Semua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada.
Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Prita Titania Azzahra. Nama gadis yang tidak begitu populer akan kecerdasannya tercantum dalam peringkat kedua paralel. Bisik-bisik mulai terdengar. Banyak orang yang tidak menyangka posisi Aruna yang sejak empat semester berturut-turut berada disana terjun bebas.
Nama-nama dibawah peringkat itu juga jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Hanya nama Agatha yang masih sama. Namanya selalu berada dipuncak.
Aruna yang baru melihat pengumuman itu terdiam. Dari kejauhan ia mencari namanya. Kenapa peringkatnya bisa terjun bebas? Namanya bahkan keluar dari peringkat lima paralel. Namanya berada tepat dibawah Agasthya, sahabatnya.
Peringkat ke sembilan.
Sekarang Aruna mengerti. Mengapa semua orang menatapnya dengan tatapan mengejek sejak dia masuk ke gerbang.
"Minggir!"
Aruna menoleh. Matanya langsung bersitatap dengan seseorang. Ia menghela napas.
"Jalannya masih luas. Kenapa Lo nyuruh gue minggir?"
Aren menaikan sebelah alisnya, "Gue mau aja. Kenapa? Masalah?"
"Nyari ribut Lo?"
"Kalau iya, kenapa?" tantang Aren. "Gue gak tertarik. Gue lagi gak mood buat berantem sama Lo!" sahut Aruna kesal.
"Halah! Cuman gara-gara peringkat Lo turun, dunia Lo gak bakalan ancur, Na. Udahlah, biasa aja. Lo gak perlu nanggapin semuanya secara berlebihan." ujar Aren sambil memasukan tangannya pada saku celana. "Lihat! Gue yang peringkatnya naik aja biasa-biasa aja."
Aruna memutar bola matanya malas, "Itu adalah persoalan yang sama sekali berbeda, Ren! Gak usah Lo sama-samain masalah kita. Udah jelas juga kan kalau Lo naik, dan gue turun? Udahlah, kalau Lo gak ngerti mending diem."
Aruna dengan segera berjalan menjauh dari sepupunya itu. Aren mengendikan bahunya tak peduli. Mau dia salah bicara kek, mau Aruna marah kek, dia tidak peduli.
•333•
"Gimana?"
Aruna menyesap segelas teh hangat yang dia pesan di kantin sekolah. "Lo sendiri pasti udah liat kan, kenapa nanya?"
"Buset sewot bener." sahut Agas sambil duduk di kursinya. Ia baru saja mengambil pesanannya.
Agatha, orang yang menanyai Aruna tertawa kecil. "Cuma semester ganjil nya, Runa. Nanti di semester depan Lo buktiin kalau Lo gak pernah turun."
Aruna memajukan bibirnya, "Susahhhh masalahnya bukan nilai gue aja yang turun. Tapi semangat gue juga. Rasanya kayak sia-sia aja selama satu tahun ini gue belajar mati-matian."
"Serius belajar mati-matian? Bukannya berusaha mati-matian buat deket lagi sama Kalingga ya?" celetuk Agas.
Aruna melotot. Ia mengambil tisu dan melemparkannya ke wajah Agas.