"Beasiswa? Ke Kanada?"
Agatha mengangguk-angguk membenarkan. Ia raih segelas air mineral dan meneguknya setelah memasukan obat pereda sakit kepala kedalam mulutnya.
"Lo terima gak?"
Agatha menjawab, "Gue mau minta saran Mami sama Papi dulu. Kalau dibolehin, ya gue mau. Kesempatan gak dateng dua kali kan."
Agas dan Aruna mengangguk menyetujui.
"Dicoba aja dulu, urusan lolos seleksi atau enggaknya itumah masalah belakangan, Ta." ujar Agas.
"Itu tuh Lo berdua apa sendiri doang?" Aruna bertanya. "Berdua. Pak Ilham ngerekomendasiin gue sama Kalingga. Karena menurutnya, grafik kami stabil. Jadi bisa lah," Agatha menjelaskan.
"Tapi gue agak ragu dikit sih, hehe."
Aruna berdecak, "Ngapain ragu? Udah pasti dibolehin kok! Karena menurut pandangan gue ya, Mami sama Papi itu tipe orang tua yang selalu terbuka, Ta."
"Setuju!" seru Agas. "Bisa nerima saran, bisa diajak komunikasi dengan baik. Pokoknya the best lah. Ini kesempatan Lo! Bukannya dari dulu juga Lo kepengen kuliah di luar negeri?"
Benar sekali. Sejak dulu, Agatha mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tidak ada alasan khusus, ia hanya, ingin bergerak dari zona nyamannya.
Tetapi karena ketakutannya lebih dominan, Agatha tidak berani membicarakan hal tersebut dengan kedua orang tuanya. Agatha hanya membicarakannya dengan Agas dan Aruna.
"Nanti gue coba, deh. Ngobrol." ujar Agatha, yang walaupun masih ragu dengan niatnya ini.
Ketiganya lalu kembali diam. Fokus menonton siaran televisi di kamar Agatha. Yang menampilkan tayangan kartun bocah kembar botak itu.
"Besok sekolah gak?"
"Sekolah dong."
Kening Aruna berkerut, "Ih tapi kan Lo belum sehat bener?"
"Besok ada pengumuman siswa eligible, Na. Kalau Lo lupa."
"IH IYA LUPA!" Aruna berseru keras. Yaampun, bisa-bisanya dia melupakan hal penting ini!
"Lo inget gak, Gas?" tanya Agatha karena reaksi laki-laki itu terlihat biasa saja.
"Enggak."
"Loh terus?"
"Kenapa? Orang gue pasti masuk daftar kok!"
Agatha tersenyum, ia suka kepercayaan diri Agas itu. Ia kemudian tatap Aruna yang diserang gelisah. Sepertinya sahabatnya itu cemas jika tidak termasuk kedalam daftar.
"Pasti masuk kok, Na!" hibur Agatha.
Aruna tatap Agatha, lantas tersenyum tipis. "Iya kan, Ta?"
Agatha mengangguk, "Iya."
•333•
Namun, pagi itu..
"Aruna!"
Teriakan Agas menggelegar disepanjang koridor kelas dua belas yang kosong. Semua murid sedang berada di auditorium. Ia mengejar Aruna yang berlari menjauh darinya.
Agatha ada dibelakangnya.
Tinggal beberapa langkah lagi hingga Agas meraih tangan Aruna dan menahannya.
"Apa-apaan sih Lo? Gak termasuk siswa eligible bukan berarti hidup Lo berakhir, Na!" bentak Agas emosi.
Dengan sisa-sisa tangisnya, Aruna menatap kedua mata Agas tajam. "Gak usah ngomong kaya gitu yang seolah-olah Lo ada di posisi gue deh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Three or Nothing
أدب المراهقينSemua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada. Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
