Barbeque, jaket kulit, dan orang ketiga

80 1 0
                                        

---

*RUMAH BIMA. HALAMAN BELAKANG. JAM 18.30.* 

Acara barbeque sudah dimulai. 
Asap sosis bakar ngebul ke atas. Wangi daging sama jagung manis kecampur. Musik jazz pelan dari speaker. 

Seluruh keluarga besar Bima benar-benar datang semua. 
Dari Om Tante sepupu sampe eyang-eyang yang giginya tinggal tiga. 
Tenda putih. Lampu gantung kuning. Meja panjang. Penuh makanan. 

"Kamu benar-benar beruntung Mba, dapet mantu seperti Anaya. Udah cantik, pinter masak, dan lihat Bima dari tadi nempel terus sama Anaya," Tante Lina nyolek Laura. Matanya nggak lepas dari Bima yang lagi nyuapin Anaya marshmallow bakar. 

"Iya Mba, berkat Anaya juga kita bisa lihat Bima sering tersenyum kaya sekarang," Laura senyum. Bangga. Matanya berkaca-kaca. "Dulu dia kayak kulkas dua pintu. Dingin." 

"Dan ya Bima terlihat lebih ganteng berkali-kali lipat saat dia tersenyum," Tante Rini nambahin. Kipas-kipas. "Ya Allah keponakan gue." 

"Emphh enak banget sosis bakarnya," Panji, sepupu Bima yang kelas 2 SMA, nyomot lima tusuk sekaligus. Pipinya gembul. 

"Panji kamu nggak nyamperin Bima?" Tante Lina nanya. 

"Abang sibuk sama calon kakak ipar Tante," Panji jawab. Mulut penuh. Nunjuk ke arah Bima-Anaya yang duduk di kursi rotan, dempet. 

"Abang kamu emang bucin parah," ucapan Laura tersebut membuat semua orang tertawa. 
Bhaskara yang lagi bakar steak cuma senyum-senyum. _Persis gue dulu._ 

"Seperti Bhaskara kan Ra?" Om Doni, adik Bhaskara, nyeletuk. Ketawa. 

"Iya. Bima memang sangat mirip papanya," Laura ngangguk. Nengok ke Bhaskara. "Dari posesifnya. Dari cemburunya. Dari nggak bisa jauhnya." 

Bhaskara angkat gelas. "Salam buat gen bucin." 
Semua ketawa lagi. 

---

*SUDUT LAIN. DEKET KOLAM.* 

Bima ngajak Anaya pergi dari belakang rumah. 
Kupingnya terasa panas sedari tadi. Bagaimana tidak? Bima dan Anaya jadi pusat perhatian. 

Kenapa? 
Karena keduanya mengenakan kaos couple berwarna senada. 
Kaos putih. Tulisan di depan: _HIS_ di Bima. _HERS_ di Anaya. 
Celana jeans. Sepatu kets putih. 
Simpel. Tapi bikin satu keluarga bisik-bisik _“Cieee”_. 

Awalnya Anaya ingin mengenakan mini dress yang sudah disiapkan Laura. 
Dress selutut. Warna dusty pink. Tali spageti. Punggung kebuka dikit. 
Cakep. Elegan. 

Tapi baju itu sudah masuk tong sampah. 
Begitu Bima melihat baju dengan tali spageti itu, alisnya nyatu. Rahang keras. 
Tanpa banyak bicara Bima langsung membuangnya. 
_Buang. Nggak pake nawar._ 

"Kenapa Bim?" Anaya kaget. "Itu mahal tau." 

"Terlalu kebuka," jawab Bima. Singkat. Padat. Cemburu. 
Terus masuk lemari. Ngambil kaos couple yang dia beli diam-diam seminggu lalu. 
"Pake ini." 

Anaya mau protes. Tapi liat muka Bima. 
Udah. Nggak bisa dibantah. 
Akhirnya nurut. Pake. 

---

*BALKON LANTAI 2. JAM 19.10.* 

Kini keduanya tengah duduk di balkon lantai 2. Di depan kamar Bima. 
Lantai kayu. Bean bag. Lampu tumblr. Angin sepoi. 
Di bawah, suara keluarga masih rame. Ketawa-ketiwi. 

"Kenapa ke sini?" tanya Anaya. Nyender di bahu Bima. Mainin kancing kemeja Bima. 

"Aku cuma pengen berdua sama kamu. Emang nggak boleh?" Bima nengok. Hidungnya nyentuh pelipis Anaya. Nyiium. Wangi vanilla. 

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang