Murid Pindahan Dan Obsesi Buta

11 1 0
                                        


**RUANG KELAS XII IPS. TIGA BULAN SEBELUM KELULUSAN.**
Kedatangan siswi baru di tengah semester akhir biasanya tidak akan memicu riak besar di SMA Alexandria yang super ketat. Namun, tidak bagi Katarina. Putri tunggal dari salah satu manajer eksekutif yang baru saja dipromosikan di anak perusahaan Baskara Group itu masuk dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan tas bermerek dan riasan yang melanggar batas regulasi sekolah.

Bagi Katarina, pindah ke sekolah elite ini adalah ajang pembuktian status sosial. Dan target utamanya untuk menyempurnakan status itu sudah jelas: **Bima Bhaskara**. Mantan ketua OSIS nomor satu, pewaris tunggal Baskara Group, yang ketampanan dan aura dinginnya langsung membuat Katarina terobsesi sejak hari pertama.

"Gila, ganteng banget. Itu siapa, Kat?" bisik Sherly, salah satu siswi yang langsung merapat ke meja Katarina demi mencicipi aura kemewahan anak baru itu. Matanya menunjuk ke arah koridor luar, tempat Bima sedang berjalan dengan membawa map dokumen bersama Virgo.

Katarina tersenyum miring, menatap Bima tanpa berkedip. "Bima Arya Putra Bhaskara. Pewaris tunggal Baskara Group. Target gue."
"Mimpi lo ketinggian, Kat," timpal tasya, teman sebangkunya yang lain, sambil terkekeh pelan. "Jangankan lo, model majalah remaja angkatan atas aja nggak dilirik sama dia. Bima itu sedingin es, nggak tersentuh. Isinya cuma belajar, OSIS, sama gengnya yang eksklusif itu-Virgo sama Raka."

Katarina mendengus sinis, jemarinya mengetuk-ngetuk tas desainer miliknya dengan percaya diri. "Di dunia ini nggak ada yang nggak tersentuh buat gue. Apalagi bokap gue baru aja naik jabatan di perusahaan keluarganya. Tinggal tunggu waktu aja."

Namun, seiring berjalannya minggu, radar tajam Katarina menangkap sesuatu yang janggal. Di mata publik sekolah, Bima memang tampak seperti lajang yang tidak punya celah. Tapi tidak di mata Katarina yang terobsesi membuntutinya.

Siang itu di perpustakaan, Katarina sengaja duduk di balik rak buku, memperhatikan Bima yang sedang membaca jurnal ilmiah. Di saat yang sama, seorang siswi kelas XII IPA bernama Anaya masuk untuk mengembalikan buku teks. Gadis itu tampak sangat biasa, cenderung pendiam, dan berpenampilan teramat sopan dengan kaus dalaman *turtleneck* hitam yang selalu menutupi lehernya. Anaya sama sekali tidak bertingkah mencari perhatian.
Tapi, begitu Anaya berjalan melewati meja Bima, Katarina membelalakkan matanya. Ia melihat dengan jelas bagaimana mata obsidian Bima yang sedingin es itu mendadak melunak secara intens, bergerak mengikuti ke mana pun presensi Anaya melangkah. Ada sorot posesif yang pekat, yang belum pernah Bima tunjukkan pada perempuan mana pun.
Kecurigaan Katarina semakin diperkuat saat ia sengaja berangkat ke sekolah pada pagi buta seminggu kemudian. Di area sepi dekat gerbang sekolah, sebuah mobil sedan mewah yang sangat ia kenal berhenti. Pintu penumpang terbuka, dan sosok Anaya keluar dari sana sembari membetulkan posisi *turtleneck*-nya yang sedikit berantakan.
"Gue nggak salah liat, kan?" gumam Katarina di balik pilar gerbang, napasnya memburu menahan cemburu. "Itu mobil Bima."
Kembali ke koridor kelas, Katarina melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam ke arah Anaya yang sedang berjalan bersama Tari dari kejauhan.
"Jadi cewek polos itu yang bikin Bima nggak melirik gue sama sekali?" desis Katarina tajam dengan suara rendah sarat kebencian.
Sherly yang berdiri di sebelahnya ikut melirik. "Hah? Anaya? Nggak mungkinlah, Kat. Dia kan cewek biasa banget, kuper lagi. Paling cuma kebetulan satu papasan aja."
"Kebetulan nggak terjadi berkali-kali, Sher," sahut Katarina dengan rahang mengeras. "Dia cuma cewek kelas menengah yang memanfaatkan kepolosannya buat ngejar Bima. Murahan."
Katarina yang buta akan informasi tidak pernah tahu bahwa Anaya adalah anak dari Valentino, rekan bisnis utama Baskara Group. Dia juga tidak tahu kalau Anaya sudah mengejar Bima selama tiga tahun hingga akhirnya mereka dijodohkan dan kini tinggal serumah karena ayah Anaya sering ke luar negeri. Di kepala Katarina yang dangkal, Anaya hanyalah gangguan kecil yang harus disingkirkan dari sang pangeran sekolah.
Menjelang detik-detik kelulusan yang tinggal menghitung minggu, obsesi buta itu berubah menjadi rencana nekat.
Katarina menoleh ke arah dua anteknya dengan senyuman licik. "Hubungi orang suruhan kita. Suruh mereka buntuti mobil Bima lagi dan ambil foto sekecil apa pun yang bisa bikin cewek itu hancur. Gue mau bikin siasat terakhir sebelum kelulusan."
"Lo yakin, Kat? Gimana kalau Bima tahu?" tanya Tasya agak ragu.

"Bima nggak akan tahu," jawab Katarina sombong, dagunya terangkat tinggi. "Bokap gue punya posisi di perusahaan keluarganya. Gue di atas angin. Minggu depan, gue sendiri yang bakal seret cewek itu ke gudang belakang dan bikin dia keluar dari sekolah ini dengan sukarela."
Katarina merasa di atas angin, tanpa pernah menyadari bahwa langkah kakinya sedang berjalan lurus masuk ke dalam sarang sekelompok predator genius. Tempat di mana Bima yang *psycho*, Panji si monster retas, Agha dengan *alter ego*-nya yang kejam, dan Raka yang selengean namun gila, sudah siap menghancurkan seluruh hidupnya dalam hitungan menit.
*Bersambung

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang