### Bagian 1: Batasan Aman Sang Mantan Ketua OSIS
**KAMAR ANAYA. JAM 20.30.**
Bima boleh saja memiliki sisi *psycho* dan obsesi yang gelap, tetapi dia sama sekali tidak bodoh. Sebagai mantan ketua OSIS nomor satu di SMA Alexandria yang sangat memahami setiap jengkal regulasi sekolah, Bima tahu persis konsekuensi dari tindakannya. Aturan mengenai pelanggaran asusila di lingkungan sekolah sangat ketat; sekali saja jejak itu tertangkap oleh radar tajam guru BK, bukan hanya Anaya yang akan terseret dalam masalah besar, melainkan juga reputasi Baskara Group yang ia pertaruhkan.
Oleh karena itu, seposesif dan keliarannya malam itu, akal sehat Bima tetap memetakan wilayah dengan perhitungan yang luar biasa presisi.
"B-Bim... jangan di leher... nanti ketahuan," cicit Anaya di tengah napasnya yang memburu, mencoba menyadarkan pria yang kini tengah mengungkung tubuhnya di atas kasur.
Bima menarik sudut bibirnya, menyeringai tipis dengan netra obsidian yang menggelap sempurna. "Gue tahu batasannya, Sayang. Gue nggak akan biarin guru BK punya alasan buat menyentuh atau menghukum milik gue," desis Bima dengan suara bas yang rendah.
Bukannya menorehkan tanda di area terbuka seperti leher atau selangka yang berisiko mengintip dari balik kerah seragam Alexandria yang longgar, Bima justru memindahkan fokus buruannya jauh ke bawah. Jemari kekarnya menyingkap piyama satin Anaya lebih tinggi, mengekspos lekukan tubuh matang sang tunangan yang seputih porselen.
Dengan gerakan lambat namun sarat akan penekanan yang dalam, Bima menenggelamkan wajahnya tepat di bawah gundukan kembar Anaya, serta di area sensitif di samping putingnya yang menegang seksi. Di sanalah Bima meluapkan seluruh candunya.
Ia meraup, menyesap, dan menghisap kulit hangat itu dengan kekuatan penuh, sengaja meninggalkan deretan stempel keunguan yang pekat dan dalam.
Area tersembunyi itu adalah titik buta yang paling aman. Seberapa banyak pun tanda kepemilikan yang ia cetak di sana, semua itu akan tetap terisolasi dengan rapat di balik pakaian dalam dan seragam tebal Anaya, tidak akan pernah bisa dijangkau oleh pandangan miring siapa pun di sekolah.
### Bagian 2: Siasat di Balik Pakaian Turtleneck
**SMA GARUDA. JAM 07.20.**
Meskipun tanda kemerahan itu sengaja ditempatkan di wilayah bawah dada yang paling aman dari pemeriksaan kasat mata, sifat paranoid Bima tetap tidak bisa ditawar. Penggunaan dalaman kaus berleher tinggi (*turtleneck*) putih di balik seragam tetap diwajibkannya pada Anaya pagi ini. Baginya, itu adalah lapisan proteksi ganda agar siluet tubuh Anaya yang semakin matang dan padat tidak memancing imajinasi liar cowok-cowok lain saat gadis itu bergerak aktif di kelas.
"Nay, lo beneran nggak papa kan?" Virgo yang tadinya sempat diinterupsi oleh Bima di koridor, kembali melirik ke arah Anaya sebelum benar-benar melangkah menjauh menuju ruang OSIS. "Kalau butuh ke UKS, bilang gue."
"Gue aman, Go. Cuma butuh adaptasi sama cuaca aja," jawab Anaya, mencoba tersenyum senormal mungkin sembari menekan lengan seragamnya sendiri.
Di bawah lapisan kain *turtleneck* dan bra yang mendekap erat dadanya, Anaya bisa merasakan gesekan halus pada kulitnya yang masih terasa berdenyut nyeri akibat hisapan dalam Bima semalam.
Tanda di bawah dada dan di samping putingnya itu terasa hangat, seolah terus-menerus mengingatkan Anaya akan kepemilikan mutlak yang telah ditorehkan tunangannya.
Bima yang berdiri di samping Anaya hanya memperhatikan interaksi singkat itu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Begitu Virgo benar-benar menghilang di balik belokan koridor, tangan kekar Bima langsung menyelinap di balik pinggang Anaya, menuntun gadis itu berjalan dengan langkah dominan menuju ruang kelasnya.
"Pintar. Tetap kayak gini seharian, jangan dilepas *turtleneck*-nya," bisik Bima sangat rendah, nyaris menyerupai desiran angin di telinga Anaya, memastikan bahwa rahasia keintiman mereka tetap terkunci rapat di bawah kendali penuh otoritasnya.
*Tbc...*
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
