*Warning: Adegan kekerasan. Baca dengan risiko sendiri*
*Bima Mode Gelap + Virgo Alter + Cathy Makan Malam*
---
*Bukan sekolah. Bukan rumah sakit.*
*Tempat yang Bima kunjungi adalah gedung tua terbengkalai.*
*Bau lembab. Bau karat. Bau darah.*
Di tengah ruangan, seorang pemuda tergantung.
Kedua pergelangan tangan dan kakinya diikat rantai besi. Kencang. Sampe kulitnya lecet.
Matanya ditutup kain hitam. Mulutnya dilakban.
Badannya udah babak belur. Bibir pecah. Tulang pipi bengkak.
Itu Ardi. Kelas XII IPA 2.
Yang nyaris nyentuh Anaya.
Bima jalan mendekat. Langkahnya pelan. Tapi berat.
Dia jongkok. Ngangkat dagu Ardi. Maksa natap dia, walau mata Ardi ketutup.
"Ya ampun kasian," desis Bima. Suaranya lembut. Tapi bikin bulu kuduk berdiri.
Jempolnya ngusap luka di pipi Ardi. Kayak khawatir.
Padahal dia yang bikin.
Raka senderan di tembok. Ngerokok. Asapnya ngebul.
"Apa kita harus bermain-main dulu dengan cowok brengsek kaya dia?" tanyanya. Matanya benci banget liat Ardi. _Berani-beraninya nyentuh calon kakak ipar gue._
Virgo maju selangkah. Dari saku jaketnya, dia keluarin belati lipat.
Klik.
Bilahnya kebuka. Mengkilat kena cahaya lampu temaram.
"Sepertinya menguliti dia akan terasa menyenangkan," ucapnya. Datar. Tanpa emosi.
Ini bukan Virgo yang suka ngasih macaron ke Anaya.
Ini Virgo yang lain. Yang dingin. Yang nggak punya rem.
"Lakukan sesuka kalian," Bima berdiri. Ngelap tangan pake tisu. Kayak abis pegang sampah. "Mayatnya bisa kalian berikan pada Cathy. Sepertinya Cathy akan dapat makan malam spesial."
Matanya nyalang. Natap Ardi yang sekarang gemeteran hebat.
Ardi denger langkah kaki. Denger suara belati. Denger nama Cathy.
Dia ngerti. Cathy itu siapa.
Dia geleng-geleng kuat. Ngeluarin suara "Mmmph! Mmmph!" dari balik lakban.
Keringet dingin banjir. Celananya basah. Bukan karena hujan.
Virgo nggak peduli.
Dia deketin Ardi. Satu tangan megang rambut Ardi. Narik ke belakang.
Tangan satunya? Belati udah nempel di perut Ardi.
_JLEB._
Pelan. Dalem.
Ardi kejet-kejet. Badannya ngerejang. Rantai beradu. _Krang krang._
Nggak bisa teriak. Cuma bisa ngerasain panas yang nyebar dari perut.
Darah netes. Ke lantai. _Tes. Tes._
Virgo nggak berhenti sekali.
Dua kali. Tiga kali.
Terus digores. Panjang. Dari dada ke perut.
Bau anyir langsung nyengat. Nyampur sama bau karat.
"Gue udah nggak mood," Virgo ngomong. Sambil nutup belatinya. Senyum. "Biarkan Cathy segera mendapatkan jatahnya."
Mukanya anteng. Kayak abis motong bawang. Padahal baru aja nyembelih orang.
Raka buang rokok. Injek.
Terus dia bersiul. Nyaring.
_SWIIT._
Dari kegelapan, muncul suara langkah berat.
_Grr..._
Dua mata biru nyala.
Cathy.
Harimau putih. Berat 200 kg. Peliharaan Raka dari bayi.
Cantik. Gagah. Tapi pembunuh.
Cathy ngendus. Liat Ardi yang udah setengah nyawa.
Liat darah.
Liat daging.
Air liurnya netes. _Tes._
Nggak pake aba-aba, dia loncat.
_AUUM._
Langsung terkam.
Suara kunyahan. Tulang remuk. Rantai putus.
Cuma 5 menit.
Bima, Raka, Virgo udah jalan keluar. Nggak nengok.
Di belakang, suara Cathy lagi pesta.
"Cathy pasti puas banget dapet mangsa malam ini," Raka buka obrolan. Santai. Kayak abis nonton bola.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bima (Tamat)
Romance*⚠️ WARNING 21++ ⚠️* *KATA KASAR, OBSESIF, KEKERASAN, ADEGAN DEWASA, ALTER EGO PSYCHO* Anaya Putri Valentina. Putri konglomerat. Manja. Barbar. Nggak kenal kata malu. 3 tahun ngejar Bima Arya Putra Bhaskara. Ketua OSIS. Anak CEO. Dingin. J...
