Tuntutan di Ruang Ganti

18 0 0
                                        


**BUTIK PENGANTIN EKSKLUSIF BHASKARA. SEMINGGU SEBELUM PERNIKAHAN, JAM 14.00.**
Butik mewah berlantai marmer putih itu telah dikosongkan total dari pelanggan lain atas perintah mutlak Bima. Di tengah ruangan, Anaya berdiri di atas podium melingkar kecil di depan cermin tiga sisi yang menjulang tinggi. Tiga orang desainer papan atas butik tersebut tampak sibuk membetulkan letak ekor gaun pengantin satin sutra premium yang memeluk lekuk tubuh Anaya dengan sangat pas.

Gaun pilihan Bima itu sebenarnya memiliki potongan yang teramat elegan di bagian bawah, namun bagian atasnya mengusung desain *corset top* berpotongan rendah dengan aksen *lace* transparan yang sangat seksi.

Desain itu mengekspos penuh lekuk dada Anaya yang kian padat dan berisi.
Bima duduk di sofa beludru hitam tidak jauh dari sana, menyesap kopi hitamnya perlahan. Netra obsidiannya menggelap seketika, terkunci rapat pada bagaimana volume dada Anaya tampak menyembul seksi di balik jeratan korset gaun tersebut. Pandangan posesifnya langsung menyala pekat.

"Potongan dadanya terlalu rendah," suara bas Bima terdengar rendah dan dingin, menginterupsi keheningan ruangan. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan ketukan pelan yang mengintimidasi. "Ganti bagian atasnya dengan bahan yang lebih tertutup. Aku nggak mau ada mata lain yang melihat itu minggu depan."

Kepala desainer butik itu mendadak gugup. "T-tapi, Tuan Bima... ini ukuran lingkar dada Nona Anaya sudah kami sesuaikan dengan data sebulan yang lalu. Polanya memang didesain menonjolkan siluet tubuh, tapi ukurannya mendadak... berubah lebih padat di bagian atas, sehingga terlihat lebih terbuka dari sketsa awal."
Anaya yang berdiri di atas podium langsung merona merah padam hingga ke leher. Jiwa tulus dan polosnya berontak karena malu dipelototi oleh tunangannya sendiri di depan para desainer. Setelah meminta para staf butik keluar sebentar untuk memberikannya ruang, Anaya langsung berbalik menghadap Bima dengan mata yang berkaca-kaca menahan malu.

"Ya salah kamu, Yank! Siapa suruh tiap subuh kamu isep terus, jadi gede gini kan! 😭😭😭" ucap Anaya jujur dengan suara parau yang teramat manis, menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik buket bunga contoh di tangannya.

Mendengar ucapan jujur yang teramat polos dari bibir ranum sang tunangan, Bima tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh rendah-sebuah suara berat dari dadanya yang naik-turun teratur.

Sisi *psycho-obsesif*-nya justru merasa luar biasa puas mendengarkan klaim efek dari kepemilikan mutlaknya atas tubuh Anaya selama tinggal serumah.
Bima bangkit berdiri, melangkah tegap mendekati podium. Aura dominannya mengurung Anaya seketika saat ia naik ke atas podium kecil itu, mempersempit jarak hingga tidak ada celah udara di antara mereka. Tangan kekarnya terulur, mengambil buket bunga dari genggaman lemah Anaya dan meletakkannya asal ke meja dekorasi.

*SET.*

Kedua lengan kokoh Bima melingkar sempurna di pinggul ramping Anaya, menarik tubuh lembut berbalut gaun satin itu hingga menempel lekat pada dada bidangnya. Ia menunduk sedikit, menyapukan ujung hidungnya di pipi Anaya yang masih terasa hangat dan ranum.

"Jadi... ini murni karena kalkulasi stimulasi subuh aku, hm?" bisik Bima rendah dengan suara basnya yang serak penuh gairah di telinga Anaya.

Jemari kekarnya merayap naik, mengusap pinggiran korset gaun yang menampung mahakarya liarnya dengan kelembutan yang menuntut kepatuhan total.

Anaya memejamkan matanya pasrah, meremas ujung kemeja hitam Bima dengan jemari lentiknya yang bergetar.

"Bim... malu tahu... desainer tadi sampai bingung kenapa ukurannya berubah banyak dari bulan lalu..." cicit Anaya tulus dengan mata berkaca-kaca, berserah sepenuhnya di bawah kungkungan posesif sang tunangan.
Bima menyeringai manis, sebuah kilat obsidian yang berbahaya namun sarat akan rasa memuja yang mendalam terpancar jelas dari matanya.

Ia mengecup pucuk kepala Anaya dengan penuh sayang, mempererat lingkaran lengannya seolah enggan membiarkan permata rapuhnya lepas barang satu milimeter pun.

"Biarkan mereka bingung, Sayang. Yang penting minggu depan, gaun ini harus disesuaikan kembali agar hanya menutupi apa yang menjadi hak eksklusif milik aku," desis Bima penuh otoritas. "Karena di luar ruang ganti ini, seluruh dunia harus tahu kalau kamu sudah disegel mutlak oleh Bima Bhaskara."

Anaya hanya bisa menyandarkan kepalanya yang terasa pening karena malu di dada tegap Bima, menerima dengan penuh cinta setiap bentuk obsesi gila pria yang akan resmi menjadi suaminya dalam waktu satu minggu lagi.
*Bersambung menuju Epilog Altar Pernikahan yang tulus...*

### NOTE DARI AUTHOR 🤭🔥
WKWKWK ANAYA POLOS BANGET KALO NGOMONG LANGSUNG JUJUR DEPAN BIMA! 😭 Bima yang denger alasan "stimulasi subuh" langsung puas banget gais, egonya sebagai predator sukses besar! 🤫🔥
Desainer butik langsung elus dada liat kelakuan pasutri baru yang posesifnya gak ada rem begini wkwk! Gaunnya keseksian gara-gara perbuatan Bima sendiri! 💍 green flag protektif, *dark inside*!
Yuk gais, ramein kolom komentar! Apakah bagian atas gaunnya bakal diganti jadi kerah tinggi lagi sama Bima? 👇✨ Jangan lupa klik **VOTE dan KOMEN** untuk menuju babak **EPILOG ALTAR FINAL**!

Bima (Tamat) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang