Cahaya matahari Paris menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menghangatkan seisi kamar. Namun, kehangatan itu tidak mengubah posisi Bima dan Anaya yang masih saling mendekap erat sejak pukul dua pagi tadi.
Saat Anaya bergerak sedikit dan mengerjapkan mata untuk menyesuaikan diri dengan cahaya, ia baru menyadari bahwa pinggangnya masih terkunci total oleh lengan kekar Bima. Jaket kulit milik suaminya semalam bahkan masih membungkus tubuhnya; agak lecek, namun menyebarkan aroma tubuh Bima yang begitu familier.
"Yang... lepasin dulu. Aku mau ke kamar mandi," gumam Anaya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Bukannya melonggarkan dekapan, Bima justru semakin mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anaya. "Bentar, Nay. Lima menit lagi."
"Bim, udah jam delapan. Katanya hari ini mau jalan-jalan berdua?"
Bima akhirnya membuka mata. Sepasang matanya tampak kemerahan, menyiratkan sisa-sisa tidurnya yang selalu waswas. "Gue males keluar sebenarnya. Di kamar aja kenapa sih, Nay? Nggak bakal ada yang liatin lu kalau di sini."
Anaya menoleh, jemarinya bergerak lembut mengelus rahang tegas Bima yang mulai ditumbuhi jenggot tipis. "Katanya janji? Kemarin siapa yang bilang mau jalan-jalan tanpa gangguan pelayan atau bule?"
Bima terdiam sejenak, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Anaya. "...iya. Tapi lu harus pake baju yang kemarin gue beliin. Yang lengannya panjang, nggak ada potongan rendah. Titik."
Anaya tersenyum sabar menghadapi keras kepalanya sang suami. "Iya, Mas Bima. Iya. Udah ah, lepasin dulu."
Bima mendaratkan kecupan singkat di pipi Anaya sebelum akhirnya merelakan pelukannya terlepas. "Pinter."
Pukul setengah sepuluh pagi, atmosfer di *lobby* hotel sudah cukup ramai. Panji, Raka, dan Virgo telah rapi dengan pakaian mereka masing-masing. Raka, yang wajahnya masih tampak sedikit pucat, menggenggam segelas kopi hitam pekat seolah benda itu adalah jimat pelindung kehidupannya hari ini.
"Ji... gue bersumpah demi apa pun, hari ini gue mau jalan lima meter di belakang mereka. Gue nggak mau deket-deket Bima," bisik Raka penuh penekanan.
Panji mendengus geli. "Lah, emang lu kira lu boleh deket? Tugas lu hari ini cuma jadi *bumper* kalau ada orang asing yang tiba-tiba mau nanya jalan ke Kak Nay."
Di sebelah mereka, Virgo sedang fokus membaca iPad-nya sebelum menyahut datar. "Rute hari ini: Menara Eiffel area privat, lalu dilanjutkan ke *Seine River cruise* yang sudah dibooking satu kapal penuh. Tidak ada orang lain selain kru kapal."
Mendengar hal itu, Raka seketika langsung memeluk bahu Virgo penuh haru. "Go! Lu emang malaikat pelindung gue! Makasih udah bikin rute anti-sosial buat pawang singa!"
*Ting.* Pintu lift terbuka memotong pembicaraan mereka.
Bima melangkah keluar terlebih dahulu. Mengenakan kaos hitam polos dengan kacamata hitam yang tersampir di kerah, ekspresi wajahnya tampak lempeng tanpa riak. Di belakangnya, tangannya menggandeng erat Anaya yang hari itu tampil sangat tertutup dengan *turtleneck sweater* longgar berwarna krem dan celana panjang. Benar-benar rapat dari leher hingga ujung kaki.
Panji menyambut mereka dengan cengiran khasnya. "Pagi Kaka, pagi Kak Nay. Wah, outfitnya Kak Nay hari ini estetik banget ya, kayak mau liburan ke Kutub Utara."
Bima menatap Panji tajam dari balik kacamata hitam yang mulai ia kenakan kembali. "Bacot lu, Ji. Mobil udah siap, Go?"
"Siap, Bim . Di depan," jawab Virgo sigap.
Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan menuju pintu keluar, perhatian mereka teralih oleh serombongan turis lokal Prancis-tampaknya sekumpulan mahasiswa-yang sedang berkumpul di *lobby*. Salah satu pemuda dari rombongan itu, bertubuh tinggi dengan rambut ikal, secara tidak sengaja bersitatap dengan Anaya. Pemuda itu tersenyum ramah, menyapa dengan gestur sopan khas warga Paris.
"Bonjour, Mademoiselle," ucapnya halus.
*Deg.*
Langkah Bima langsung terhenti seketika. Raka yang berjalan tepat di belakangnya refleks menabrak punggung Panji karena berhenti mendadak.
Bima perlahan melepaskan gandengan tangannya pada Anaya, sementara tangan kanannya langsung masuk ke dalam saku celana. Rahangnya kembali mengeras. "Ji. Pegang Anaya."
Panji yang mulai panik segera menggeser tubuhnya, berdiri memblokade Anaya dari pandangan luar. "Kak... Kak, demi Allah, Kak, itu cuma bilang 'Halo'!"
Raka memejamkan mata sambil berkomat-kamit panik. "Ya Allah, baru jam setengah sepuluh pagi. Ya Allah, tolong..."
Bima mengambil satu langkah besar ke depan. Tubuh tegapnya langsung menutup penuh pandangan pemuda Prancis itu dari istrinya. Ia menurunkan kacamata hitamnya perlahan, menampilkan sorot mata yang begitu gelap, dingin, dan penuh intimidasi.
"Hey. Look at my eyes," desis Bima dalam bahasa Inggris dengan aksen lokal Jakarta yang ditekan kuat. "She is my wife. You say 'Bonjour' to me, not to her. Understand?"
Senyuman di wajah pemuda Prancis itu langsung lenyap seketika. Ia tampak kebingungan sekaligus gentar melihat perawakan Bima yang tampak siap menghantamnya kapan saja. Teman-teman serombongannya yang menyadari situasi bahaya itu segera menarik lengan si pemuda untuk menjauh.
"Uh... sorry, man. No offense," gumam pemuda itu terbata-bata sebelum akhirnya mengambil langkah seribu menuju lift.
Anaya segera maju dan memeluk lengan Bima dari samping dengan sangat erat. "Yang! Liat aku! Bima, ih!"
Napas Bima masih memburu karena emosi yang tersulut, namun begitu mendengar suara Anaya, ia langsung menoleh. "...dia nyapa lu, Nay."
"Dia nyapa siapa aja, Yang. Itu cuma ramah tamah biasa. Kamu kan udah janji tadi di kamar?" bujuk Anaya lembut.
Bima terdiam selama lima detik, mencoba menetralisir kepalanya yang mendadak panas. "...enggak bisa, Nay. Jiwa preman gue langsung meronta-ronta kalau ada cowok lain yang mandang lu lebih dari tiga detik."
Pria itu berbalik sepenuhnya, menangkup wajah Anaya dengan satu tangan besar sementara ibu jarinya mengusap bibir sang istri posesif. "Gue nggak suka. Lu punya gue. Dari rambut sampe ujung kaki, cuma punya Bima. Paham?"
Anaya mengembuskan napas panjang, namun tatapan matanya melembut, dipenuhi rasa maklum. "Iya, paham, Sayangku. Punya Bima seorang. Udah ah, ayo ke mobil. Malu diliatin orang."
Di belakang mereka, Raka berbisik lirih pada Virgo. "Go... gue mau pulang ke Jakarta aja boleh nggak? Gue mau naik ojek aja, lebih aman buat kesehatan mental gue."
Virgo menyahut tanpa ekspresi. "Tahan, Ka. Kontrak kerja kita masih seminggu."
Siang itu, angin di area privat dek atas Menara Eiffel berembus cukup kencang. Bima benar-benar tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Anaya seolah enggan memberi celah sedikit pun bagi dunia luar.
Panji dan Raka memilih duduk agak jauh di bangku taman privat, berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka walau pandangan tetap siaga satu. Sementara itu, Virgo berdiri di dekat tangga masuk, memastikan tidak ada turis asing yang salah jalan dan naik ke area mereka.
Anaya menyandarkan kepalanya di dada bidang Bima, menikmati panorama keindahan kota Paris yang membentang luas di bawah sana. "Bagus ya, Yang. Aku dari dulu pengen banget ke sini."
Bima sama sekali tidak melirik ke arah pemandangan kota. Matanya hanya fokus menatap wajah calon istrinya dari samping. "Bagusan lu."
Anaya menoleh dan mengerucutkan bibirnya kesal. "Gombal terus. Liat itu lho, menaranya."
Bima meraih dagu Anaya lembut, memaksanya untuk kembali menatapnya. "Gue nggak peduli sama menara besi itu, Nay. Mau runtuh juga terserah. Yang penting lu di sini, aman, nggak ada yang bisa nyentuh lu selain gue."
Anaya terdiam sejenak sebelum bertanya pelan, "Bim... kamu posesifnya kok makin parah sih semenjak kita nikah?"
Sebuah senyuman miring terukir di bibir Bima. Tipis, namun memancarkan pesona yang dominan sekaligus berbahaya. "Soalnya lu terlalu berharga buat dibiarin bebas, Sayang. Lu itu kayak berlian yang kalau gue meleng sedetik, ada aja tangan kotor yang mau megang. Dan tugas gue... patahin tangan-tangan itu sebelum mereka berani nyentuh lu."
Anaya sempat merinding mendengar penuturan suaminya, namun ada kehangatan aneh yang menyusup ke dalam hatinya. "Tapi kamu percaya kan sama aku?"
Bima mengecup kening Anaya lama, lalu mendekap tubuh mungil itu semakin erat ke dalam pelukannya. "Gue percaya sama lu, Nay. Mati-matian gue percaya. Yang nggak gue percaya itu dunia luar. Makanya, tetep di deket gue. Jangan jauh-jauh."
Anaya terkekeh pelan, lalu membalas pelukan di pinggang suaminya. "Iya, preman Tanah Abang-ku. Aku nggak bakal ke mana-mana."
Pukul tiga sore, suasana di dalam SUV hitam yang membawa mereka kembali ke hotel terasa begitu tenang. Anaya tertidur lelap di bahu Bima karena kelelahan setelah seharian berjalan-jalan. Tangan Bima masih setia mengelus rambut istrinya dengan gerakan konstan dan lembut agar tidurnya tidak terganggu.
Raka menoleh ke belakang dengan gerakan yang sangat lambat, lalu berbisik luar biasa pelan. "Bim... aman?"
Bima langsung melemparkan tatapan tajam yang menusuk, membalas dengan suara super rendah agar Anaya tidak terjaga. "Berisik lu. Sekali lagi lu bersuara, gue turunin lu di pinggir jalan tol Paris."
Seketika Raka membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan berbalik ke depan dengan kecepatan cahaya.
Di sebelahnya, Panji sibuk mengetik di grup WhatsApp keluarga tanpa menimbulkan suara.
*Panji: "Update siang menuju sore. Pawang masih berfungsi dengan baik. Mode posesif level 9/10. Raka hampir diturunin di jalan. Doakan kami selamat sampai bandara lusa."
*Virgo: "Bonus kita harus cair dua kali lipat setelah ini."
Bima mengalihkan pandangannya ke luar jendela melihat jalanan Paris yang bergerak mundur. Baginya, keindahan kota ini hanyalah sebuah distraksi yang tidak penting. Matanya kembali turun, menatap lekat ke arah Anaya yang deru napasnya sudah terdengar teratur di dadanya. Bima tersenyum tipis, lalu mengecup puncak kepala Anaya sekali lagi.
"Tidur yang nyenyak, yang," bisik Bima lirih, tepat di dekat telinga Anaya yang masih terpejam. "Di dunia ini, aman lu cuma di pelukan gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
