01. Aruna Dranupati

2.4K 66 19
                                        

Pukul sepuluh pagi, dan orang-orang di kediaman ini masih betah bergelung dengan selimut kesayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pukul sepuluh pagi, dan orang-orang di kediaman ini masih betah bergelung dengan selimut kesayangan. Ya walaupun hari ini adalah hari libur, tetap saja mengherankan mengapa keluarga ini bisa betah tidur selama itu.

Orang yang pertama kali bangun adalah Rania. Ibu dari satu anak itu menggeliat dalam tidurnya. Matanya mengintip jam dinding. Sedikit terkejut melihat angka yang ditunjuk oleh jarum pendek. Ia segera bangun dan beranjak pergi ke kamar mandi.

Lima menit kemudian dia sudah selesai mandi. Rania ini tipe cewek-cewek yang mandinya sat set sat set. Alias cepat dan tidak ribet.

Rania keluar mengenakan dengan handuk selutut, ia dihadiahi wajah bingung sang suami yang baru bangun tidur. Maklum, biasanya beberapa detik setelah bangun tidur bakalan linglung. Contohnya saja setelah satu bulan menikah dulu, Daniar malah berteriak padanya. Sambil terbirit-birit lari keluar dari kamar.

"Ran.. kok kamu ada disini? AKU NGAPA-NGAPAIN KAMU YA? KOK INI ADA DISINI. ITU APA? EH TAPI INI DIMANA?"

"Suamiku tersayang, BISA GAK SIH LO SADAR?" nada bicara Rania meninggi diakhir kalimatnya. Ia menyebar senyum jengkel, "Kita udah nikah sebulan yang lalu!"

Rania tertawa mengingatnya. Dia berjalan menghampiri Daniar.

"Selamat pagi, bestie."

Daniar tersenyum, ia menyubit hidung istrinya itu gemas. "Besta besti kaya ke temen aja."

"Lah? Aku kan emang temen kamu?" kata Rania. Ia memasang tampang pura-pura bingung.

"Udah ya, jangan ngungkit-ngungkit masa lalu." balas Daniar.

"Atau cuma temen sekelompok?" Rania malah makin gencar mengisengi suaminya. "Ih beneran deh, Mas. Aku mau nanya. Waktu itu kamu beneran cuma nganggep aku temen sekelompok doang?" membahas hal itu, Rania jadi ingat satu hal yang belum ia tanyakan sejak lama.

Daniar terlihat menimbang-nimbang untuk menjawab atau tidak. "Hm menurut kamu ya atau tidak?"

Rania melotot. Ia memukul lengan Daniar keras, "Jawab aja napa sih?"

Daniar memegang lengannya, sedikit meringis. Masalahnya pukulan Rania dari zaman SMP masih sama kerasnya.

"Dulu iya, hubungan kita emang gak sepenting itu kan. Cuma selintas dan gak jelas." jawab Daniar. Ia menatap Rania yang juga menatapnya. Tapi dengan raut wajah kecewa.

"Jahat!" Murka Rania. "Berarti yang dibilang Ragas selama ini bener?"

"Ya begitu." Daniar tersenyum masam. Merasa menyesal telah berkata jujur. "Tapi kan, Ma. Itu dulu. Sekarang kan statusnya udah jelas, dan aku milik kamu."

Pipi Rania bersemu merah. Sudah tujuh belas tahun bersama tapi masih baper gara-gara omongan Daniar yang kaya gini. Maklum, anaknya baperan soalnya. Dari sejak sekolah malahan. Liat Daniar lagi nulis, baper. Liat Daniar lagi makan, baper. Terus aja baper sampai mampus.

Three or NothingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang