Jarum jam di *dashboard* Mitsubishi Pajero putih itu menunjuk tepat di angka 06.10 WIB. Pagi masih enggan sepenuhnya terjaga. Di luar sana, embun tipis masih menggelayut di pucuk-pucuk daun, berpadu dengan suara sapu lidi tukang kebun yang bergesekan ritmis dengan aspal, serta aroma kopi hitam yang baru diseduh oleh satpam sekolah. Namun, Anaya Putri Valentina sudah menapakkan kakinya di depan gerbang megah SMA Garuda. Seperti ritual yang sudah mendarah daging selama tiga tahun terakhir, Anaya selalu menjadi laskar pencinta pagi nomor satu. Alasannya sederhana, sekaligus menjadi rahasia paling krusial dalam hidupnya: melancarkan *Operasi Cake Cokelat*. Anaya turun dari mobil, sengaja membiarkan *hoodie* berlogo SMA Garuda yang sengaja dibeli dua ukuran lebih besar menutupi tas ransel Dior-nya—sebuah tas yang harganya setara dengan akumulasi gaji sang *office boy* selama satu semester. Sepasang Air Jordan kolaborasi langka membungkus kakinya, melangkah dengan begitu hati-hati seolah permukaan koridor sekolah terbuat dari kaca yang rapuh. Takut kotor, tentu saja. Di jok belakang mobil yang baru saja ia tinggalkan, sempat teronggok sebuah kotak kue berhias pita merah muda. Kotak itu masih menghantarkan kehangatan, baru saja diangkat dari oven pada pukul empat subuh tadi. Anaya kembali mengorbankan waktu tidurnya. Lagi dan lagi, demi seorang Bima Arya Putra Bagaskara. Anaya mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor. Sepi. Aman. Dengan langkah berjingkat yang anggun namun terburu-buru, ia menyelinap masuk ke wilayah kekuasaan kelas 12 IPS 1. Kelas itu masih gulita, hawa dingin sisa semalam masih tertinggal karena pendingin ruangan belum dinyalakan. Tanpa membuang waktu, Anaya langsung melesat menuju meja di pojok belakang—meja paling steril di seantero angkatan. Setiap sore, Panji, salah satu pengikut setia Bima, selalu memastikan meja itu dipel hingga mengilap layaknya cermin. Anaya berjongkok di bawah meja. Detak jantungnya bertalu-talu begitu hebat, menciptakan sensasi seolah ia tengah menyembunyikan sebuah bom waktu, bukan sekadar kotak kue penuh cinta. Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia mendorong kotak berpita pink itu tepat ke tengah kolong meja. Ia memperhitungkan posisinya dengan cermat, memastikan kotak itu tidak akan tergilas oleh sepatu basket Bima yang berukuran 45. Selanjutnya, jemari lentiknya merogoh saku rok abu-abunya, mengeluarkan selembar *sticky note* berwarna kuning cerah. Dengan pulpen bertinta merah muda, ia menorehkan untaian kata dengan tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring. > *Selamat makan.* > *Semoga kamu suka.* > *- A* > Hanya inisial 'A'. Namun, satu sekolah pun tidak akan amnesia bahwa hanya Anaya Putri Valentina yang memiliki kegigihan luar biasa untuk mengantar bingkisan ke meja Bima setiap pagi. Tiga tahun penuh tanpa absen, kecuali saat Anaya harus tumbang karena serangan tifus. Itu pun, ia sampai menangis memaksa Bi Iyah, asisten rumah tangganya, untuk mengantarkan kue tersebut ke sekolah. Anaya tersenyum sendiri mentertawakan kebodohannya. Pipinya mendadak merona hangat saat mengingat perjuangannya semalam. Dua kali adonan pertamanya berujung bencana—adonan pertama terlampau asin karena salah mengambil stoples, dan adonan kedua hangus terpanggang. Namun, maha karya yang berada di kolong meja saat ini benar-benar sempurna. *Base cake*-nya begitu lembut dan lembap, *ganache* cokelatnya lumer, dengan potongan stroberi segar sebagai mahkota di atasnya. Persis seperti preferensi rasa yang disukai Bima. "Semoga nggak dibuang... semoga dimakan... walau cuma satu gigitan..." bisik Anaya lirih pada kolong meja kosong itu, seolah berharap benda mati itu bisa menyampaikan pesan rindu pada pemiliknya. *TAK. TAK. TAK.* Langkah sepatu yang tegas menggema dari ujung lorong. Kepanikan langsung menyerang Anaya. Ia bangkit berdiri dengan refleks secepat kilat. Merasakan roknya berdebu, ia menepuk-nepuknya asal sebelum akhirnya berlari tunggang-langgang keluar dari kelas melalui pintu belakang. Ketakutan terbesar Anaya bukanlah tertangkap basah oleh guru, melainkan jika harus berhadapan dengan tatapan dingin Bima yang pasti akan berujung pada usiran: *"Berisik. Ngapain lo di kelas gue."* Anehnya, membayangkan suara omelan Bima saja sudah cukup membuat kurva senyum di bibir Anaya bertahan hingga bel pulang sekolah nanti. Baru tiga detik siluet Anaya menghilang di balik kelokan koridor, pintu depan kelas 12 IPS 1 berderit terbuka. Bima masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Ia mengenakan kaus hitam di balik seragamnya yang sengaja tidak dikancingkan, lengkap dengan tas selempang yang menggantung santai. Wajahnya sekaku es batu, dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata akibat begadang menonton pertandingan bola semalam. Di belakangnya, mengekor Virgo dan Tara—dua sahabat karib yang kerap dijuluki 'duo kompor' karena hobi memprovokasi keadaan. Virgo, yang memiliki tingkat ketelitian layaknya detektif, langsung menangkap keberadaan objek asing di kolong meja Bima. "WAWWW! ADA AMUNISI LAGI!" Virgo berteriak heboh, telunjuknya mengarah lurus ke bawah meja. "Bingkisan apa lagi tuh hari ini?" Tara langsung menyunggingkan cengiran usil, menyenggol lengan Bima dengan sikunya. "Seperti biasa, dari 'Ayang Naya'. Kira-kira menu sarapan lo apa pagi ini, Bim?" Bima bergeming. Ekspresi wajahnya sedatar papan tulis, namun ekor matanya tidak bisa berbohong—ia melirik sekilas ke arah kotak berpita pink dan secarik kertas kuning di atasnya. Dan di balik dadanya, entah mengapa ada detak yang berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Tara yang tidak sabaran sudah keburu berjongkok dan menarik kotak tersebut. Begitu tutupnya dibuka, aroma magis langsung menguar. "WADUH, CAKE COKELAT!" seru Tara dan Virgo bersamaan dengan mata berbinar-binar penuh selera. Aroma kakao premium langsung menguasai penjuru kelas yang masih sunyi. Lelehan cokelatnya tampak berkilau, kontras dengan warna merah ranum dari stroberi dan taburan almond panggang yang royal di sekelilingnya. Bima berpura-pura sibuk mengeluarkan buku paket dari tasnya, mencoba membangun benteng pertahanan bahwa ia sama sekali tidak tertarik. Namun, jemarinya mendadak terasa gatal. *SRET!* Dengan gerakan secepat kilat, Bima menyambar kotak kue itu dari dekapan Tara. "Balikin!" titah Bima. Suaranya rendah dan datar, namun ada nada kepemilikan yang teramat mutlak di sana. Tara langsung memasang raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Bagi dikit lah, Bim. Seuprit aja. Demi solidaritas antar cowok lajang." Mereka berdua sudah sangat paham tabiat Bima. Jika sudah menyangkut makanan, Bima bisa berubah menjadi singa yang protektif. Ia tidak pernah sudi berbagi, terutama jika menunya adalah kue cokelat—satu-satunya kelemahan Bima yang mereka ketahui sejak zaman SMP. Bima menaikkan sebelah alisnya dengan angkuh. "Kalau mau, minta sendiri sama Anaya." Bima kemudian membuka laci mejanya. Di sana, sudah tersedia garpu plastik yang sengaja disimpan. Laci meja Bima memang unik; tidak ada buku atau alat tulis, isinya hanya tumpukan garpu, tisu, dan beberapa butir permen mint. Semua itu disiapkan secara khusus oleh Panji untuk menyambut "upeti" harian dari Anaya. *CLEP.* Potongan pertama kue itu mendarat di dalam mulut Bima. Bima terdiam, mengunyahnya dengan perlahan demi meresapi setiap sesapan rasa. *Sial, ini terlalu enak.* Manisnya berada di takaran yang pas, berpadu dengan kegetiran khas cokelat hitam yang elegan. Teksturnya begitu lembut merayap di lidah. Rasanya seolah si pembuat kue benar-benar memahami bahwa ia sedang didera kelelahan luar biasa namun terlalu gengsi untuk bersuara. Virgo mulai memanaskan suasana. "Kuenya habis tak bersisa, tapi orangnya lo gantung tanpa kejelasan. Jahat banget lo, Bim." Tara menimpali seraya tertawa lepas. "Lagian lo nggak takut apa kalau Anaya masukin ramuan pelet di dalam sini? Dia kan sudah di tahap bucin akut tingkat tinggi." Bima terus mengunyah, membiarkan logika dan logikanya bertarung bebas di dalam kepala. *Pikir-pikir, ucapan dua curut ini ada benarnya juga. Bagaimana kalau ini memang pelet?* *Kalau tidak, kenapa juga gue selalu mendadak rajin datang jam enam pagi demi menunggu kelas ini terbuka? Kenapa suasana hati gue langsung hancur kalau kolong meja ini kosong?* Bima menatap kue di hadapannya, lalu bergantian menatap Virgo dan Tara. Harga dirinya yang setinggi langit akhirnya menuntut sebuah kompromi. Bima mengembuskan napas kasar. "Ya sudah. Karena lo berdua ngaku sebagai temen gue..." Bima menyodorkan kotak itu dengan gestur yang dipaksakan. "Kalian boleh habisin sisa kue ini." Di dalam hatinya, Bima membatin: *Kalau kue ini beracun, kita mati bersama. Kalau ini pelet, kita gila bersama. Adil.* Virgo dan Tara tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Mereka langsung berebut sendok. "DEMI APA INI ENAK BANGET!" "Ini sih mutunya jauh di atas toko kue langganan nyokap gue di mall! Si Anaya mending buka *bakery* sendiri aja!" Bima memilih diam, menikmati potongan kedua yang sempat ia amankan di garpunya. Ingatannya berputar pada masa-masa kelas sepuluh hingga awal kelas sebelas. Dulu, semua kiriman dari Anaya selalu berakhir di tempat sampah tanpa pernah ia lirik sedikit pun. Sampai pada suatu hari, Virgo dengan kurang ajarnya menyuapkan sepotong *macaron* buatan Anaya secara paksa ke mulutnya. Sejak detik itu, lidah Bima harus takluk pada kenyataan. Semua kudapan yang lahir dari tangan Anaya Putri Valentina memiliki cita rasa yang magis. Namun, seorang Bima Arya Putra Bagaskara memiliki reputasi yang harus dijaga. Bagaimana mungkin ia membiarkan publik tahu bahwa ia selalu menantikan kiriman kue dari gadis yang sudah ia tolak mentah-mentah sebanyak 1.327 kali? Maka, skenario terbaiknya adalah tetap seperti ini: menikmati kuenya dalam senyap, menyingkirkan kotaknya tanpa jejak, dan ketika berpapasan dengan gadis itu di koridor, ia akan memasang wajah sedingin es seraya berkata, *"Minggir. Berisik."* Bima menyeka sudut bibirnya dengan selembar tisu, lalu menendang kotak kosong itu ke bagian terdalam kolong mejanya. Begitu dalam, hingga petugas kebersihan pun tidak akan menyadarinya. Ia ingin memastikan... agar besok pagi, Anaya akan kembali mengirimkan kotak pink yang sama. ## KELAS 12 IPS 2 "Dari mana aja lo?" Suara lantang itu mengejutkan Anaya hingga ia nyaris melompat. Stoples kaca yang berada di dalam dekapannya hampir saja tergelincir ke lantai. Tari, sahabat karibnya sejak masa taman kanak-kanak, sudah berdiri kokoh di ambang pintu kelas dengan kedua tangan bertolak pinggang. Tatapan matanya menyelidik tajam. "Astaga, Tari! Bikin jantung gue mau copot aja," gerutu Anaya sembari mengerucutkan bibirnya, sementara tangannya dengan cepat menarik ritsleting tas ranselnya. "Ya habisnya gue kesel! Dari tadi gue nyariin lo ke ruang osis sampai kantin gak ada. Lo dari mana, Nay?" cecar Tari dengan nada penuh intonasi. Anaya menyunggingkan senyum kecut yang sarat akan rasa bersalah. "Biasa..." Jawabnya lirih, mengalihkan pandangan ke arah ubin lantai, tak berani menantang sepasang mata sahabatnya. "Biasa apa maksud lo?" Tari sudah bersiap dengan khotbah paginya. Anaya menggigit bibir bawahnya dengan cemas. "Itu... gue habis naruh sesuatu." Manik mata Tari seketika menyipit. "Maksud lo, lo balik lagi ke sarang singa dan menaruh kue di meja si Bima itu?!" Suaranya meninggi satu oktav. Beruntung, atmosfer kelas masih terhitung lengang. "Ngapain lagi sih, Naya?! Lo kapan sadarnya?" Tari mulai menghitung dengan jari-jarinya, meluapkan emosi yang sudah tertahan lama. "Coba lo kalkulasiin dari zaman kita orientasi siswa sampai kita sudah menghitung hari buat lulus. Sudah berapa puluh kilo tepung terigu premium yang lo abisin? Belum telur ayam kampung. Belum gula aren organik. Belum lagi cokelat batangan impor dari Belgia yang harganya selangit itu. Lo sudah investasi besar-besaran, tapi apa timbal baliknya? Lo cuma dapet cap cewek murahan dan dipermaluin di depan umum!" Anaya terdiam seribu bahasa, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari jemarinya sibuk mengelupas sisa kutek di kukunya yang mulai memudar. Semua memori buruk itu berputar otomatis di otaknya; saat ia ditolak mentah-mentah di kantin yang penuh sesak, saat surat cintanya menjadi bahan tertawaan di tengah lapangan basket, hingga saat ia harus menangis tersedu-sedu di dalam bilik toilet. "Lo sudah menyatakan cinta ke dia ribuan kali. Dan tanggapan dia selalu sama, kan?" Tari masih melanjutkan kalimatnya, murni karena rasa peduli yang mendalam. Anaya yang mulai tersudut segera menyusun kebohongan instan. "Gue cuma habis buang sampah ke koridor sebelah, Tari. Bukan ke kelas Bima, sumpah!" Tari menatap manik mata Anaya, mencari celah kebohongan di sana. "Serius?" Anaya mengangguk dengan ritme cepat. "Dua rius malah! Demi apa pun deh!" Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Anaya berbisik: *Maafkan gue, Tar. Gue benar-benar nggak bisa berhenti. Bagi gue, melewatkan satu hari tanpa memberi Bima kue itu rasanya seperti kehilangan pasokan oksigen.* Tari mengembuskan napas panjang, mengalah pada kebebalan sahabatnya. "Ya sudah. Nay, lo sudah ngerjain tugas matematika dari Pak Dodong belum?" Anaya langsung menepuk dahinya dengan dramatis. "Aduh, gue lupa total!" Wajahnya seketika berubah memelas. "Tari yang cantik, pinjam buku lo dong buat disalin. Nanti siang gue traktir es krim rasa matcha kesukaan lo, janji!" Tari menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, namun tangannya sudah bergerak menyodorkan sebuah buku tulis bersampul cokelat. "Kebiasaan. Ya sudah cepat salin, sebelum bel masuk berbunyi. Kalau sampai dihukum menjemur diri di lapangan oleh Pak Dodong, gue nggak mau ikut-ikutan ya." "Makasih banyak Tari! Lo memang malaikat tanpa sayap!" seru Anaya dengan semangat yang kembali berkobar. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan segera mengeluarkan stoples kaca dari dalam tasnya. "Oh iya, ini kue kering pesanan lo minggu lalu." Sebuah stoples kaca tebal berpindah tangan, memperlihatkan jajaran nastar, kastengel, dan lidah kucing yang tertata begitu geometris dan rapi. Aroma mentega wisman yang pekat langsung menguar, memancarkan aura kue berkelas yang biasa dipajang di etalase toko roti bintang lima. Tari terkesima. "Ya ampun, Naya... ini bagus banget. Jadi berapa totalnya? Sini gue transfer sekarang." Anaya menggeleng dengan cepat. "Nggak usah, Tar. Anggap aja ini barter sama contekan tugas matematika lo tadi." "Nggak bisa gitu dong, Nay. Bahan-bahan yang lo pakai kan bukan bahan murahan. Lo harus tetap untung, minimal buat balik modal beli mentega sama terigu." Anaya hanya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Simpan aja uang lo, Tar. Gue ikhlas kok." Anaya tidak akan pernah membuka tabir rahasianya. Bahwa di kediamannya, ada tiga koki bersertifikat internasional yang siap sedia di dapur bersih. Bahwa ayahnya adalah salah satu pemilik saham terbesar di pabrik tepung terkemuka di negeri ini. Dan bahwa setiap liburan kenaikan kelas, ia selalu diterbangkan ke Paris hanya untuk mengikuti kursus kilat seni membuat kue di institusi ternama. Biar saja semua orang di sekolah ini mengira bahwa seorang Anaya hanyalah gadis dari kalangan biasa yang kebetulan memiliki bakat alami dalam dunia *baking*. Tidak ada yang perlu tahu bahwa setiap pagi ia diantar menggunakan Mercedes-Benz seri terbaru oleh Pak Ujang, lalu turun dua blok sebelum gerbang sekolah, dan memilih memesan ojek daring demi menyamarkan identitas aslinya. "Nggak mau dicicipi dulu? Takutnya rasanya kurang pas di lidah lo," tawar Anaya, mencoba mengalihkan pembicaraan. Tari yang sudah tidak tahan lagi segera membuka segel stoples, mengambil sepotong kastengel, dan menggigitnya. *KREK.* "Kurang apanya coba? Lidah gue sudah khatam sama kualitas masakan lo. Kue atau *cake* apa pun yang diproses lewat tangan lo itu rasanya selalu ajaib," puji Tari tulus dengan mulut yang masih penuh. Anaya tertawa kecil, ada sebersit rasa lega yang membuncah di dadanya. Setidaknya, ada satu orang yang bersedia mengapresiasi karyanya tanpa perlu diselimuti drama ego dan gengsi. Tepat saat itu, bel sekolah berdentang dengan nyaring. *TEEEEEET.* Anaya bergegas menggerakkan penanya di atas kertas, menyalin angka demi angka dengan tergesa-gesa. Namun, fokus pikirannya sudah melesat jauh melompati dinding pembatas, menuju ruang kelas di sebelahnya, tepat di sudut paling belakang. *Kira-kira kue cokelatnya sudah disentuh belum ya? Dia suka tidak ya? Atau berakhir di tempat pembuangan akhir lagi?* Anaya tidak pernah tahu. Bahwa di ruang sebelah, Bima baru saja menyeka sisa *ganache* di bibirnya dengan selembar tisu dapur, lalu meremas kotak pink yang kini telah kosong melompong untuk dilemparkan ke dalam tong sampah.
Virgo yang melihat hal itu memprotes, "Eh, Bim! Kok tempatnya langsung dibuang sih? Nggak mau lo simpan buat kenang-kenangan?" Bima menjawab pendek tanpa menoleh, "Sudah habis. Berisik." Namun, di dalam kegelapan laci meja Bima, terdapat selembar *sticky note* berwarna kuning cerah dengan tulisan tangan Anaya yang rapi. Kertas itu telah dilipat dengan presisi sebanyak dua kali, lalu disisipkan dengan sangat hati-hati di balik dompet kulitnya. Sama sekali tidak dibuang. *Bersambung...*
---
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.