Ketiga sahabat ini keluar dari ruang kepala sekolah dengan lesu. Dua jam dihabiskan untuk terus berdebat dengan kepala sekolah antara bersalah atau tidaknya dan berakhir diberi hukuman untuk masalah lainnya.
Ya, hukuman. Padahal besok sudah hari libur, tapi mereka masih memberlakukan hukuman. Untung saja Papi datang, dia sedikit meringankan hukuman untuk mereka.
Dan untuk masalah Agatha, pihak sekolah akan melakukan penyelidikan dan membuat pengumuman segera. Apakah Agatha bersalah atau itu hanya rumor semata.
Mereka bertiga dihukum karena dianggap sekongkol menyakiti siswa lain di sekitar sekolah. Dan hukumannya adalah tidak mendapatkan jatah makan siang selama satu bulan di sekolah.
"Padahal masakan kantin Mpo Nilam itu enak banget, sayang banget gue gak bakalan makan itu selama sebulan." keluh Aruna sambil mengusap-usap perutnya.
Agas mengangguk setuju. "Gue paling suka sama menu makan siang hari Jum'at. Udah balik Jum'atan dikasih daging sama es lemon. Bukan kaleng-kaleng!"
Agatha tertawa kecil. "Maaf ya, biar gue ganti aja makanannya. Tiap hari gue bakalan bawa tiga bekel makan siang buat kita bertiga." katanya. Dia sedikit merasa bersalah, karena dirinya mereka bertiga jadi tidak bisa makan siang di kantin. Dia tau kok, Agas tadi tidak bisa menahan amarahnya dan langsung memukul orang itu karena menjelekkannya.
Aruna mengacungkan jempolnya. Sambil mengedipkan matanya sebelah. "Bagus! Yang enak ya, jangan PHP!" seru Aruna sambil sedikit menyindir.
Agas memutar bola matanya malas, "Nyindir gue ya Lo?" kata Agas. Sedikit tersindir, karena ingat jika dirinya selalu menjanjikan membawa masakannya ke sekolah dan tidak pernah diwujudkan sama sekali.
Aruna menggelengkan kepalanya, "Buat yang kesindir aja, kok!"
Agas tersenyum jengkel lalu mendorong kepala Aruna kesal. "Alay!"
"Agas," tegur Arya.
Oh iya. Mereka bertiga lupa dengan keberadaan Papi yang berjarak dua langkah dibelakang mereka.
Aruna langsung berbalik dan memeluk Arya. Hendak mengadu, dengan memasang tampang melas. "Runa dipukul Agas, Pi. Sakit huhu," adunya.
Arya tersenyum lalu mengusap rambut Aruna gemas. Agatha dan Agas mendelik. Lalu dengan sengaja menarik Arya menjauh dari jangkauan Aruna.
Keempatnya berlarian di tengah koridor yang sepi. Menebar tawa dan teriakan kesal Aruna yang ditinggal dipaling belakang. Arya hanya pasrah ditarik kedua anaknya menjauh dari Aruna itu.
*333*
Sebelum pulang, Agas mengeluh lapar. Dia merasa lapar karena tenaganya dikuras untuk menghabisi laki-laki menyebalkan tadi. Ditambah diinterogasi berjam-jam oleh guru-guru menyebalkan juga karena tidak peka sekali. Tidak menyediakan air ataupun cemilan sama sekali.
Mereka berempat akhirnya mampir ke mall. Sekalian jalan-jalan, mumpung besok sudah libur panjang.
Arya mengajak mereka makan disalah satu restoran cepat saji.
Satu persatu dari mereka memesan lalu duduk di kursi yang kosong.
"Udah semester dua, nih. Udah kepikiran mau lanjut kemana?" celetuk Arya. Dia mengangkat kedua alisnya bertanya sambil menatap ketiga anaknya.
Agas berpikir sejenak, "Hmmm kalau gak lanjut kuliah, gak papa, Pi?"
Arya merenyit, "Loh kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Three or Nothing
Novela JuvenilSemua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada. Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
