Agas keluar dari kamarnya. Dengan rambut yang semrawut dan wajah bantalnya ia turun. Oh jangan lupakan celana kolor Doraemon kebanggaannya dan kaos oblong abu-abu kesayangannya itu membungkus tubuhnya. Pukul sebelas siang ini dia baru bangun, setelah pagi tadi ia kembali tidur seusai menunaikan ibadah shubuh.
Tentu saja hari ini adalah hari Minggu. Rencananya, dia akan menghabiskan waktu bersama dua sahabatnya hari ini.
Agas sampai dimeja makan, dimana semua masakan makan siang sudah tersaji diatasnya. Tumben sekali, pikirnya. Sebab, sang bunda tidak pernah sekalipun memasak di hari libur ini. Sebagai suami yang amat perhatian, Ragas meliburkan segala pekerjaan rumah Nana dihari libur. Istirahat, katanya.
"Bunda masak?" tanya Agas begitu sosok yang sudah bertahun-tahun ia sebut 'Bunda' itu muncul, sambil membawa sajian terakhir dan menaruhnya di meja makan.
"Iya, Bunda masak. Adek lagi pengen banget dimasakin Bunda." kata Nana.
Agas menaikan sebelah alisnya lalu mengangguk. Sambil sedikit agak canggung, dia menarik kursi dan duduk.
Sudah beberapa Minggu sejak kejadian didalam mobil waktu itu. Agas tahu Nana mendengar semua perkataan menyakitkan yang terlontar darinya. Agas belum meminta maaf kepada Nana, ia bingung harus mengatakan apa.
"Bunda," panggil Agas.
Nana yang sedang sibuk menata kembali makanan dimeja makan tertegun. Ia lantas segera menatap Agas.
"Iya, sayang?"
Agas menipiskan bibirnya. Ia ragu, tapi sudah terlanjur bilang. "Kakak mau minta maaf,"
Nana tersenyum. Terlihat begitu meneduhkan. Berhasil membuat hati Agas menghangat. Rasanya sudah lama sekali, ia melihat senyuman semanis itu.
"Enggak apa-apa kok, Bunda ngerti. Kakak pasti butuh waktu, ya?"
Agas mengangguk. "Maaf ya, Bunda. Kakak seharusnya gak boleh ngomong kaya gitu."
Nana mengangguk, "Iya, Bunda ngerti kok."
Tentu saja Nana mengerti. Nana juga merupakan orang yang sulit menerima orang baru. Bahkan tanpa Agas ketahui, dulu sekali, Nana bahkan pernah meminta Ragas untuk memulangkan Agas ke panti asuhan. Nana merasa terus hidup dibayang-bayangi sosok istri Ragas yang terdahulu. Jelas saja, itu membuatnya tidak nyaman.
"Kakak, boleh peluk Bunda?"
Nana terlihat agak ragu, membuat Agas dengan cepat meralat ucapannya.
"Eh kalau gak---"
Nana langsung menyerbu Agas dengan pelukan hangat. Dan mengucapkan beribu kata maaf didalam hatinya. Nana jadi sedikit merasa, bersalah.
Anak yang ingin ia buang dahulu tumbuh menjadi anak yang begitu kuat.
Diam-diam Agas menahan air matanya. Agas merasa harus segera menghapus rasa kesalnya pada wanita ini. Wanita yang dengan berbaik hati merawatnya sedari kecil.
"Terimakasih banyak, Bunda."
•333•
Menjelang sore, saat matahari mulai tenggelam, Aruna sedang sibuk-sibuknya menjamu Agatha dan Agas. Yang entah mengapa, hari ini terasa begitu menyebalkan. Apa-apa minta diambilkan, padahal biasanya sering mengambil sendiri.
Rania dan Daniar kebetulan sedang pergi ke acara rekan kerjanya Daniar yang diselenggarakan di kota sebelah. Jadi mereka memilih rumah Aruna yang kosong, agar bebas berteriak ataupun tertawa sekeras mungkin.
"Na! Kacangnya abis ih, gak enak tau nonton film gak ada kacangnya!" Protes Agas saat Aruna baru saja mendudukkan pantatnya diatas sofa di ruang keluarganya.
Aruna melotot, "Kalian pada kenapa sih? Biasanya juga anteng ambil sendiri! Bawa sendiri aja sana! Gue bukan babu ya!" semprot Aruna.
Agas nyengir, "Wah kalau udah bisa marah-marah mah berarti udah sembuh dong!" katanya.
Aruna memutar bola matanya malas, "Dari kemarin-kemarin juga gue udah sembuh kok!"
Agatha berdecak, "Udahlah Na, ambilin aja napa sih?" katanya karena kesal dia jadi tidak fokus menonton.
Aruna makin emosi. "Wah enak aja ya! Keluar aja sono ke berdua! Keluar dari rumah gue heh!" seru Aruna sudah tidak tahan.
Karena berada dalam mood yang buruk, Agatha langsung menimpali. "Oke! Kalau itu yang elo mau, gue pulang!"
"Eh?"
Aruna terkejut begitu melihat Agatha yang langsung merealisasikan perkataannya. Aruna tatap Agas yang terlihat ikut panik.
"Ih gara-gara Lo sih, Na! Masa gue suruh ambilin kacang aja Lo gak mau sih!" Agas memberengut. "Kan jadi gini, siapa yang mau disalahin coba?"
Aruna benar-benar marah. Mendengar Agas yang marah seperti itu dan Agatha yang sudah pergi. Mata Aruna mulai berkaca-kaca. "Gue aja terus yang disalahin! Gak introspeksi diri banget sih Lo, Gas!"
"Lah Lo juga!" seru Agas menantang. "Bukannya menjamu tamu dengan baik, malah dimarahin. Ata jadi pulang kan!"
Agas meraih jaket dan kunci motornya. Langkahnya penuh dengan amarah. Meninggalkan Aruna yang sedang menahan tangisnya karena terus-menerus dibentak oleh Agas.
Setiap langkah Agas terasa begitu memberatkan bagi Aruna. Kenapa jadi seperti ini?
Seperkian detik, Aruna bisa mendengar derung motor Agas yang perlahan menjauh. Meninggalkan pekarangan rumah Aruna yang sepi.
Aruna menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia mulai menangis, kejadian singkat yang membuat seluruh keceriaannya hari ini direnggut.
Ditinggalkan sendirian, suara tangisan Aruna terdengar begitu menyayat hati.
Tangisan Aruna makin kencang saat lampu-lampu dirumahnya padam secara serentak. Aruna membuka mata dan langsung di suguhi gelap. Aruna sangat tidak suka dengan kegelapan. Ia berakhir menangis kembali dengan kencang. Segala bayangan menakutkan langsung muncul dibenaknya.
"Mama!" jerit Aruna memanggil-manggil Rania.
Kaki Aruna dihentak-hentakan ke lantai. Persis seperti anak kecil yang terus menangis karena tidak dibelikan permen.
"Papa! Runa takut!" jerit Runa lagi.
Namun nihil, hanya suara tangisannya sendiri yang menjawab.
Rumah Aruna benar-benar kosong.
Aruna memandangi sekitar, takut-takut sesuatu dibenaknya muncul.
Aruna masih menangis. Ia kemudian memberanikan diri untuk berlari keluar. Mungkin, di luar lebih aman untuknya. Ia berfikir untuk menunggu Ayah dan Ibunya pulang.
Tapi baru tiga langkah bergerak dari tempatnya berdiri, Aruna malah terjatuh. Tersandung sesuatu yang tidak ia lihat.
Aruna buru-buru berdiri dan melanjutkan langkahnya. Tapi begitu ia berdiri,
ctak
"HAPPY BIRTHDAY RUNAAAAA!!"
•To be continued•
KAMU SEDANG MEMBACA
Three or Nothing
Teen FictionSemua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada. Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
