.
Bima sama sekali nggak menyahut. Cowok itu malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anaya, memberikan kecupan ringan di pipi Anaya sebelum beralih ke area leher. Sentuhan bibir Bima yang terasa hangat dan sedikit basah langsung bikin pertahanan Anaya runtuh.
"Bima... ahh, jan... jangan gini. Nanti ada orang yang lihat," cicit Anaya gelagapan. Kedua tangannya terpaksa mencengkeram pinggiran meja dapur karena merasa lututnya mendadak lemas seperti jeli.
Bima tetap keras kepala. Dia dengan lembut memutar tubuh Anaya agar mereka bisa saling berhadapan. Sepasang netra elang milik Bima langsung terkunci pada bibir ranum Anaya yang sedikit terbuka.
Tanpa memberikan aba-aba, Bima menundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya di atas bibir Anaya. Awalnya gerakan Bima terasa pelan dan lembut, seolah-olah lagi menikmati tiap detiknya. Anaya sempat terbelalak saking kagetnya, tapi dua detik kemudian matanya perlahan terpejam pasrah. Kedua tangannya bergerak naik, meremas ujung kemeja yang dipakai Bima.
Bima mengusap pipi Anaya dengan sebelah tangannya, memperdalam tautan bibir mereka. Napas mereka yang memburu saling berkejaran di udara sampai Anaya merasa otaknya kekurangan pasokan oksigen.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat intens, Bima akhirnya menyudahi ciuman itu. Napasnya terdengar agak terengah-engah dengan jidat yang masih menempel erat di jidat Anaya.
Sebaris senyum tipis terukir di wajah tampan Bima. Dia memberikan satu kecupan singkat di kening Anaya sebelum berkata dengan wajah tanpa dosa, "Nasi goreng gue mana?"
"Nasi goreng!" jerit Anaya tersadar dari keterpakuannya. Dia langsung mendorong dada Bima menjauh dan buru-buru berbalik ke arah wajan.
Untung saja apinya masih kecil, jadi nasinya belum sempat gosong. Anaya langsung mengaduk nasi goreng itu dengan gerakan cepat. Mukanya sudah merah padam kayak kepiting rebus, dan dia bisa merasakan bibirnya agak bengkak akibat ulah Bima tadi.
Bima yang berdiri di belakangnya cuma bisa tertawa puas. Di mata Bima, ekspresi cemberut dan salah tingkah Anaya itu beneran menggemaskan banget sampai rasanya ingin dia monopoli sendiri.
Di luar area dapur, Valentino dan Bagaskara ternyata lagi asyik mengintip dari balik pilar.
"Ayo, Pah, buruan pindah! Nanti kalau ketahuan, Bima bisa ngambek seminggu," bisik Aura sambil menarik-narik ujung jas suaminya.
"Iya, Mah, ini Papa juga mau geser. Awas ya, Mamah jangan sampai keceplosan kalau kita udah tahu," sahut Bagas berbisik-bisik. Padahal, mereka berdua nggak sadar kalau aksinya udah dari tadi ketahuan sama para asisten rumah tangga yang lain.
### SELESAI MAKAN MALAM
Begitu piring nasi gorengnya bersih tanpa sisa, Bima langsung meraih pergelangan tangan Anaya. "Keluar yuk."
"Hah? Mau kemana lagi, Bim?" tanya Anaya bingung.
"Mau ngabisin waktu berdua. Gue udah seminggu nggak bisa ketemu dan ngeliat muka lo secara langsung," jawab Bima sambil menarik pelan tangan Anaya menuju garasi mobil.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan malam, Bima menyetir hanya dengan menggunakan satu tangan. Sementara tangan satunya lagi? Menggenggam erat jemari Anaya di atas paha, sama sekali nggak berniat buat dilepaskan.
"Maaf ya buat seminggu kemarin gue beneran nggak ada ngasih kabar," buka Bima, nada suaranya terdengar penuh penyesalan. "Jadwal karantina olimpiade kemarin padat banget. Ditambah si Jessica nempel terus, dan sialnya semua ponsel peserta disita sama panitia."
Anaya menoleh, sebaris senyum manis terbit di bibirnya. "Iya, nggak apa-apa kok, Bim. Tapi lain kali kalau mau pergi bilang ya, biar aku nggak cemas sendirian."
"Ponsel lo mana?" tanya Bima tiba-tiba saat mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Buat apa, Bim?" tanya Anaya balik, tapi tangannya tetap bergerak merogoh tas dan menyerahkan benda pipih itu ke Bima.
Bima menerima ponsel itu, langsung membuka fitur kamera, lalu dengan gerakan cepat menarik tubuh Anaya ke dalam dekapan sampingnya. Dia menumpukan dagunya di bahu Anaya.
"Nay, liat sini," panggil Bima.
Begitu Anaya menoleh...
*CEKREK.*
Sebuah foto *candid* berhasil terabadikan. Di layar ponsel, kelihatan jelas foto hidung mereka berdua yang saling menempel erat. Ekspresi mata Anaya kelihatan syok banget, sedangkan mata Bima tampak menyipit karena sedang tersenyum puas.
"Cantik," gumam Bima lirih, tapi kata itu terdengar sangat jelas di rungu Anaya.
Jantung Anaya rasanya mau melompat keluar, dan wajahnya kembali terasa panas. *Dia... baru aja muji aku cantik?*
"Besok... kamu dateng kan?" tanya Anaya buru-buru mengalihkan pembicaraan karena terlampau salah tingkah.
"Ke acara *grand opening* toko kue baru lo?" Bima rupanya udah tahu segalanya.
Anaya mengangguk penuh semangat. "Jadi, hubungan kita udah boleh dipublikasikan ke anak-anak sekolah?"
Bima menoleh, menampilkan senyum miring andalannya. "Bima, ih..." rengek Anaya karena gemas melihat respons cowok itu.
"Iya, gue pasti dateng," sahut Bima akhirnya sambil mengacak-acak rambut Anaya sampai sedikit berantakan.
"Bimaaa! Rusak tahu rambutnya!" seru Anaya kesal. Bima malah tertawa lepas, lalu buru-buru keluar dari mobil begitu mereka sampai di area taman kota, membiarkan Anaya mengejarnya sambil tertawa riang seperti anak kecil sampai mereka berdua merasa lelah.
### JAM 10 MALAM — DEPAN RUMAH ANAYA
Mobil sedan mewah milik Bima akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kediaman Anaya. Mesin mobil dimatikan, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu taman yang masuk melalui kaca mobil. Namun, tangan Bima masih setia menggenggam jemari Anaya dengan erat.
"Besok kamu ke tokonya bareng siapa, Bim?" tanya Anaya iseng.
"Bareng Virgo sama Raka. Kenapa emangnya, Nay?" Bima menatap Anaya heran.
"Enggak ada apa-apa kok, cuma nanya aja," jawab Anaya dengan senyum tipis. Padahal di dalam hatinya, ada rasa ragu yang mendalam. *Gimana kalau nanti Tari marah karena aku menyembunyikan identitas asli aku? Gimana kalau satu sekolah tahu aku anak dari pemilik Valentino Group?*
"Nay, kalau lo lagi ada masalah atau mikirin sesuatu, langsung cerita ke gue. Oke?" ujar Bima dengan nada suara yang berubah serius, seolah bisa membaca isi pikiran cewek di sampingnya.
Anaya mengangguk pelan. "Bim, aku boleh pinjam ponsel kamu sebentar?" tanya Anaya tiba-tiba.
Tanpa perlu berpikir dua kali, Bima langsung menyerahkan ponsel miliknya. "Nih."
"Loh? Ponsel kamu nggak dipasang kata sandi atau *pattern*?" Anaya terkejut melihat layarnya yang langsung terbuka.
"Nggak. Lagian nggak ada rahasia apa-apa juga di dalamnya. Cuma..." Bima sengaja menggantung kalimatnya, memasang tampang misterius.
"Cuma apa? Jangan-jangan kamu diam-diam nyimpen foto atau video aneh ya?" tuduh Anaya dengan kedua alis terangkat, mendadak dilanda rasa cemburu.
Bima tertawa terbahak-bahak. "Periksa aja sendiri kalau nggak percaya."
Anaya langsung membuka aplikasi galeri foto Bima. Jarinya bergerak melakukan *scroll* ke bawah berulang kali. Hasilnya nihil. Nggak ada riwayat *chat* dengan cewek lain, bahkan foto Jessica pun sama sekali nggak eksis di sana. Tapi, ada satu hal yang bikin pergerakan jari Anaya mendadak berhenti.
Di sana ada banyak banget foto diri Anaya. Mulai dari foto saat Anaya lagi fokus memasak, foto saat dia lagi nyengir kuda, tampang cemberutnya pas kesal, sampai foto yang diambil dari jarak jauh. Semuanya berupa foto *candid* yang diambil Bima secara diam-diam selama dua tahun terakhir.
Dan di barisan paling atas, ada foto teranyar mereka berdua yang baru saja diambil di dalam mobil tadi—foto dengan posisi hidung yang saling menempel.
Anaya perlahan mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya sambil menunduk dalam, merasa bersalah. "Maaf ya... aku udah sempat curiga yang aneh-aneh sama kamu."
Bima memajukan mobilnya sedikit agar pas di depan pintu utama rumah Anaya. "Kita udah sampai."
"Makasih ya buat waktu malam ini," ujar Anaya sambil melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan malu-malu.
Baru saja Anaya hendak membuka pintu mobil, pergelangan tangannya kembali ditahan oleh Bima. "Gue mau minta hadiah dulu."
"Hadiah apa lagi, Bima?" Anaya menolehkan kepalanya.
Bima tidak menjawab, dia hanya mengetukkan jari telunjuknya di pipi kanannya sendiri. "Ini."
"Bim, ih! Nanti kalau dilihat sama satpam depan atau terekam kamera CCTV gimana? Malu tahu," tolak Anaya sambil melirik ke arah luar kaca mobil.
"Gue nggak bakal jalan pulang sebelum dapet hadiahnya," ancam Bima sambil merajuk, memajukan bibir bawahnya layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan.
Anaya mengembuskan napas panjang, akhirnya memilih untuk mengalah. "Iya deh, iya."

Anaya mulai memajukan wajahnya, berniat untuk memberikan satu kecupan singkat di pipi kanan Bima. Namun, tepat satu sentimeter sebelum bibirnya mendarat, Bima bergerak dengan konstrasi refleks yang super cepat.
Cowok itu memutar kepalanya, tangan kirinya bergerak cepat mengunci tengkuk Anaya, sementara tangan kanannya menahan pinggang gadis itu agar tidak mundur. Detik berikutnya, Bima langsung membungkam bibir Anaya dengan ciuman yang sesungguhnya.

Bukan sekadar kecupan biasa di pipi, melainkan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh akan letupan emosi yang selama seminggu ini dia tahan. Bima memperdalam tautan mereka, memastikan Anaya nggak punya celah untuk melepaskan diri.
Anaya sempat terkejut dan memukul dada bidang Bima dengan tangan kecilnya, tapi pukulan itu perlahan melemah. Lima detik kemudian, Anaya memilih untuk memejamkan matanya rapat-rapat, membalas sentuhan Bima dengan ritme yang sama.


Ciuman malam itu berlangsung cukup lama dan intens di dalam keheningan mobil tangan Bima merayap masuk  meremas bukit kembar milik Anaya , meremas nya dengan konstan sampai akhirnya Anaya benar-benar kehabisan pasokan napas dan memukul pelan bahu Bima sebagai isyarat.
Begitu tautan bibir mereka terlepas, Bima tampaknya masih belum merasa puas. Dia menurunkan kecupannya ke arah leher jenjang Anaya yang putih bersih.
*CUP.*
Bima memberikan satu tekanan kuat di sana menggunakan bibirnya, menghisap kulit lembut itu selama beberapa detik sampai meninggalkan sebuah bekas kemerahan pekat yang kontras.  Sebuah *kissmark* berukuran cukup besar terpampang nyata di sana—sebagai tanda kepemilikan mutlak seorang Bima Bagaskara.

Bima menjauhkan wajahnya, menatap hasil mahakaryanya di leher Anaya dengan sebaris senyum puas yang kelihatan sedikit nakal. *Dengan begini, besok lo nggak bakal berani pakai baju dengan kerah terbuka atau main keluar pakai hotpants, Nay,* batin Bima protektif.

Rh7
Anaya langsung menangkup lehernya yang terasa anget dan berdenyut. "Bima... kamu bener-bener ya..."
Bima cuma menyeringai tanpa rasa bersalah. "Udah malem. Buruan masuk terus tidur.

Besok pagi gue jemput." Bima langsung menyalakan mesin mobilnya kembali dan melesat pergi dari halaman rumah Anaya.
Meninggalkan Anaya yang masih berdiri mematung di teras rumah dengan pipi yang memerah total, bibir yang sedikit bengkak, dan sebuah tanda kepemilikan baru yang tercetak jelas di lehernya.


### BESOK PAGINYA — AREA SEKOLAH
Pagi ini, Anaya terpaksa melangkah masuk ke area sekolah dengan menggunakan baju *turtleneck* rajut hitam tebal, padahal suhu udara Jakarta lagi panas-panasnya.

Aksi anehnya itu langsung mengundang radar kecurigaan dari Tari yang berjalan di sebelahnya. "Nay, lo sehat kan? Leher lo kenapa musti ditutupin rapat banget pakai baju kayak gitu? Nggak gerah apa?"

Anaya langsung dilanda kepanikan luar biasa. "Eh? Nggak... nggak apa-apa kok, Tar! Ini... leher gue lagi jerawatan parah, iya jerawat batu!" kilah Anaya asal-asalan.

Tari yang penasaran langsung mengulurkan tangannya, berniat buat menarik kerah baju Anaya ke bawah. "Masa sih? Sini coba gue liat!"

Melihat bahaya di depan mata, Anaya langsung berkelit mundur.

"EH ITU ADA BIMA DI SANA!" teriak Anaya sambil menunjuk ke arah sembarang tempat.

Tari refleks menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk Anaya. "Mana? Nggak ada siapa-siapa juga."

Begitu Tari berbalik badan lagi, eksistensi Anaya udah nggak ada di tempat.

Gadis itu udah mengambil langkah seribu, berlari kencang menuju area kelas demi menyelamatkan rahasianya.

Sementara itu di dalam kelas, Bima yang sudah duduk tenang di bangkunya cuma bisa mengulas senyum penuh kemenangan begitu melihat siluet Anaya yang masuk kelas dengan baju *turtleneck*-nya.
*Misi proteksi berhasil total.*

*             Bersambung...*
      

### NOTE DARI AUTHOR 🤭🔥
GIMANA? GIMANA?
BIMA POSSESSIVE MODE: HIGHLY ACTIVATED! 😭💚 Akhirnya tanda kepemilikan mutlak sukses tercetak di leher Anaya ya, wkwkwk!
Siapa yang ikutan nahan napas pas Bima mendadak romantis di bawah lampu taman?
Terus, siapa yang gemes banget liat Anaya kudu menahan gerah pakai baju tebal seharian di sekolah? NGAKU DI KOLOM KOMENTAR! 👇✨
Jangan lupa buat terus klik **VOTE, KOMEN, DAN SHARE** cerita ini ke temen-temen kalian!
Biar toko kue Anaya nanti sore laris manis, dan biar Bima nggak makin ngadi-ngadi bikin cap stempel baru di leher Anaya 😭🍳💸
Kalian lebih suka tipe Bima yang "Bucin Manis" atau Bima yang "Posesif Maksimal" nih? Tulis pilihan kalian ya! See you di part selanjutnya! 🔥

--- 

                        Bersambung

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang