03. Agasthya Abdiel Agam

1.2K 50 3
                                        

Malam yang dingin tak membuat rumah ini ikut mendingin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam yang dingin tak membuat rumah ini ikut mendingin. Yang ada, mereka sedang sibuk saling membantu sang ibu memasak. Bertukar tawa dan canda yang membuat suasana menjadi hangat.

Setelah semuanya selesai, keempat anggota keluarga itu berkumpul dimeja makan. Siap menyantap makanan yang dibuat bersama-sama.

Ragas menarikan kursi untuk sang istri. Nana tersenyum lalu duduk disana. Setelahnya barulah Ragas menarik kursi untuk dirinya sendiri.

Agas dan Naina langsung membuang muka. Apalagi saat dengan lancangnya Ragas mencium pipi Nana didepan anak-anaknya.

"Ayah ih!" seru Nana malu.

"Dek, kita mending pergi ke mars aja gak sih?" ujar Agas serius sambil berpangku tangan menatap sang adik.

Naina mengangguk setuju, "Bener banget! Aku udah males banget hidup diantara manusia-manusia bucin ini." keluhnya.

"Huu dasar jomblo!" seru Ragas songong.

Agas mendelik, "Eh jangan salah ya, Kakak gini-gini juga punya cewek!" balas Agas tak kalah sombong.

"Serius?"

Agas mengangguk.

Ragas berdecak tak percaya, '"Ah masa sih ada yang mau sama kamu."

"Ada, Ayah." jawab Agas gregetan. "Kakak sama calon pacar kakak ini bakalan jadi next couple of the year di sekolah nanti!"

Naina segera terbahak-bahak, "Baru calon, rupanya." Ia menepuk-nepuk bahu Agas dan menatapnya sambil tertawa, "Buruan tembak, keburu sadar!"

Agas mendengus, "Diem deh! Mending lah gue daripada Lo, udah cantik, tapi gak ada yang nyantol satu pun."

Naina terkikik, "Thanks, gue emang cantik."

"Bukan itu poinnya tolol!"

"Kakak!" tegur Ragas.

Agas tersenyum kaku. Ia menepuk bibirnya yang tidak bisa menahan kata-kata kasar itu keluar. Bisa mampus dia kalau udah kaya gini.

Nana tersenyum, dia ikut menyimak sambil menaruh nasi di setiap piring.

"Tadi Mami nelepon Bunda, tau." cerita Nana.

"Oh ya? Mau ngapain?" balas Ragas penasaran. Pasalnya kan dulu itu Luna adalah teman dekatnya, mengapa dia jadi lebih dekat dengan istrinya ini?

"Mami minta Bunda buat bawain rapot Ata ke sekolah. Eh emangnya semester ini harus diambil sama orang tuanya, kak?"

Agas menggeleng segera. "Enggak, kok. Kan cuman semester ganjil. Kaya biasa."

"Mungkin kak Ata lagi caper." sahut Naina sambil mengunyah makanannya. Agas yang mendengarnya langsung mendelik, "Apa Lo bilang?"

"Iya, caper. Kan kak Ata kurang perhatian dari Mami sama Papi, jadi dia mau caper sampe bilang mau dibawain rapot sama mereka, tapi Mami sama Papi gak bisa, berakhir Mami minta tolong Bunda." jelas Naina. Ia menatap ketiga manusia yang juga tengah menatapnya. "Kenapa? Nai salah?" tanyanya sambil mengedip heran.

Three or NothingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang