Sayup-sayup terdengar suara ribut dari luar. Agas menggeliat dalam tidurnya. Matanya mulai terbuka perlahan karena seseorang menyibak gorden membuat cahaya matahari langsung menerpa wajahnya.
"Udah jam berapa ini, Gas? Ckckck."
"Berisik ah, Ta!"
"Heh! Menurut peraturan nomor sekian, semua penghuni di rumah ini wajib bangun sebelum adzan shubuh!" seru Agatha tegas.
"Coba nomor sekian tuh nomor berapa?" gumam Agas malah mengajukan pertanyaan.
"Ya gatau gue, lupa. Saking banyaknya peraturan yang dibuat Papi." jawab Agatha santai. "Cepetan ih, itu udah ada yang nungguin Lo di ruang tamu." sambung Agatha.
"Kalau inisialnya R sama N gamau ah." dengus Agas kesal.
Agatha melotot lantas langsung melemparkan bantal ke wajahnya. "Durhaka Lo sama orang tua sendiri!"
Agas tidak menanggapi. Dia kembali menutup matanya, mencoba untuk tidur kembali.
Agatha menghela napas, "Nyesel Lo kalau gak turun, Gas."
"Kenapa? Emangnya kalau turun gue bakalan dapet apaan? Duit? Atau kasih sayang?"
"Bakalan dapet cewek yang Lo suka."
Agas diam sebentar, mencerna perkataan yang lolos dari mulut Agatha. Matanya melotot terkejut, "Wait, what? Jangan bilang Nadiva kesini?"
"Emangnya siapa lagi kalau bukan dia?"
"Lo?"
"Hah?"
Agatha diam beberapa detik sebelum akhirnya mengambil satu bantal lainnya dan melemparkannya ke arah Agas. "Gak usah becanda! Cepetan mandi atau gue ajak Nadiva pergi ya!"
Agas tergelak, "Iya-iya, gue mau mandi dulu. Bilangin Nadiva buat tunggu bentar ya, calon suami masa depannya mau bersih-bersih badan dulu biar wangi." katanya sambil berjalan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Meninggalkan Agatha yang bergidik ngeri melihat kepercayaan diri Agas yang ketinggian itu.
Tak memikirkan apa yang dikatakan Agas sebelumnya, Agatha segera turun dan berjalan menghampiri Nadiva, Aruna serta Maminya yang sedang berbincang ria.
"Gimana, udah bangun?" tanya Luna sambil mempersilahkan putri tersayangnya itu duduk disebelahnya.
"Makasih Mami," ujar Agatha sambil tersenyum. Kemudian dia menjawab, "Baru mandi dia, awalnya ga percaya kalau Nadiva kesini."
"Dia pasti ngiranya Ayah sama Bunda ya?" tanya Aruna yang sedang asik mencicipi keripik pisang buatan Luna.
Agatha mengangguk membenarkan.
"Agas lagi marahan sama orang tuanya lagi ya?"
"Iya, Nad." jawab Agatha. "Kebiasaan, kalau pulang dari Jogja pasti ribut mulu ini anak satu sama keluarganya. Dan berakhir deh dia disini, menuhin kamar tamu."
"Eh kamu enggak ikhlas dia nginep disini, Ta?"
Aruna langsung menjawab, "Ya begitulah, Nad. Gue juga enggak ikhlas kalau dia kelamaan nginep disini. Ntar bisa-bisa dia abisin semua cemilan yang ada disini dan jadi kesayangan Mami sama Papi."
Nadiva cekikikan sambil mengangguk mengerti.
Para gadis dan seorang ibu tersebut berbincang ria sampai tak sadar jika laki-laki yang ditunggu sedari tadi sudah turun. Semerbak wangi parfum milik Arya langsung tercium oleh penciuman si pemilik parfum yang sedang berada jauh dari rumah. Arya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Wah kayaknya ada yang pake parfum gue lagi inimah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Three or Nothing
Teen FictionSemua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada. Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
