Sinar matahari pagi Paris perlahan menerobos masuk melalui celah gorden *suite room*, memantulkan pendar cahaya lembut di atas ranjang satin yang masih berantakan. Bima sudah terbangun sejak satu jam yang lalu. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang dengan bertelanjang dada, membiarkan selimut menutupi sebatas pinggangnya, sementara atensinya sepenuhnya tersita oleh pemandangan di sampingnya.
Anaya masih tertidur lelap, napasnya teratur dan halus. Selimut satin yang semula menutupi tubuhnya sedikit merosot, mengekspos bagian atas tubuhnya yang masih polos.
Bima menunduk, menatap lekat-lekat area dada sang kekasih. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman puas yang sarat akan dominasi yang gelap. Di atas kulit seputih porselen itu, tanda kemerahan hingga keunguan tercetak dengan sangat jelas dan kontras-sebuah mahakarya visual yang tampak begitu pekat, seolah habis digebukin massa karena banyaknya jejak hisapan dan gigitan kecil yang ia tinggalkan semalam.
Selama tiga tahun masa-masa SMA, Bima selalu mati-matian menjaga batasan sucinya dengan Anaya. Meskipun gadis barbar itu sering kali bertingkah nekat dan menggoda pertahanannya, Bima selalu mengerem diri. Memang, setiap kali mereka berciuman panas di sudut yang sepi, tangan kekar Bima hampir tidak pernah bisa lepas dari meremas gundukan kembar Anaya, mengklaim teksturnya di balik seragam atau pakaian luar sang kekasih.
Namun, untuk benar-benar menyesapnya langsung tanpa sehelai benang pun seperti semalam, ada rasa kepuasan tersendiri yang membuncah di dada Bima.
Ibu jari Bima bergerak lambat, mengusap pinggiran tanda merah di payudara Anaya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu. Bima harus mengakui, pertumbuhan tubuh tunangannya ini benar-benar menguji sisa kewarasannya. Ukuran dada kekasihnya itu kini terasa semakin besar, penuh, kenyal, dan padat dalam cengkeraman tangannya-sebuah kombinasi mematikan yang selalu berhasil membuat jiwa predator Bima berontak ingin menguasai lebih dalam.
Cincin soliter di jari manis Anaya berkilau saat tangan gadis itu bergerak sedikit dalam tidurnya, mencari kehangatan.
Melihat kilau itu berdampingan dengan jejak-jejak kepemilikannya di tubuh Anaya, kepuasan absolut kembali merajai kepala Bima. Sisi *psycho*-nya tersenyum lega; tanda itu adalah segel mutlak bahwa Anaya tidak akan pernah bisa lari kemanapun. Ia telah menandai miliknya secara sempurna sebelum mereka menginjakkan kaki kembali ke Indonesia nanti malam.
Bima merunduk, kembali mengikis jarak di antara mereka. Hasrat yang sempat mereda setelah penyatuan semalam rupanya kembali tersulut hanya dengan memandangi jejak miliknya sendiri. Tanpa memedulikan matahari yang kian meninggi, ia meraup kembali dada Anaya yang padat itu ke dalam mulutnya, menyesapnya dengan begitu intens dan menuntut, layaknya seorang bayi yang kelaparan akan candu favoritnya.
"Ahhh... Yang... pelan-pelan..."
Lenguhan lembut itu lolos dari bibir Anaya yang baru saja membuka mata. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih dari kantuk, namun sentuhan basah dan hisapan kuat Bima di pagi hari langsung mengirimkan sinyal hangat yang menggelitik seluruh sarafnya.
Alih-alih terkejut atau menjauhkan kepala pria itu, Anaya justru hanya tersenyum manis. Lengannya yang masih lemas bergerak perlahan, mengusap rambut hitam tebal Bima, membiarkan jemarinya tenggelam di sana seraya menikmati bagaimana kasarnya cara cowok cerdas ini memuja tubuhnya. Bagi Anaya, keposesifan gila Bima yang seperti ini adalah bentuk romansa paling jujur yang selalu berhasil membuatnya merasa benar-benar dimiliki seutuhnya.
Bima tidak menghentikan kegiatannya. Hisapannya justru semakin dalam dan menuntut, mengabaikan protes kecil Anaya yang terdengar pasrah di bawah kungkungannya. Tangan kekarnya bergerak mengunci pinggang ramping Anaya, meremas daging kenyal di sana hingga gadis itu kembali melenguh panjang, menyerahkan seluruh kontrol tubuhnya pada sang tunangan.
Ketika Bima akhirnya melepaskan tautannya, ia mendongak perlahan. Sisa saliva di sudut bibirnya memberikan kesan seksi sekaligus berbahaya di bawah pendar cahaya pagi Paris.
Sepasang mata obsidiannya menatap Anaya dengan sorot yang menggelap, pekat oleh gairah yang kembali tersulut.
"Yank, besok dari Jakarta aku harus ke Surabaya. Baskara, tadi ng_chat" ucap Bima dengan suara yang luar biasa serak dan berat, napasnya masih memburu tepat di depan wajah Anaya.
Anaya yang masih terengah-engah mengerutkan kening sejenak, menatap mata tunangannya yang dipenuhi obsesi itu. "Kamu yang ke Surabaya? Berapa lama, Bim?"
"Tiga hari," desis Bima, rahangnya mengeras. Sisi *psycho* dan kepemilikan gila di dalam dirinya langsung berontak hebat begitu menyadari fakta bahwa ia harus terpisah jarak dari miliknya. Tiga hari tanpa melihat Anaya, tiga hari tanpa bisa mengawasi gadis ini, dan tiga hari tanpa bisa meremas gundukan padat yang menjadi candunya adalah siksaan yang luar biasa bagi Bima.
Sebuah seringai tipis yang teramat tampan namun penuh dominasi muncul di sudut bibir Bima. Ia menatap lekat-lekat tanda merah keunguan di dada Anaya yang habis ia sesap tadi, lalu beralih menatap mata sayu kekasihnya.
"Makanya... gue mau jatah tambahan buat tiga hari ke depan, Nay. Biar lu bener-bener inget siapa pemilik lu selama gue nggak ada," tuntut Bima penuh penekanan, mengunci kedua pergelangan tangan Anaya di atas kepala dengan satu tangan kekarnya.
Mendengar itu, jiwa barbar Anaya justru semakin tertantang.
Alih-alih keberatan, ia justru tersenyum manis penuh kemenangan melihat bagaimana cowok yang terkenal *cool* dan cerdas ini bisa dibuat frustrasi hanya karena harus berpisah dengannya selama tiga hari.
Anaya sengaja mendongakkan kepalanya, menantang balik tatapan pekat sang tunangan, dan berbisik dengan nada yang sangat memabukkan.
"Hantam aku, Sayang."
Kata-kata itu bagaikan bensin yang menyiram kobaran api di dada Bima. Bima menggeram rendah, sebuah suara maskulin yang sarat akan hasrat murni yang meledak.
Tanpa memberikan aba-aba lagi, Bima meraup kembali bibir Anaya dalam ciuman yang jauh lebih kasar, panas, dan menuntut dari semalam. Anaya tidak tinggal diam; ia memberikan perlawanan sengit dengan membalas setiap tautan, menghisap balik lidah Bima dengan intensitas yang sama gilanya, membiarkan cincin soliter di jarinya berkilau di antara remasan tangannya pada bahu polos Bima.
Pagi itu, sebelum Bima mengemas kopernya untuk pergi ke Surabaya demi urusan bisnis keluarga Baskara, ia memastikan telah menghabiskan seluruh tenaganya untuk menyegel tubuh dan jiwa Anaya dalam kepemilikan mutlak yang tak terbantahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
